Limapuluh Kota, SniperNew.id - Puluhan warga yang mayoritas merupakan petani gambir dari Jorong Landai, Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (25/9/2025). Mereka menyuarakan keluh kesah akibat anjloknya harga gambir yang kini hanya Rp30 ribu per kilogram.
Situasi ini dinilai membuat kehidupan para petani kian sulit. Mereka merasa tidak mampu memperjuangkan hak melalui jalur hukum karena keterbatasan biaya.
“Kemana kita harus menuntut? Kita mau saja menuntut jika tidak memakai uang. Kalau pakai uang, kita tidak punya. Kerja kita cuma mangampo gambir yang harganya cuma Rp30 ribu per kg,” ungkap salah seorang warga saat aksi berlangsung.
Gambir merupakan salah satu komoditas perkebunan utama di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Tanaman ini selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pedesaan, khususnya di Nagari Harau.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, harga gambir mengalami penurunan drastis. Dari harga yang sempat stabil di atas Rp50 ribu per kilogram, kini merosot menjadi hanya Rp30 ribu per kilogram.
Bagi petani, kondisi ini menimbulkan kesulitan besar. Pendapatan mereka tergerus, sementara biaya produksi seperti pupuk, tenaga kerja, hingga kebutuhan sehari-hari terus meningkat.
Aksi protes digelar oleh sejumlah warga Jorong Landai, Nagari Harau. Sebagian besar dari mereka adalah petani gambir yang sehari-hari bergantung penuh pada hasil panen komoditas tersebut.
Unjuk rasa dilakukan di kawasan Harau, tepatnya di sekitar jalan utama menuju pusat pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota. Beberapa warga tampak membawa spanduk dan karton berisi tulisan tuntutan. Mereka duduk bersama, sebagian berdiri menyuarakan aspirasi, dan ada pula yang menyampaikan orasi.
Aksi berlangsung pada Kamis (25/9/2025). Masyarakat mengaku sudah cukup lama menahan diri, namun karena harga gambir terus menurun tanpa ada solusi nyata, akhirnya mereka turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka.
Ada beberapa alasan utama yang melatarbelakangi aksi warga Harau tersebut:
1. Harga Gambir Turun Drastis
Harga gambir hanya Rp30 ribu per kilogram. Nilai ini tidak sebanding dengan kerja keras petani yang harus memanjat, memetik, hingga mengolah gambir secara manual.
2. Kehidupan Petani Terdesak
Dengan penghasilan minim, petani mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Apalagi sebagian besar mereka hanya bergantung pada gambir sebagai sumber penghasilan utama.
3. Sulitnya Mencari Keadilan
Para petani menilai perjuangan lewat jalur hukum atau formal membutuhkan biaya yang besar. Sedangkan kondisi ekonomi mereka tidak memungkinkan.
4. Kurangnya Perhatian Pemerintah
Warga merasa pemerintah daerah maupun pusat belum menunjukkan langkah konkret untuk membantu petani menghadapi harga gambir yang anjlok.
Dalam aksi tersebut, warga berkumpul sambil membawa spanduk sederhana yang ditulis tangan. Mereka menuliskan tuntutan agar pemerintah memberi perhatian lebih terhadap nasib petani gambir.
Beberapa warga tampak berbicara kepada media lokal yang hadir, menjelaskan kesulitan yang mereka alami. Ada juga yang menyampaikan harapan agar pemerintah segera turun tangan, baik dengan menstabilkan harga maupun memberi subsidi.
Meski aksi berlangsung dengan suara lantang, situasi tetap kondusif. Tidak ada kericuhan maupun tindakan anarkis. Warga hanya berharap suara mereka didengar.
Para petani berharap pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dapat memberikan solusi nyata. Beberapa harapan yang mereka suarakan antara lain.
“Petani meminta agar pemerintah mencari jalan keluar agar harga gambir bisa kembali stabil. Diharapkan adanya subsidi pupuk, bantuan tunai, atau insentif lain agar beban petani sedikit berkurang.”
“Petani berharap pemerintah bisa membuka jalur ekspor atau memperluas pasar dalam negeri agar harga gambir tidak lagi jatuh. Warga menilai perlunya regulasi yang berpihak kepada petani agar tidak selalu merugi ketika harga pasar anjlok.”
Turunnya harga gambir memberi dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat Harau. Ekonomi Keluarga Terpuruk Pendapatan dari gambir tidak lagi mencukupi kebutuhan dasar, mulai dari pangan, pendidikan anak, hingga biaya kesehatan.
Ancaman Putus Sekolah
Beberapa warga mengaku khawatir anak-anak mereka terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan. Meningkatnya Potensi Kemiskinan Dengan kondisi ini, angka kemiskinan di Limapuluh Kota berpotensi meningkat.
Kekecewaan terhadap Pemerintah
Masyarakat mulai kehilangan kepercayaan jika pemerintah tak segera menunjukkan keberpihakan.
Seorang ibu rumah tangga yang ikut dalam aksi menyatakan bahwa hasil gambir yang dijual suaminya tidak mampu memenuhi kebutuhan dapur. “Kami hanya bisa beli beras sedikit. Untuk lauk pauk sering tidak ada. Kalau harga begini terus, bagaimana kami bisa hidup layak?” ujarnya dengan wajah sedih.
Sementara itu, seorang pemuda petani menambahkan bahwa mereka sudah mencoba berbagai cara agar hasil panen bisa lebih baik, tetapi harga tetap rendah. “Kami sudah kerja keras. Dari pagi sampai sore di ladang. Tapi kalau harga cuma Rp30 ribu per kilo, tenaga kami sia-sia. Kami mohon ada jalan keluar,” katanya.
Aksi ini mencerminkan betapa rentannya kehidupan petani kecil terhadap fluktuasi harga pasar. Gambir yang sejatinya komoditas unggulan ekspor, justru menjadi beban ketika harga anjlok.
Dari sisi ekonomi, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada sektor besar seperti sawit atau padi, tetapi juga memberi perhatian serius pada gambir yang menjadi mata pencaharian ribuan keluarga di Sumatera Barat.
Aksi demo warga Jorong Landai, Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota pada Kamis (25/9/2025) merupakan jeritan hati petani gambir yang tertekan oleh rendahnya harga jual hasil panen. Dengan harga Rp30 ribu per kilogram, mereka merasa kehidupan semakin sulit, bahkan untuk memperjuangkan hak melalui jalur hukum pun terhambat karena keterbatasan biaya.
Melalui aksi damai tersebut, para petani berharap pemerintah segera hadir dengan solusi konkret. Bukan sekadar janji, tetapi langkah nyata untuk menyejahterakan masyarakat kecil yang selama ini menopang ekonomi daerah dengan keringat mereka. (abd/Ahm).













