Berita Daerah

Lubuk Tanoh Terisolasi: Jalan Utama Belum Pernah Dibangun, Warga Tagih Janji Pemda

320
×

Lubuk Tanoh Terisolasi: Jalan Utama Belum Pernah Dibangun, Warga Tagih Janji Pemda

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id – Sudah puluhan tahun lamanya masyarakat Dusun Lubuk Tanoh, Desa Kubu Batu, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, harus menerima kenyataan pahit: satu-satunya jalan penghubung utama mereka tak pernah tersentuh pembangunan. Jalan tanah yang menjadi nadi transportasi warga itu bukan hanya penuh lumpur ketika musim penghujan, tetapi juga kerap menelan korban kecelakaan kecil akibat licin dan ekstremnya kondisi medan, Sabtu (13/09).

Padahal, jalan tersebut merupakan akses vital bagi ribuan warga untuk mengangkut hasil bumi dari kebun ke pasar, serta jalur utama anak-anak sekolah menuju SD, SMP, hingga SMA yang berada di desa induk maupun wilayah sekitar.

Hidup di pelosok desa memang bukan perkara mudah. Namun bagi Hadri (40), warga Dusun Lubuk Tanoh, tantangan yang paling berat bukan soal jauh dari kota, melainkan soal akses jalan. Hadri yang lahir, tumbuh besar, hingga kini berkeluarga di dusun itu menegaskan bahwa jalan yang sama sekali belum dibangun itu sudah ada sejak dirinya kecil.

“Setiap hari kami melintas jalan ini. Ini satu-satunya akses warga Dusun Lubuk Tanoh menuju desa induk maupun ke pasar Kedondong. Sejak saya kecil bahkan sebelum saya dilahirkan, jalan ini ya seperti ini, terutama dari jembatan sampai pojok dusun. Belum pernah tersentuh pembangunan,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Menurut Hadri, kondisi jalan tanah yang becek di musim hujan sering membuat motor warga tergelincir. Para orang tua pun was-was melepas anak-anak mereka berangkat ke sekolah. Tidak jarang siswa harus berjalan kaki cukup jauh agar bisa sampai ke sekolah dengan selamat.

  PLN UP3 Pematangsiantar dan Bupati Batubara Optimalkan Pendapatan Daerah Melalui Sektor Kelistrikan

Dusun Lubuk Tanoh bukan hanya dihuni para petani yang menggantungkan hidup pada hasil kebun, tetapi juga para pekerja yang setiap hari harus menempuh perjalanan ke luar dusun. Dengan kondisi jalan yang licin, licin, dan penuh lubang, bukan sekali dua kali kendaraan warga terpeleset.

“Kalau musim hujan, jalan ini seperti lumpur sawah. Kendaraan roda dua sering jatuh, bahkan kadang roda empat juga sulit lewat. Warga sering gotong-royong mendorong kendaraan yang terjebak,” ujar Hadri lagi.

Ironisnya, meski jalan tersebut sudah lama diusulkan, hingga kini belum ada pembangunan berarti. Warga bahkan sudah terbiasa menambal jalan seadanya menggunakan batu atau kayu agar kendaraan bisa lewat. Namun, itu pun hanya bertahan sebentar, karena hujan deras kembali menggerus jalan.

Kondisi jalan Lubuk Tanoh juga mendapat sorotan dari kalangan pers. Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) DPW Lampung, Rudi Sapari A.S., mengaku prihatin setelah beberapa kali masuk ke dusun tersebut.

“Saya sangat prihatin melihat kondisi jalan di Dusun Lubuk Tanoh seperti ini. Beberapa kali saya masuk ke dusun ini saat musim hujan, memang sangat ekstrem. Kendaraan yang saya kendarai pun pernah terpeleset karena jalan licin becek akibat guyuran hujan,” tutur Rudi.

Menurutnya, keberadaan jalan yang layak bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga soal hak dasar masyarakat. Jalan adalah penghubung ekonomi, pendidikan, bahkan kesehatan. Jika jalan buruk, otomatis kualitas hidup warga juga akan terhambat.

  Jejak 1910–HGU Modern: Konflik PTPN dan Masyarakat Adat Lampung Kian Terbuka

“Saya berharap viralnya pemberitaan di media sosial bisa membuka mata Pemkab Pesawaran. Apalagi sudah ada video diunggah akun TikTok Antonius Beramal dan portal Infojejama.com yang memperlihatkan Wakil Bupati Pesawaran, Bapak Antonius, turun langsung ke lokasi. Beliau menyebut jalan ini akan diprioritaskan. Semoga ucapan itu tidak sekadar janji, tapi segera terealisasi dalam waktu dekat,” pungkas Rudi.

Harapan masyarakat Dusun Lubuk Tanoh sedikit menyala ketika Wakil Bupati Pesawaran, Antonius, berkunjung ke lokasi. Dalam unggahan yang sempat viral, ia menyatakan bahwa jalan tersebut akan dijadikan prioritas pembangunan.

Pernyataan itu tentu disambut gembira warga, namun sebagian masih ragu. Pasalnya, janji pembangunan jalan di daerah pelosok sudah sering mereka dengar, tapi realisasinya selalu molor.

“Kami berharap Pak Wakil Bupati serius. Jangan cuma janji manis. Kami ingin jalan ini benar-benar diperbaiki, supaya hasil bumi kami bisa keluar lebih mudah dan anak-anak sekolah tidak lagi kesusahan,” ujar Hadri menegaskan.

Secara geografis, Dusun Lubuk Tanoh terletak di daerah berbukit dengan tanah yang gembur. Saat musim kemarau, jalanan berdebu dan rawan longsor, sementara di musim hujan berubah menjadi kubangan lumpur. Tidak ada aspal, bahkan pengerasan pun minim.

Akses jalan ini bukan hanya menghubungkan Lubuk Tanoh ke Dusun Kaliawi di Desa Kubu Batu, tetapi juga menjadi jalur vital menuju Pasar Kedondong. Pasar tersebut adalah pusat ekonomi bagi masyarakat sekitar, tempat mereka menjual hasil bumi seperti kopi, kakao, pisang, dan sayuran.

Tanpa jalan yang memadai, harga jual hasil kebun warga tergerus karena biaya angkut membengkak. Para pedagang enggan masuk ke dusun karena medan sulit. Akibatnya, warga sering menjual murah hasil panen mereka.

  KWRI Pringsewu Panas! Muscab Resmi Buka Babak Regenerasi

Selain itu, jalur ini juga penting untuk akses pendidikan dan kesehatan. Anak-anak sekolah harus melewati jalan ini setiap hari, sementara jika ada warga sakit, perjalanan menuju puskesmas atau rumah sakit bisa sangat berisiko.

Fakta bahwa jalan di Dusun Lubuk Tanoh belum pernah tersentuh pembangunan menimbulkan pertanyaan besar: mengapa pemerintah daerah terkesan abai?

Sejumlah warga menilai pemerintah lebih fokus membangun jalan di wilayah perkotaan atau kawasan wisata, sementara daerah pelosok sering terabaikan. Padahal, pembangunan infrastruktur seharusnya merata, termasuk ke desa-desa terpencil.

“Kami bukan tidak bersyukur. Tapi kami juga warga Pesawaran, punya hak yang sama dengan warga lain. Jangan kami terus-terusan dianaktirikan,” kata seorang warga lain yang enggan disebutkan namanya.

Melihat urgensi jalan ini, berbagai pihak mendesak agar pemerintah kabupaten segera mengambil langkah nyata. Jalan desa yang layak bukan hanya simbol pembangunan, tetapi juga kebutuhan dasar untuk meningkatkan kesejahteraan.

Apalagi, Dusun Lubuk Tanoh bukanlah wilayah kosong. Ada ratusan kepala keluarga yang bergantung penuh pada jalan tersebut. Tanpa perbaikan, kondisi keterisolasian bisa semakin memperlebar jurang ketimpangan antara desa dan kota.

Rudi Sapari kembali menekankan, pemberitaan yang viral hendaknya menjadi pemicu percepatan pembangunan. “Kami sebagai wartawan siap mengawal janji pemerintah agar jalan ini benar-benar terealisasi,” ujarnya.

Hingga kini, masyarakat Dusun Lubuk Tanoh hanya bisa berharap. Mereka menunggu janji Wakil Bupati Antonius benar-benar diwujudkan. Bagi mereka, pembangunan jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan jalan menuju kesejahteraan.

“Kalau jalan bagus, hasil panen kami lebih mudah dijual, anak-anak lebih semangat sekolah, dan ekonomi desa bisa bangkit. Itu saja yang kami inginkan,” tutup Hadri dengan penuh harap. (Sufiyawan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *