Berita Peristiwa

Mahasiswa Medan Kembali Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Tunjangan DPR

316
×

Mahasiswa Medan Kembali Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Tunjangan DPR

Sebarkan artikel ini

Medan, SniperNew.id - Suasana di depan kan­tor DPRD Sumat­era Utara, Kota Medan, kem­bali dipenuhi lau­tan maha­siswa yang bersatu menyuarakan kere­sa­han mere­ka. Aksi unjuk rasa dari berba­gai alian­si maha­siswa kali ini men­ja­di sorotan pub­lik, kare­na meno­lak ren­cana kenaikan tun­jan­gan fan­tastis DPR yang dini­lai jauh dari kon­disi real­i­tas raky­at saat ini, Rabu 27 Agus­tus 2025.

Sejak pagi, mas­sa maha­siswa telah mema­dati hala­man depan kan­tor DPRD Sumut. Den­gan atribut ben­dera organ­isasi, span­duk bertuliskan tun­tu­tan, hing­ga pengeras suara, para maha­siswa berorasi lan­tang menyam­paikan peno­lakan mere­ka.

Tulisan pada salah satu span­duk besar yang diben­tangkan jelas menyi­ratkan kemara­han pub­lik: “Raky­at Kian Ter­cekik, DPR Malah Asik Naikkan Tun­jan­gan!” Seru­an itu seo­lah mewak­ili isi hati masyarakat kecil yang kian sulit meng­hadapi kenaikan har­ga kebu­tuhan pokok, tarif listrik, hing­ga biaya pen­didikan, semen­tara wak­il raky­at jus­tru men­ga­jukan tam­ba­han fasil­i­tas bagi diri mere­ka sendiri.

Suara orasi maha­siswa berge­ma di udara Kota Medan, memec­ah kera­ma­ian lalu lin­tas di sek­i­tar gedung DPRD. Para maha­siswa bert­e­ri­ak bersama-sama:
“Tolak kenaikan tun­jan­gan DPR! Hidup maha­siswa! Hidup raky­at Indone­sia!”

Mas­sa aksi tak hanya ter­diri dari satu uni­ver­si­tas, melainkan alian­si lin­tas kam­pus di Sumat­era Utara. Mere­ka bersatu padu, menang­galkan iden­ti­tas organ­isasi demi satu tujuan: meno­lak kebi­jakan yang diang­gap tak berpi­hak pada raky­at.

Salah satu maha­siswa yang bertin­dak seba­gai ora­tor mene­gaskan bah­wa langkah DPR untuk menaikkan tun­jan­gan di ten­gah situ­asi ekono­mi raky­at yang masih penuh tan­ta­n­gan adalah ben­tuk pengkhi­anatan ter­hadap amanah.

  Petugas Hansip Tewas Ditembak Saat Gagalkan Aksi Pencurian di Cakung

“Raky­at masih susah men­cari makan, semen­tara wak­il raky­at sibuk men­cari kenya­manan. Ini ironi yang harus kita lawan,” ujarnya lan­tang.

Aksi berlang­sung tepat di depan kan­tor DPRD Sumat­era Utara yang megah, bercat putih den­gan orna­men khas Timur Ten­gah pada fasad­nya. Gedung itu berdiri kokoh di jan­tung Kota Medan, men­ja­di sim­bol kekuasaan leg­is­latif daer­ah.

Namun hari ini, kemega­han gedung itu berubah men­ja­di pang­gung protes. Dari luar pagar ting­gi, mas­sa maha­siswa terus melan­car­kan teri­akan dan desakan. Sejum­lah aparat kea­manan tam­pak ber­ja­ga, men­co­ba men­gen­da­likan situ­asi agar aksi tetap ber­jalan tert­ib.

Papan besar bertuliskan “80 Tahun Indone­sia Merde­ka, Bersatu Berdaulat Raky­at Sejahtera Indone­sia Maju” tam­pak ter­pam­pang di dind­ing depan gedung. Iro­nis­nya, slo­gan itu jus­tru kon­tras den­gan tun­tu­tan maha­siswa yang meni­lai kese­jahter­aan raky­at masih jauh dari hara­pan.

Gelom­bang unjuk rasa ini tidak muncul tan­pa sebab. Dalam beber­a­pa bulan ter­akhir, masyarakat dihadap­kan pada kon­disi ekono­mi yang berat: har­ga beras mel­on­jak, ongkos trans­portasi naik, dan biaya kese­hatan semakin mahal.

Bagi maha­siswa, situ­asi ini men­ja­di buk­ti nya­ta bah­wa raky­at sedang kesuli­tan. Oleh kare­na itu, kepu­tu­san DPR yang jus­tru beren­cana menam­bah tun­jan­gan dipan­dang seba­gai kebi­jakan yang tidak memi­li­ki empati.

“Kalau wak­il raky­at benar-benar memikirkan nasib bangsa, seharus­nya mere­ka mem­pri­or­i­taskan pro­gram yang menyen­tuh kebu­tuhan dasar raky­at, bukan menam­bah fasil­i­tas prib­a­di,” teri­ak salah seo­rang koor­di­na­tor aksi melalui pengeras suara.

Tidak hanya di jalanan, aksi ini juga ramai diperbin­cangkan di media sosial. Tagar #Tolak­Tun­jan­ganD­PR sem­pat men­ja­di tren di kalan­gan maha­siswa dan masyarakat sip­il.

  Kecelakaan di Jalur Pantura Widasari Picu Kemacetan Parah Arah Jakarta

Akun-akun media lokal seper­ti taufiqmedia.id turut mem­bagikan momen aksi den­gan narasi yang jelas: “Maha­siswa dari berba­gai alian­si kem­bali mengge­lar aksi unjuk rasa di kan­tor DPRD Sumat­era Utara, di Kota Medan meno­lak kenaikan tun­jan­gan fan­tastis DPR. (27 Agus­tus 2025).”

Postin­gan itu memicu ratu­san komen­tar war­ganet yang may­ori­tas men­dukung langkah maha­siswa. Banyak yang merasa suara mere­ka akhirnya ter­wak­ili lewat aksi turun ke jalan.

Dalam aksinya, maha­siswa menyam­paikan beber­a­pa tun­tu­tan uta­ma:

1. Meno­lak keras kenaikan tun­jan­gan DPR yang diang­gap tidak masuk akal.

2. Mem­inta DPR lebih fokus pada kebi­jakan pro-raky­at, khusus­nya di bidang ekono­mi, pen­didikan, dan kese­hatan.

3. Menun­tut transparan­si anggaran DPR, agar masyarakat tahu bagaimana uang negara digu­nakan.

4. Mende­sak pemer­in­tah pusat dan daer­ah agar tidak meloloskan kebi­jakan yang hanya men­gun­tungkan elit poli­tik.

Tun­tu­tan ini diba­cakan secara bergant­ian oleh ora­tor, diiku­ti sorakan lan­tang dari mas­sa aksi yang men­ga­cungkan tan­gan ke udara.

Mes­ki mas­sa yang hadir cukup banyak, aksi berlang­sung relatif tert­ib. Para maha­siswa men­ja­ga agar orasi tidak berubah men­ja­di ker­icuhan. Mere­ka mengin­gatkan sesama peser­ta untuk tetap fokus pada tujuan, yakni menyam­paikan aspi­rasi raky­at den­gan cara bermarta­bat.

“Kami datang bukan untuk anarkis. Kami datang untuk menyuarakan kebe­naran,” kata salah satu ora­tor yang men­da­p­at tepuk tan­gan meri­ah dari rekan-rekan­nya.

Aparat kepolisian yang ber­ja­ga juga tam­pak mem­beri ruang pada maha­siswa untuk menyam­paikan aspi­rasi, sem­bari tetap men­gatur lalu lin­tas agar tidak ter­ja­di kemac­etan parah.

Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, pihak DPRD Sumat­era Utara belum mem­berikan tang­ga­pan res­mi terkait aksi unjuk rasa ini. Namun, beber­a­pa anggota DPRD yang dite­mui wartawan sebelum­nya mengk­laim bah­wa wacana kenaikan tun­jan­gan adalah bagian dari penye­sua­ian anggaran rutin.

  Kucing Oren Bertahan Tiga Minggu di Pohon Sawit, Berhasil Dievakuasi Relawan di Aceh Tamiang

Mes­ki demikian, argu­men itu dini­lai tidak rel­e­van oleh maha­siswa. “Penye­sua­ian apa? Raky­at saja menye­suaikan hidup den­gan har­ga yang makin mahal, kena­pa DPR jus­tru menye­suaikan untuk kenya­manan mere­ka?” ujar salah seo­rang peser­ta aksi den­gan nada ger­am.

Maha­siswa ber­jan­ji, aksi ini bukan­lah yang ter­akhir. Jika DPR tetap ngo­tot den­gan ren­cana kenaikan tun­jan­gan, maka gelom­bang unjuk rasa akan semakin besar. Mere­ka bahkan men­gan­cam akan meng­galang keku­atan maha­siswa dari berba­gai daer­ah lain di Sumat­era.

“Kami akan terus turun sam­pai suara raky­at diden­gar. Jan­gan coba-coba mengkhi­a­nati amanah raky­at!” seru seo­rang koor­di­na­tor aksi.

Keja­di­an ini men­ja­di reflek­si pent­ing bagi demokrasi di Indone­sia. Suara maha­siswa kem­bali mem­buk­tikan diri seba­gai pengin­gat bagi wak­il raky­at agar tidak lupa pada jan­ji-jan­ji mere­ka.

Dalam sejarah bangsa, maha­siswa selalu hadir seba­gai motor peruba­han. Dari era 1966, 1998, hing­ga kini, maha­siswa tetap berdiri di garis depan untuk melawan kebi­jakan yang dini­lai tidak berpi­hak pada raky­at.

Di Medan hari ini, seman­gat itu kem­bali menyala. Di balik teri­akan lan­tang dan keringat yang bercu­cu­ran, ter­sim­pan hara­pan besar agar negeri ini bisa lebih adil, sejahtera, dan berpi­hak pada raky­at kecil.

Aksi unjuk rasa maha­siswa di Kota Medan pada 27 Agus­tus 2025 men­ja­di peringatan keras bagi DPR. Raky­at sedang susah, dan kebi­jakan yang tidak sen­si­tif ter­hadap pen­der­i­taan raky­at hanya akan memicu gelom­bang peno­lakan lebih luas.

Dari depan gedung DPRD Sumut, maha­siswa men­gir­im pesan jelas: “Kami akan terus bersuara sam­pai kead­i­lan dite­gakkan!”

Kini, bola ada di tan­gan DPR dan pemer­in­tah: apakah mere­ka akan menden­garkan suara raky­at, atau terus ber­jalan di jalur yang men­jauh dari kepentin­gan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *