Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Ekonomi

Kontras Anggaran Perayaan dan Kehidupan Veteran, Suara Warganet Soal Keadilan Ekonomi

209
×

Kontras Anggaran Perayaan dan Kehidupan Veteran, Suara Warganet Soal Keadilan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Men­je­lang peringatan Hari Kemerdekaan, sebuah ung­ga­han di media sosial menim­bulkan diskusi hangat di kalan­gan war­ganet. Video yang beredar mem­per­li­hatkan sekelom­pok orang berser­agam coke­lat den­gan topi kun­ing dike­nal seba­gai atribut yang biasa digu­nakan Legiun Vet­er­an Repub­lik Indone­sia (LVRI) ten­gah menikmati san­ta­pan seder­hana beru­pa nasi bungkus di area ter­bu­ka, Sab­tu (16/08/2025).

Ung­ga­han terse­but dipost­ing melalui akun @soe.cal di plat­form Threads, den­gan narasi yang menyen­tuh per­ha­t­ian pub­lik. Dalam keteran­gan­nya, akun terse­but menulis:

“Peman­dan­gan menyedihkan yang satu rom­bon­gan rame-rame pes­ta di istana negara den­gan anggaran Rp 17 mil­iar… semen­tara yang betul-betul pejuang (vet­er­an) pelaku sejarah kemerdekaan RI makan nasi bungkus di makam Kali­ba­ta saat sele­sai berdoa di makam pahlawan saha­bat-saha­bat mere­ka… miris,” tulis­nya, dis­er­tai emo­ji sedih.

Ung­ga­han itu kemu­di­an men­u­ai banyak komen­tar dari war­ganet lain. Sejum­lah peng­gu­na mem­berikan tang­ga­pan kri­tis, ada yang meny­oroti soal logi­ka usia, ada pula yang menekankan pent­ingnya peng­hor­matan negara ter­hadap para vet­er­an.

Seo­rang war­ganet den­gan akun @mappasabbimasdar menuliskan. “Mohon maaf, tidak bermak­sud meren­dahkan para Vet­er­an Pejuang Kemerdekaan RI. Kami hanya men­co­ba men­ganal­isa! Indone­sia di tahun 2025 sudah beru­sia 80 tahun! Wajah-wajah yang dise­but seba­gai Vet­er­an ini ter­li­hat masih usia 60–70 tahun, pal­ing ban­ter usia 80-an. Jadi usia beli­au-beli­au ham­pir seu­mur den­gan Kemerdekaan RI. Apa mungkin usia 0–10 tahun di tahun 1945 sudah bisa berjuang lalu kemu­di­an dise­but seba­gai Vet­er­an Pahlawan Kemerdekaan 45!? Mohon pencer­a­han.”

  WhatsApp: Cara Modern dan Aman untuk Tetap Terhubung di Era Digital

Komen­tar ini memu­nculkan diskusi soal kat­e­gori vet­er­an. Seba­gai catatan, dalam struk­tur LVRI memang ter­da­p­at berba­gai kat­e­gori keang­gotaan, tidak hanya vet­er­an 1945, tetapi juga mere­ka yang per­nah ter­li­bat dalam operasi militer pas­ca-kemerdekaan.

Komen­tar lain datang dari akun @nicholozroberto yang menulis den­gan nada mem­per­tanyakan:

“Pejuang?! Emang mere­ka berjuang pada umur bera­pa?! Logi­ka aja… sekarang usia kemerdekaan RI 80 tahun… Nah kalau mis­alkan mere­ka dulu ben­er­an ikut berjuang usia 20 tahun berar­ti sekarang usia mere­ka 100 tahun…?!?”

Namun, ada pula war­ganet yang meny­oroti soal per­lakuan negara ter­hadap para vet­er­an. Akun @om_kumis_tebal men­gungkap­kan pen­gala­man­nya:

“Gua per­nah kri­tik letak kur­si buat vet­er­an keti­ka hari besar di kan­tor guber­nur provin­si. Soal­nya letak kur­si peja­bat Forkompin­da beser­ta istri mem­be­lakan­gi mata­hari jadi tidak panas, sedan­gkan para kur­si vet­er­an yang sudah sepuh letaknya meng­hadap mata­hari. Sama pro­tokol­er gua dap­at maki, terus gua dap­at ceramah pan­jang dari kepala satk­er. Pada­hal yang berdarah-darah para vet­er­an, sedan­gkan peja­bat yang ‘ter­hor­mat’ jan­gankan berko­r­ban, rugi aja kagak mau mere­ka.”

Semen­tara itu, akun lain, @home_away.x, meny­ing­gung isu korup­si yang diang­gap memen­garuhi kead­i­lan sosial dan ekono­mi:

  “Murahnya Kebangetan! Furniture Mewah Kini Bisa COD di Natar-Bandar Lampung, Cuma dari Diana Furniture!”

“Apa ben­er korup­tor pun­ya mata dan telin­ga… yang ada mere­ka sebe­narnya sudah budek dan tuli sejak dilahirkan. Dan ibun­ya pun juga nye­sel pun­ya anak kok bejat bisa korup­si merugikan raky­at. Tetang­ga, saudara yang men­doakan juga nye­sel dulu wak­tu per­ta­ma kali lahir kok gede-nya sekarang jadi pen­ja­hat atau korup­tor. Tapi yang saya her­an itu kok anak istri-nya tetap bang­ga pun­ya orang tua atau sua­mi yang berbu­at jahat begi­tu. Ga ada guna men­geluh pada pemer­in­ta­han, kare­na yang dimau pemer­in­tah itu.”

Komen­tar lain yang juga menarik per­ha­t­ian datang dari akun @surpraba71:

“Yang dap­at per­lakuan istime­wa malah kuc­ingnya Pres­i­den si Bob­by Ker­tane­gara.”

Komen­tar ini, mes­ki berna­da sindi­ran, mencer­minkan keke­ce­waan seba­gian masyarakat ter­hadap ketim­pan­gan per­ha­t­ian negara.

Ung­ga­han terse­but pada dasarnya mencer­minkan perasaan kon­tras antara besarnya anggaran yang dikelu­arkan negara untuk per­ayaan ser­e­mo­ni­al den­gan kon­disi kese­har­i­an para vet­er­an.

Seba­gaimana dise­butkan dalam ung­ga­han awal, anggaran Rp 17 mil­iar dise­but-sebut digu­nakan untuk per­ayaan di Istana Negara. War­ganet mem­band­ingkan­nya den­gan vet­er­an yang tam­pak menikmati nasi bungkus seder­hana sete­lah berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kali­ba­ta.

Mes­ki infor­masi angka terse­but per­lu diver­i­fikasi lebih lan­jut melalui data res­mi pemer­in­tah, diskusi ini mem­per­li­hatkan kere­sa­han pub­lik terkait alokasi anggaran negara. Dalam kon­teks ekono­mi, per­tanyaan yang menge­mu­ka adalah: seber­a­pa besar negara mem­berikan peng­har­gaan finan­sial dan dukun­gan kese­jahter­aan kepa­da para vet­er­an, diband­ingkan den­gan belan­ja ser­e­mo­ni­al?

  Ai Browser: Peramban Web Aman dan Super Cepat untuk Pengalaman Menjelajah Terbaik

Fak­ta bah­wa ung­ga­han ini viral menun­jukkan masih adanya sen­si­tiv­i­tas masyarakat ter­hadap isu kead­i­lan ekono­mi, teruta­ma bagi kelom­pok yang diang­gap ber­jasa bagi bangsa.

Pemer­in­tah Indone­sia sendiri melalui Kementer­ian Sosial dan Kementer­ian Per­ta­hanan memi­li­ki pro­gram untuk mem­berikan tun­jan­gan kepa­da para vet­er­an. Namun, perde­batan war­ganet meny­oroti aspek lain: rasa peng­hor­matan yang tidak hanya beru­pa uang, melainkan juga per­lakuan yang layak dalam kegiatan kene­garaan.

Dari ratu­san komen­tar yang masuk di ung­ga­han Threads terse­but, seba­gian besar berna­da kri­tik dan kepri­hati­nan. Ada yang menekankan soal logi­ka usia vet­er­an, ada yang meny­oroti aspek anggaran, ada pula yang mem­per­lu­as isu hing­ga ke per­soalan korup­si dan per­i­laku peja­bat negara.

Ter­lepas dari perbe­daan pan­dan­gan, fenom­e­na ini mem­per­li­hatkan beta­pa erat kai­tan­nya antara isu ekono­mi, peng­har­gaan ter­hadap jasa vet­er­an, dan persep­si pub­lik ter­hadap pri­or­i­tas anggaran negara.

Video dan komen­tar yang viral di Threads ini pada akhirnya men­ja­di reflek­si ten­tang bagaimana pub­lik meli­hat pri­or­i­tas anggaran negara ser­ta peng­hor­matan kepa­da vet­er­an. Diskusi yang muncul menun­jukkan bah­wa per­soalan ekono­mi tidak hanya dil­i­hat dari angka-angka belan­ja negara, tetapi juga dari rasa kead­i­lan sosial yang dirasakan masyarakat.

Vet­er­an, baik yang berjuang pada masa kemerdekaan maupun yang ter­li­bat dalam operasi militer sete­lah­nya, teta­plah bagian pent­ing dari sejarah bangsa. Bagaimana negara mem­per­lakukan mere­ka di masa kini akan selalu men­ja­di cer­min komit­men ter­hadap nilai-nilai kemerdekaan yang per­nah diper­juangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *