Tapanuli Tengah, SniperNew.id — Sebuah insiden yang terjadi di Pantai Binasi, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, mendadak viral di media sosial. Video dan foto yang diunggah akun Facebook Barus Channel memperlihatkan seorang pria paruh baya menendang bara api yang digunakan pengunjung untuk memanggang ikan. Peristiwa ini sontak memicu pro dan kontra, serta menuai beragam reaksi dari warganet, Selasa (19/08/2025)
Dalam unggahan tersebut, tertulis keterangan bahwa oknum pria yang disebut sebagai “bapak-bapak” mendatangi lokasi pengunjung yang sedang memanggang ikan, lalu menendang bara api hingga ikan yang sedang dipanggang rusak dan jatuh. Tidak hanya itu, pria tersebut juga disebut mengeluarkan kata-kata kasar.
“Oknum pelaku sosok seorang Bapak yang menendang bara api pengunjung. Padahal ikannya masih dalam keadaan dipanggang, sambil mengeluarkan kata-kata kotor. Entah apa yang merasukimu, Bapak,” tulis akun Barus Channel dalam keterangan unggahan, sembari menambahkan bahwa kejadian itu berlangsung di Pantai Binasi, Sorkam, Tapanuli Tengah.

Unggahan tersebut menyedot perhatian publik. Dalam hitungan jam, video sudah mendapat lebih dari 5 ribu tanda suka, ribuan komentar, serta ratusan kali dibagikan. Sebagian besar warganet meluapkan kekecewaan dan kemarahan, karena tindakan pria tersebut dianggap merugikan pengunjung yang sedang berlibur bersama keluarga.
Berdasarkan video yang beredar, tampak beberapa ekor ikan yang sudah dibersihkan dan ditusuk bambu sedang dipanggang di atas bara api. Tiba-tiba, seorang pria datang dan menendang bara api tersebut hingga ikan jatuh ke tanah. Api yang tadinya terjaga untuk memanggang, padam bercampur dengan debu dan tanah.
Momen itu jelas membuat para pengunjung terkejut. Sejumlah orang berusaha menahan pria tersebut, namun situasi sempat memanas karena ia juga mengucapkan kata-kata kasar.
Tidak diketahui secara pasti apa motif pria tersebut melakukan tindakan itu. Belum ada keterangan resmi dari aparat setempat maupun pengelola pantai mengenai duduk perkara. Namun, masyarakat menduga ada miskomunikasi antara pengunjung dan warga lokal.
Kolom komentar pada unggahan tersebut dipenuhi kecaman dari warganet. Banyak yang menilai tindakan itu merugikan pengunjung yang sudah membawa bahan makanan dari rumah untuk dipanggang bersama keluarga.
Seorang pengguna Facebook bernama Aisyah Al Mayra menulis dengan nada kesal:
“Natua tua tee do raon asal namatua otak otak dang adong dipakkke. Makin tua makin dang adong be akhlaq na.”
Komentar itu mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku pria paruh baya terseb/ut.
Pengguna lain, Justinus Peterson, menambahkan: “Hancur rezekimu Pak Tua, makanan kau tendang.”
Ada pula komentar dari M Zega, yang mengaku awalnya berencana membawa keluarga berlibur ke pantai itu, namun akhirnya mengurungkan niat setelah melihat kejadian tersebut.
“Padahal rencana mau liburan bersama keluarga ke tempat itu. Tapi setelah melihat berita ini saya rasa tidak lagilah. Masih banyak wisata lokal yang lain. Takutnya kalau ke sana terjadi hal yang lebih dari kejadian ini, apalagi rencana bawa anak-anak,” tulisnya.

Beberapa warganet menyoroti bahwa insiden ini dapat merusak citra Pantai Binasi sebagai salah satu destinasi wisata lokal.
Jeprianto Hutabarat menulis: “Kalau begini ceritanya berarti bukan lagi tempat wisata namanya. Jangan lagi berwisata ke Pantai Binasi Sorkam karena orang-orang di sana sudah membuat kecewa pengunjung.”
Hal serupa disampaikan Linda Sari Sari yang menyarankan agar wisatawan mencoba destinasi lain. “Pandaratan nggak kalah bagus tempat wisatanya,” ujarnya.
Namun, tidak semua komentar bernada kecaman. Ada juga yang mencoba memberi perspektif lain. Restyana Situmeang, misalnya, menilai mungkin ada salah paham terkait aturan memanggang ikan di area pantai. “Molo pengunjung mamboan dekke panggang sendiri pasti nang laku dekke nasida. Malumma malum akka jolma silate roha,” tulisnya dalam bahasa Batak, yang kira-kira bermakna bahwa mungkin ada peraturan yang dilanggar pengunjung saat memanggang ikan.
Meski demikian, mayoritas komentar tetap menuntut agar pihak pengelola memberikan penjelasan resmi supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman lebih jauh.
Fenomena ini memperlihatkan betapa cepatnya sebuah peristiwa lokal dapat menjadi sorotan publik berkat media sosial. Unggahan yang hanya terdiri dari beberapa foto dan video mampu memicu gelombang reaksi, mulai dari kecaman, sindiran, hingga keluhan terkait citra wisata.
Charles Htg menulis singkat namun keras: “Badan besar otak kecil.”
Sementara itu, Hotma Simanjuntak berkomentar lirih: “Agayamamg mangan pe ra terancam do… sanga muse dope mambaen keributan.”
Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan rasa geram sekaligus kekecewaan yang mendalam dari masyarakat.
Insiden seperti ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Di satu sisi, pengunjung memiliki hak untuk menikmati liburan dan mengolah makanan mereka selama tidak melanggar aturan yang ada. Di sisi lain, masyarakat atau pihak pengelola pantai juga berhak mengatur agar aktivitas wisata tetap tertib dan tidak merusak lingkungan.
Sayangnya, tanpa komunikasi yang baik, perbedaan persepsi bisa berujung pada konflik terbuka. Dalam kasus di Pantai Binasi, tindakan emosional menendang bara api justru memperkeruh suasana, merugikan pengunjung, dan menimbulkan dampak buruk terhadap citra wisata lokal.
Pakar pariwisata menilai, dalam menghadapi konflik seperti ini sebaiknya pihak pengelola menghadirkan solusi berupa aturan tertulis yang jelas, misalnya zona khusus untuk membakar ikan atau membawa makanan sendiri. Sosialisasi aturan kepada pengunjung harus dilakukan dengan cara yang santun, bukan dengan tindakan kekerasan.
Peristiwa di Pantai Binasi, Sorkam, Tapanuli Tengah ini menjadi pengingat bahwa menjaga keharmonisan di lokasi wisata adalah tanggung jawab bersama. Pengunjung perlu menghormati aturan dan budaya lokal, sementara masyarakat dan pengelola pantai juga dituntut memberikan pelayanan yang ramah demi kenyamanan wisatawan.
Insiden bara api yang ditendang ini memang menyisakan kekecewaan, tetapi semoga menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola pariwisata di Tapanuli Tengah agar lebih profesional dan ramah wisatawan. Karena pada akhirnya, pariwisata bukan hanya soal keindahan alam, tetapi juga keramahan manusia di dalamnya.
Editor: (Ahmad)



















