Gaza, Lampung – Sebuah unggahan di platform media sosial Threads milik akun terverifikasi Oktawirawan pada Sabtu (13/9/2025) menjadi sorotan publik. Dalam unggahan itu, ia menuliskan doa penuh haru untuk anak-anak di Gaza yang menjadi korban konflik dan kelaparan, sembari menyertakan potongan video suasana sebuah kafe yang ramai dengan orang-orang duduk santai menikmati waktu.
Tulisan dan video tersebut menjadi bahan perenungan warganet, terutama soal kontras antara kehidupan yang tenang di satu sisi dunia dan penderitaan anak-anak Gaza di sisi lain.
Dalam unggahannya yang berdurasi 8 menit setelah dipublikasikan, Oktawirawan menulis. “Ya Allah… ampuni kelalaian kami, ampuni dosa-dosa kami yang membiarkan saudara-saudara kecil kami mati kelaparan. Jangan biarkan hati kami keras, jangan biarkan mata kami kering dari air mata, dan jadikan kami bagian dari orang yang Engkau pilih untuk menolong mereka.
Semoga Allah merahmati anak-anak Gaza, dan semoga pertemuan kita dengan mereka adalah di Surga-Nya, dalam keadaan tersenyum bahagia.”*
Tulisan itu dilengkapi sebuah video singkat. Dalam video, tampak suasana sebuah kafe terbuka dengan banyak orang duduk menikmati makanan dan minuman. Beberapa orang terlihat bercengkerama, ada pula yang sibuk dengan ponselnya. Kontras inilah yang dianggap banyak warganet sebagai pengingat bahwa di tengah kehidupan yang berjalan normal di sebagian belahan dunia, ada penderitaan luar biasa di Gaza.
Oktawirawan adalah seorang figur publik yang aktif di media sosial. Ia dikenal sering membagikan pesan-pesan moral, religius, serta refleksi sosial. Dengan akun terverifikasi, setiap unggahannya kerap menuai perhatian luas.
Dalam konteks unggahan ini, Oktawirawan tidak hanya menyampaikan doa, melainkan juga sebuah bentuk kritik moral terhadap masyarakat luas agar lebih peduli pada penderitaan sesama manusia.
Unggahan tersebut viral karena menyentuh perasaan banyak orang. Ada beberapa alasan mengapa doa Oktawirawan mendapat perhatian:
1. Konteks Gaza — Konflik berkepanjangan di Gaza menimbulkan korban jiwa, terutama anak-anak. Isu kemanusiaan ini mendapat simpati global.
2. Nada Religius — Doa yang ditulis menyentuh hati, mengajak semua orang merenung tentang kelalaian dalam membantu sesama.
3. Kontras Visual — Video yang menampilkan orang-orang di kafe dengan suasana tenang menjadi ironi ketika dipadukan dengan doa tentang anak-anak yang kelaparan.
4. Pesan Universal – Meski menggunakan pendekatan religius, pesan ini relevan secara universal, yakni soal kepedulian dan kemanusiaan.
Unggahan ini diunggah pada Sabtu (13/9/2025), sekitar pukul 21.20 WIB. Pada saat tangkapan layar dibuat, unggahan baru berusia 8 menit dengan jumlah tayangan mencapai 208 kali. Angka ini terus bertambah seiring dengan penyebaran dan interaksi warganet.
Unggahan ini dipublikasikan di Threads, salah satu media sosial populer yang terhubung dengan Instagram. Threads semakin sering digunakan figur publik untuk menyampaikan pemikiran, refleksi, maupun informasi singkat kepada pengikut mereka.
Video yang disertakan diduga diambil di sebuah kawasan Eropa, terlihat dari tulisan “Guinness” pada tenda kafe serta gaya hidup masyarakatnya. Namun, konteks video lebih difungsikan sebagai simbol kehidupan normal di satu sisi dunia.
Meskipun unggahan ini baru beberapa menit dipublikasikan saat tangkapan layar dibuat, komentar positif mulai bermunculan. Banyak warganet menuliskan balasan doa serupa, ada juga yang membagikan ulang dengan tambahan kalimat refleksi.
Beberapa komentar yang muncul antara lain. “MasyaAllah, semoga doa ini sampai untuk saudara-saudara kita di Gaza.”
“Betul sekali, kadang kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri sampai lupa ada saudara kita yang sedang berjuang untuk hidup.”
“Semoga dunia lebih peduli, bukan hanya diam melihat.”
Respon emosional ini menunjukkan bahwa doa yang sederhana sekalipun dapat memantik kesadaran sosial yang lebih luas.
Unggahan Oktawirawan mengingatkan kembali pada nilai solidaritas kemanusiaan. Dalam perspektif jurnalistik, ada beberapa poin penting yang bisa diambil:
1. Kesadaran Global – Dunia kini semakin terhubung, dan peristiwa di satu tempat bisa langsung dirasakan di tempat lain melalui media sosial.
2. Peran Tokoh Publik — Figur publik memiliki pengaruh besar untuk menyuarakan isu kemanusiaan. Suara mereka bisa menjadi pengingat kolektif.
3. Kekuatan Simbolik — Kontras antara doa dan video kafe menjadi simbol kuat tentang ketidakadilan dan ketidakmerataan kehidupan.
4. Ajakan untuk Bertindak – Pesan ini bukan sekadar doa, tetapi juga ajakan agar masyarakat lebih peduli dan tergerak membantu.
Unggahan Oktawirawan di Threads menjadi salah satu contoh bagaimana media sosial bisa digunakan untuk menyuarakan kepedulian kemanusiaan. Doa yang dipanjatkannya tidak hanya menyoroti penderitaan anak-anak Gaza, tetapi juga mengajak masyarakat global untuk merenung dan tidak melupakan tanggung jawab moral terhadap sesama.
Di era digital, kata-kata yang ditulis dalam hitungan detik bisa menyebar luas dan menggugah hati jutaan orang. Unggahan ini membuktikan bahwa empati masih menjadi kekuatan besar di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Semoga pesan kemanusiaan seperti ini terus bergema, hingga dunia benar-benar menjadi tempat yang lebih peduli, adil, dan penuh kasih. (Ahm/add).













