Berita Peristiwa

Langit Sumsel Diselimuti Blood Moon: Fenomena Langka Gerhana Bulan Total 7–8 September 2025

258
×

Langit Sumsel Diselimuti Blood Moon: Fenomena Langka Gerhana Bulan Total 7–8 September 2025

Sebarkan artikel ini

Sumat­era Sela­tan, SnipeNew.id – War­ga di berba­gai daer­ah, khusus­nya di Sumat­era Sela­tan, berke­sem­patan menyak­sikan fenom­e­na alam yang lang­ka dan memukau pada Ming­gu malam, 7 Sep­tem­ber 2025 hing­ga Senin dini hari, 8 Sep­tem­ber 2025.

Badan Mete­o­rolo­gi, Kli­ma­tolo­gi, dan Geofisi­ka (BMKG) Sum­sel meng­in­for­masikan bah­wa masyarakat bisa menga­mati Ger­hana Bulan Total atau yang lebih pop­uler dike­nal seba­gai Blood Moon.

Fenom­e­na ini berlang­sung keti­ka Bulan sepenuh­nya masuk ke dalam bayan­gan inti (umbra) Bumi. Saat itu, cahaya Mata­hari tidak dap­at lang­sung men­ge­nai per­mukaan Bulan. Namun, seba­gian cahaya Mata­hari yang dib­i­askan oleh atmos­fer Bumi masih lolos. Cahaya ini ter­fil­ter oleh par­tikel atmos­fer sehing­ga hanya meny­isakan war­na mer­ah hing­ga oranye. Hasil­nya, Bulan tam­pak berubah war­na men­ja­di mer­ah drama­tis di lan­git malam.

BMKG men­je­laskan, “Cahaya Mata­hari yang dib­i­askan atmos­fer hanya meny­isakan war­na mer­ah-oranye, sehing­ga Bulan tam­pak memer­ah drama­tis di lan­git malam.” Kare­na itu­lah, fenom­e­na ini dise­but Blood Moon.

Ger­hana Bulan Total kali ini berlang­sung mulai Ming­gu malam, 7 Sep­tem­ber 2025, dan berlan­jut hing­ga dini hari Senin, 8 Sep­tem­ber 2025. Pun­cak fenom­e­na dap­at dis­ak­sikan sek­i­tar ten­gah malam hing­ga men­je­lang sub­uh.

  Bus Damri Tabrak Pohon di Depan KFC Setiabudi, Diduga Rem Blong-Tak Ada Korban Jiwa

BMKG Sum­sel men­catat, selu­ruh wilayah Sumat­era Sela­tan berpoten­si menyak­sikan fenom­e­na ini den­gan jelas apa­bi­la kon­disi lan­git cer­ah tan­pa ter­tut­up awan.

Menu­rut infor­masi res­mi, ger­hana ini dap­at dia­mati di berba­gai daer­ah di Indone­sia, salah sat­un­ya di selu­ruh wilayah Sumat­era Sela­tan. Tidak diper­lukan alat khusus untuk meli­hat­nya, kare­na ger­hana bulan dap­at dia­mati lang­sung den­gan mata telan­jang tan­pa bahaya ter­hadap kese­hatan mata.

Namun, bagi masyarakat yang ingin meli­hat lebih detail, teleskop atau kam­era den­gan lensa khusus bisa digu­nakan untuk merekam momen lang­ka terse­but.

Infor­masi ini dis­am­paikan oleh BMKG Sum­sel dan diku­tip dari ung­ga­han akun media sosial infokbb_id. Ung­ga­han itu dilengkapi den­gan dua poster grafis yang mene­gaskan jad­w­al dan lokasi penga­matan:

1. Poster per­ta­ma: Menampilkan ilus­trasi NASA ten­tang Total Eclipse of The Moon.
Teks pada poster:
“Ger­hana Bulan Total (Blood Moon) 7–8 Sep­tem­ber 2025 Ter­li­hat di Selu­ruh Sumat­era Sela­tan.”

2. Poster ked­ua: Menun­jukkan cit­ra visu­al Bulan berwar­na mer­ah.
Teks pada poster:
“Penam­pakan Ger­hana Bulan Total yang Ter­li­hat di Sumat­era Sela­tan pada Ming­gu malam, 7 Sep­tem­ber 2025.”

Ung­ga­han terse­but menam­bahkan keteran­gan narasi. “Pada Ming­gu malam, 7 Sep­tem­ber 2025 hing­ga Senin dini hari, 8 Sep­tem­ber 2025, masyarakat dap­at menyak­sikan fenom­e­na Ger­hana Bulan Total atau dike­nal juga seba­gai Blood Moon. Fenom­e­na ini ter­ja­di keti­ka Bulan masuk sepenuh­nya ke dalam bayan­gan inti (umbra) Bumi. Cahaya Mata­hari yang dib­i­askan atmos­fer hanya meny­isakan war­na mer­ah-oranye, sehing­ga Bulan tam­pak memer­ah drama­tis di lan­git malam.”

  JK Geram Tanah 16 Hektare Miliknya Diduga Dirampas Mafia Tanah di Makassar

Isti­lah Blood Moon atau Bulan Mer­ah Darah meru­juk pada war­na khas yang muncul saat ger­hana total. War­na terse­but ter­ben­tuk aki­bat pros­es pem­bi­asan cahaya. Atmos­fer Bumi men­yaring cahaya Mata­hari dan mem­biarkan cahaya mer­ah-oranye mele­wati lapisan atmos­fer. Fenom­e­na ini mirip den­gan momen Mata­hari ter­bit dan ter­be­nam, di mana lan­git tam­pak kemer­a­han.

Secara ilmi­ah, Blood Moon bukan per­tan­da buruk atau mitos yang menakutkan. Seba­liknya, ini adalah peri­s­ti­wa alam yang bisa dije­laskan secara fisi­ka optik.

Pros­es ger­hana bulan dap­at dije­laskan dalam beber­a­pa tahap:

1. Penum­bral Eclipse (Ger­hana Penum­bra): Bulan mulai masuk ke bayan­gan samar Bumi. Pada tahap ini peruba­han belum begi­tu ter­li­hat den­gan mata telan­jang.

2. Par­tial Eclipse (Ger­hana Seba­gian): Seba­gian Bulan mulai ter­tut­up umbra, ter­li­hat bayan­gan gelap mulai meng­gero­goti per­mukaan Bulan.

3. Total Eclipse (Ger­hana Total): Bulan sepenuh­nya bera­da dalam umbra. Ini­lah pun­cak fenom­e­na Blood Moon keti­ka Bulan tam­pak mer­ah drama­tis.

4. Par­tial Eclipse Ends: Bayan­gan gelap per­la­han mening­galkan Bulan.

5. Penum­bral Eclipse Ends: Bulan kelu­ar sepenuh­nya dari bayan­gan Bumi.

 

Durasi keselu­ruhan fenom­e­na ini bisa berlang­sung beber­a­pa jam, den­gan fase total biasanya sek­i­tar satu jam lebih.

  Mobil Listrik Mogok di Jalan Pitara Depok, Lalu Lintas Sempat Tersendat

Fenom­e­na Blood Moon ker­ap men­ja­di pusat per­ha­t­ian masyarakat. Di era media sosial, banyak war­ga yang menan­tikan momen ini untuk dia­badikan lewat kam­era pon­sel maupun DSLR. Di Sumat­era Sela­tan, komu­ni­tas astrono­mi dan pecin­ta lan­git malam biasanya men­gadakan penga­matan bersama.

Selain itu, peri­s­ti­wa ger­hana ser­ing dihubungkan den­gan tra­disi dan keper­cayaan lokal. Namun BMKG mene­gaskan bah­wa Blood Moon adalah fenom­e­na alam yang aman dis­ak­sikan dan tidak ada kai­tan­nya den­gan hal-hal mist­is.

BMKG mengin­gatkan masyarakat agar tidak mele­watkan kesem­patan lang­ka ini. Ger­hana Bulan Total tidak ter­ja­di seti­ap bulan, melainkan mengiku­ti sik­lus orbit Bumi dan Bulan. Dalam setahun, hanya ada beber­a­pa kesem­patan ger­hana, dan tidak semuanya bisa dis­ak­sikan di Indone­sia.

BMKG juga men­yarankan war­ga untuk mem­per­hatikan kon­disi cua­ca. Jika lan­git men­dung atau hujan, kemu­ngk­i­nan besar penga­matan akan ter­ha­lang. Oleh kare­na itu, masyarakat diim­bau memil­ih lokasi yang ter­bu­ka dan min­im polusi cahaya, seper­ti pedesaan atau per­buk­i­tan.

Dalam dunia sains, ger­hana bulan adalah fenom­e­na yang san­gat bergu­na bagi penelit­ian astrono­mi. Melalui penga­matan ger­hana, para ilmuwan bisa mem­pela­jari atmos­fer Bumi, teruta­ma bagaimana cahaya Mata­hari dib­i­askan.

Semen­tara itu, dalam budaya pop­uler, Blood Moon ser­ing dihubungkan den­gan kisah mitolo­gi, ramalan, hing­ga film fik­si ilmi­ah. Namun masyarakat kini lebih mema­ha­mi sisi ilmi­ah dan esteti­ka dari fenom­e­na terse­but. (Dar/Darma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *