Berita Peristiwa

Harga Gambir Anjlok, Petani di Harau Gelar Aksi Demo Tuntut Perhatian Pemerintah

465
×

Harga Gambir Anjlok, Petani di Harau Gelar Aksi Demo Tuntut Perhatian Pemerintah

Sebarkan artikel ini

Lima­pu­luh Kota, SniperNew.id - Puluhan war­ga yang may­ori­tas meru­pakan petani gam­bir dari Jorong Landai, Nagari Harau, Kabu­pat­en Lima­pu­luh Kota, mengge­lar aksi unjuk rasa pada Kamis (25/9/2025). Mere­ka menyuarakan keluh kesah aki­bat anjloknya har­ga gam­bir yang kini hanya Rp30 ribu per kilo­gram.

Situ­asi ini dini­lai mem­bu­at kehidu­pan para petani kian sulit. Mere­ka merasa tidak mam­pu mem­per­juangkan hak melalui jalur hukum kare­na keter­batasan biaya.

“Kem­ana kita harus menun­tut? Kita mau saja menun­tut jika tidak memakai uang. Kalau pakai uang, kita tidak pun­ya. Ker­ja kita cuma mangam­po gam­bir yang har­ganya cuma Rp30 ribu per kg,” ungkap salah seo­rang war­ga saat aksi berlang­sung.

Gam­bir meru­pakan salah satu komod­i­tas perke­bunan uta­ma di Kabu­pat­en Lima­pu­luh Kota, Sumat­era Barat. Tana­man ini sela­ma puluhan tahun men­ja­di sum­ber penghidu­pan uta­ma masyarakat pedesaan, khusus­nya di Nagari Harau.

Namun, dalam beber­a­pa bulan ter­akhir, har­ga gam­bir men­gala­mi penu­runan drastis. Dari har­ga yang sem­pat sta­bil di atas Rp50 ribu per kilo­gram, kini merosot men­ja­di hanya Rp30 ribu per kilo­gram.

Bagi petani, kon­disi ini menim­bulkan kesuli­tan besar. Pen­da­p­atan mere­ka tergerus, semen­tara biaya pro­duk­si seper­ti pupuk, tena­ga ker­ja, hing­ga kebu­tuhan sehari-hari terus meningkat.

  Tiga Unit Bus Terbakar di Klumpang Deli Serdang

Aksi protes dige­lar oleh sejum­lah war­ga Jorong Landai, Nagari Harau. Seba­gian besar dari mere­ka adalah petani gam­bir yang sehari-hari bergan­tung penuh pada hasil panen komod­i­tas terse­but.

Unjuk rasa dilakukan di kawasan Harau, tepat­nya di sek­i­tar jalan uta­ma menu­ju pusat pemer­in­ta­han Kabu­pat­en Lima­pu­luh Kota. Beber­a­pa war­ga tam­pak mem­bawa span­duk dan kar­ton berisi tulisan tun­tu­tan. Mere­ka duduk bersama, seba­gian berdiri menyuarakan aspi­rasi, dan ada pula yang menyam­paikan orasi.

Aksi berlang­sung pada Kamis (25/9/2025). Masyarakat men­gaku sudah cukup lama mena­han diri, namun kare­na har­ga gam­bir terus menu­run tan­pa ada solusi nya­ta, akhirnya mere­ka turun ke jalan untuk menyam­paikan aspi­rasi secara ter­bu­ka.

Ada beber­a­pa alasan uta­ma yang melatar­be­lakan­gi aksi war­ga Harau terse­but:

1. Har­ga Gam­bir Turun Drastis
Har­ga gam­bir hanya Rp30 ribu per kilo­gram. Nilai ini tidak seband­ing den­gan ker­ja keras petani yang harus meman­jat, memetik, hing­ga men­go­lah gam­bir secara man­u­al.

2. Kehidu­pan Petani Ter­de­sak
Den­gan peng­hasi­lan min­im, petani men­gaku kesuli­tan memenuhi kebu­tuhan pokok kelu­ar­ga. Apala­gi seba­gian besar mere­ka hanya bergan­tung pada gam­bir seba­gai sum­ber peng­hasi­lan uta­ma.

3. Sulit­nya Men­cari Kead­i­lan
Para petani meni­lai per­juan­gan lewat jalur hukum atau for­mal mem­bu­tuhkan biaya yang besar. Sedan­gkan kon­disi ekono­mi mere­ka tidak memu­ngkinkan.

4. Kurangnya Per­ha­t­ian Pemer­in­tah
War­ga merasa pemer­in­tah daer­ah maupun pusat belum menun­jukkan langkah konkret untuk mem­ban­tu petani meng­hadapi har­ga gam­bir yang anjlok.

Dalam aksi terse­but, war­ga berkumpul sam­bil mem­bawa span­duk seder­hana yang dit­ulis tan­gan. Mere­ka menuliskan tun­tu­tan agar pemer­in­tah mem­beri per­ha­t­ian lebih ter­hadap nasib petani gam­bir.

  Rumah Ketua RT di Pringsewu Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta

Beber­a­pa war­ga tam­pak berbicara kepa­da media lokal yang hadir, men­je­laskan kesuli­tan yang mere­ka ala­mi. Ada juga yang menyam­paikan hara­pan agar pemer­in­tah segera turun tan­gan, baik den­gan men­sta­bilkan har­ga maupun mem­beri sub­si­di.

Mes­ki aksi berlang­sung den­gan suara lan­tang, situ­asi tetap kon­dusif. Tidak ada ker­icuhan maupun tin­dakan anarkis. War­ga hanya berharap suara mere­ka diden­gar.

Para petani berharap pemer­in­tah Kabu­pat­en Lima­pu­luh Kota maupun Pemer­in­tah Provin­si Sumat­era Barat dap­at mem­berikan solusi nya­ta. Beber­a­pa hara­pan yang mere­ka suarakan antara lain.

“Petani mem­inta agar pemer­in­tah men­cari jalan kelu­ar agar har­ga gam­bir bisa kem­bali sta­bil. Dihara­p­kan adanya sub­si­di pupuk, ban­tu­an tunai, atau insen­tif lain agar beban petani sedik­it berku­rang.”

“Petani berharap pemer­in­tah bisa mem­bu­ka jalur ekspor atau mem­per­lu­as pasar dalam negeri agar har­ga gam­bir tidak lagi jatuh. War­ga meni­lai per­lun­ya reg­u­lasi yang berpi­hak kepa­da petani agar tidak selalu meru­gi keti­ka har­ga pasar anjlok.”

Turun­nya har­ga gam­bir mem­beri dampak sig­nifikan bagi kehidu­pan masyarakat Harau. Ekono­mi Kelu­ar­ga Ter­pu­ruk Pen­da­p­atan dari gam­bir tidak lagi men­cukupi kebu­tuhan dasar, mulai dari pan­gan, pen­didikan anak, hing­ga biaya kese­hatan.

Anca­man Putus Seko­lah
Beber­a­pa war­ga men­gaku khawatir anak-anak mere­ka ter­pak­sa putus seko­lah kare­na tidak mam­pu mem­ba­yar biaya pen­didikan. Meningkat­nya Poten­si Kemiski­nan Den­gan kon­disi ini, angka kemiski­nan di Lima­pu­luh Kota berpoten­si meningkat.

Keke­ce­waan ter­hadap Pemer­in­tah
Masyarakat mulai kehi­lan­gan keper­cayaan jika pemer­in­tah tak segera menun­jukkan keber­pi­hakan.

Seo­rang ibu rumah tang­ga yang ikut dalam aksi meny­atakan bah­wa hasil gam­bir yang dijual suaminya tidak mam­pu memenuhi kebu­tuhan dapur. “Kami hanya bisa beli beras sedik­it. Untuk lauk pauk ser­ing tidak ada. Kalau har­ga begi­ni terus, bagaimana kami bisa hidup layak?” ujarnya den­gan wajah sedih.

  Ledakan Misterius di Pamulang Rusak Lima Rumah, Empat Warga Terluka

Semen­tara itu, seo­rang pemu­da petani menam­bahkan bah­wa mere­ka sudah men­co­ba berba­gai cara agar hasil panen bisa lebih baik, tetapi har­ga tetap ren­dah. “Kami sudah ker­ja keras. Dari pagi sam­pai sore di ladang. Tapi kalau har­ga cuma Rp30 ribu per kilo, tena­ga kami sia-sia. Kami mohon ada jalan kelu­ar,” katanya.

Aksi ini mencer­minkan beta­pa rentan­nya kehidu­pan petani kecil ter­hadap fluk­tu­asi har­ga pasar. Gam­bir yang sejatinya komod­i­tas ung­gu­lan ekspor, jus­tru men­ja­di beban keti­ka har­ga anjlok.

Dari sisi ekono­mi, pemer­in­tah dihara­p­kan tidak hanya fokus pada sek­tor besar seper­ti saw­it atau padi, tetapi juga mem­beri per­ha­t­ian serius pada gam­bir yang men­ja­di mata penc­a­har­i­an ribuan kelu­ar­ga di Sumat­era Barat.

Aksi demo war­ga Jorong Landai, Nagari Harau, Kabu­pat­en Lima­pu­luh Kota pada Kamis (25/9/2025) meru­pakan jer­i­tan hati petani gam­bir yang tertekan oleh ren­dah­nya har­ga jual hasil panen. Den­gan har­ga Rp30 ribu per kilo­gram, mere­ka merasa kehidu­pan semakin sulit, bahkan untuk mem­per­juangkan hak melalui jalur hukum pun ter­ham­bat kare­na keter­batasan biaya.

Melalui aksi damai terse­but, para petani berharap pemer­in­tah segera hadir den­gan solusi konkret. Bukan sekadar jan­ji, tetapi langkah nya­ta untuk menye­jahter­akan masyarakat kecil yang sela­ma ini menopang ekono­mi daer­ah den­gan keringat mere­ka. (abd/Ahm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *