Berita Peristiwa

Insiden di Pantai Binasi Sorkam: Pengunjung Kecewa Usai Bara Api dan Ikan Bakar Ditendang

507
×

Insiden di Pantai Binasi Sorkam: Pengunjung Kecewa Usai Bara Api dan Ikan Bakar Ditendang

Sebarkan artikel ini

Tapan­uli Ten­gah, SniperNew.id  — Sebuah insi­d­en yang ter­ja­di di Pan­tai Binasi, Keca­matan Sorkam, Kabu­pat­en Tapan­uli Ten­gah, men­dadak viral di media sosial. Video dan foto yang diung­gah akun Face­book Barus Chan­nel mem­per­li­hatkan seo­rang pria paruh baya menen­dang bara api yang digu­nakan pen­gun­jung untuk memang­gang ikan. Peri­s­ti­wa ini son­tak memicu pro dan kon­tra, ser­ta men­u­ai beragam reak­si dari war­ganet, Selasa (19/08/2025)

Dalam ung­ga­han terse­but, ter­tulis keteran­gan bah­wa oknum pria yang dise­but seba­gai “bapak-bapak” men­datan­gi lokasi pen­gun­jung yang sedang memang­gang ikan, lalu menen­dang bara api hing­ga ikan yang sedang dipang­gang rusak dan jatuh. Tidak hanya itu, pria terse­but juga dise­but men­gelu­arkan kata-kata kasar.

“Oknum pelaku sosok seo­rang Bapak yang menen­dang bara api pen­gun­jung. Pada­hal ikan­nya masih dalam keadaan dipang­gang, sam­bil men­gelu­arkan kata-kata kotor. Entah apa yang mera­sukimu, Bapak,” tulis akun Barus Chan­nel dalam keteran­gan ung­ga­han, sem­bari menam­bahkan bah­wa keja­di­an itu berlang­sung di Pan­tai Binasi, Sorkam, Tapan­uli Ten­gah.

Klik Link Video

Gam­bar pang­gang ikan ayam yang lagi dipang­gang oleh pen­gun­jung. Doc. Gam­bar screen­shot pho­to yang diung­gah akun Face­book terse­but.

Ung­ga­han terse­but menye­dot per­ha­t­ian pub­lik. Dalam hitun­gan jam, video sudah men­da­p­at lebih dari 5 ribu tan­da suka, ribuan komen­tar, ser­ta ratu­san kali dibagikan. Seba­gian besar war­ganet melu­ap­kan keke­ce­waan dan kemara­han, kare­na tin­dakan pria terse­but diang­gap merugikan pen­gun­jung yang sedang berlibur bersama kelu­ar­ga.

  Kebakaran Hebat Demak Hari Ini, Gas Melon Meledak

Berdasarkan video yang beredar, tam­pak beber­a­pa ekor ikan yang sudah diber­sihkan dan ditusuk bam­bu sedang dipang­gang di atas bara api. Tiba-tiba, seo­rang pria datang dan menen­dang bara api terse­but hing­ga ikan jatuh ke tanah. Api yang tadinya ter­ja­ga untuk memang­gang, padam bercam­pur den­gan debu dan tanah.

Momen itu jelas mem­bu­at para pen­gun­jung terke­jut. Sejum­lah orang berusa­ha mena­han pria terse­but, namun situ­asi sem­pat mem­anas kare­na ia juga men­gu­cap­kan kata-kata kasar.

Tidak dike­tahui secara pasti apa motif pria terse­but melakukan tin­dakan itu. Belum ada keteran­gan res­mi dari aparat setem­pat maupun pen­gelo­la pan­tai men­ge­nai duduk perkara. Namun, masyarakat men­duga ada misko­mu­nikasi antara pen­gun­jung dan war­ga lokal.

Kolom komen­tar pada ung­ga­han terse­but dipenuhi keca­man dari war­ganet. Banyak yang meni­lai tin­dakan itu merugikan pen­gun­jung yang sudah mem­bawa bahan makanan dari rumah untuk dipang­gang bersama kelu­ar­ga.

Seo­rang peng­gu­na Face­book berna­ma Aisyah Al Mayra menulis den­gan nada kesal:

“Nat­ua tua tee do raon asal namat­ua otak otak dang adong dipakkke. Makin tua makin dang adong be akhlaq na.”

Komen­tar itu mencer­minkan keke­ce­waan men­dalam ter­hadap per­i­laku pria paruh baya terseb/ut.

Peng­gu­na lain, Justi­nus Peter­son, menam­bahkan: “Han­cur rezekimu Pak Tua, makanan kau ten­dang.”

Ada pula komen­tar dari M Zega, yang men­gaku awal­nya beren­cana mem­bawa kelu­ar­ga berlibur ke pan­tai itu, namun akhirnya men­gu­rungkan niat sete­lah meli­hat keja­di­an terse­but.

  Anies Baswedan Ceritakan Perjuangan Warga Bertahan Dari Banjir

“Pada­hal ren­cana mau libu­ran bersama kelu­ar­ga ke tem­pat itu. Tapi sete­lah meli­hat beri­ta ini saya rasa tidak lag­i­lah. Masih banyak wisa­ta lokal yang lain. Takut­nya kalau ke sana ter­ja­di hal yang lebih dari keja­di­an ini, apala­gi ren­cana bawa anak-anak,” tulis­nya.

Gam­bar tam­pak oknum masih melakukan pemadaman api yang dimak­sud dalam ung­gah akun Face­book terse­but, doc ung­ga­han aku N Face­book terse­but, di Screen­shot Selasa (19/08/2025)

Beber­a­pa war­ganet meny­oroti bah­wa insi­d­en ini dap­at merusak cit­ra Pan­tai Binasi seba­gai salah satu des­ti­nasi wisa­ta lokal.

Jeprianto Hutabarat menulis: “Kalau begi­ni cer­i­tanya berar­ti bukan lagi tem­pat wisa­ta namanya. Jan­gan lagi berwisa­ta ke Pan­tai Binasi Sorkam kare­na orang-orang di sana sudah mem­bu­at kece­wa pen­gun­jung.”

Hal seru­pa dis­am­paikan Lin­da Sari Sari yang men­yarankan agar wisa­tawan men­co­ba des­ti­nasi lain. “Pan­daratan nggak kalah bagus tem­pat wisa­tanya,” ujarnya.

Namun, tidak semua komen­tar berna­da keca­man. Ada juga yang men­co­ba mem­beri per­spek­tif lain. Restyana Situmeang, mis­al­nya, meni­lai mungkin ada salah paham terkait atu­ran memang­gang ikan di area pan­tai. “Molo pen­gun­jung mam­boan dekke pang­gang sendiri pasti nang laku dekke nasi­da. Malum­ma malum akka jol­ma silate roha,” tulis­nya dalam bahasa Batak, yang kira-kira bermak­na bah­wa mungkin ada per­at­u­ran yang dilang­gar pen­gun­jung saat memang­gang ikan.

Mes­ki demikian, may­ori­tas komen­tar tetap menun­tut agar pihak pen­gelo­la mem­berikan pen­je­lasan res­mi supaya tidak menim­bulkan kesalah­pa­haman lebih jauh.

Fenom­e­na ini mem­per­li­hatkan beta­pa cepat­nya sebuah peri­s­ti­wa lokal dap­at men­ja­di sorotan pub­lik berkat media sosial. Ung­ga­han yang hanya ter­diri dari beber­a­pa foto dan video mam­pu memicu gelom­bang reak­si, mulai dari keca­man, sindi­ran, hing­ga keluhan terkait cit­ra wisa­ta.

  Hentikan Aksi Main Hakim Sendiri! LSM HAMMER Desak Aparat Tegas Lindungi Hukum dan Kemanusiaan

Charles Htg menulis singkat namun keras: “Badan besar otak kecil.”
Semen­tara itu, Hot­ma Siman­jun­tak berko­men­tar lir­ih: “Agaya­mamg man­gan pe ra ter­an­cam do… san­ga muse dope mam­baen keribu­tan.”

Ungka­pan-ungka­pan itu menun­jukkan rasa ger­am sekali­gus keke­ce­waan yang men­dalam dari masyarakat.

Insi­d­en seper­ti ini seharus­nya men­ja­di pela­jaran pent­ing bagi semua pihak. Di satu sisi, pen­gun­jung memi­li­ki hak untuk menikmati libu­ran dan men­go­lah makanan mere­ka sela­ma tidak melang­gar atu­ran yang ada. Di sisi lain, masyarakat atau pihak pen­gelo­la pan­tai juga berhak men­gatur agar aktiv­i­tas wisa­ta tetap tert­ib dan tidak merusak lingkun­gan.

Sayangnya, tan­pa komu­nikasi yang baik, perbe­daan persep­si bisa beru­jung pada kon­flik ter­bu­ka. Dalam kasus di Pan­tai Binasi, tin­dakan emo­sion­al menen­dang bara api jus­tru mem­perkeruh suasana, merugikan pen­gun­jung, dan menim­bulkan dampak buruk ter­hadap cit­ra wisa­ta lokal.

Pakar pari­wisa­ta meni­lai, dalam meng­hadapi kon­flik seper­ti ini sebaiknya pihak pen­gelo­la meng­hadirkan solusi beru­pa atu­ran ter­tulis yang jelas, mis­al­nya zona khusus untuk mem­bakar ikan atau mem­bawa makanan sendiri. Sosial­isasi atu­ran kepa­da pen­gun­jung harus dilakukan den­gan cara yang san­tun, bukan den­gan tin­dakan kek­erasan.

Peri­s­ti­wa di Pan­tai Binasi, Sorkam, Tapan­uli Ten­gah ini men­ja­di pengin­gat bah­wa men­ja­ga kehar­mon­isan di lokasi wisa­ta adalah tang­gung jawab bersama. Pen­gun­jung per­lu meng­hor­mati atu­ran dan budaya lokal, semen­tara masyarakat dan pen­gelo­la pan­tai juga ditun­tut mem­berikan pelayanan yang ramah demi kenya­manan wisa­tawan.

Insi­d­en bara api yang diten­dang ini memang meny­isakan keke­ce­waan, tetapi semoga men­ja­di momen­tum untuk mem­per­bai­ki tata kelo­la pari­wisa­ta di Tapan­uli Ten­gah agar lebih pro­fe­sion­al dan ramah wisa­tawan. Kare­na pada akhirnya, pari­wisa­ta bukan hanya soal kein­da­han alam, tetapi juga kerama­han manu­sia di dalam­nya.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *