Luwu Utara, SniperNew.id — Sebuah unggahan di media sosial Threads oleh akun @yosep_alexander18 memicu gelombang reaksi publik setelah mengungkap kisah pilu dua guru honorer yang dipecat usai membantu rekan-rekannya yang tak menerima gaji selama berbulan-bulan, Rabu (12/11/2025).
Dalam unggahan yang kini viral itu, Yosep menuliskan. “10 bulan guru honorer nggak digaji. Dua guru bantu rekan-rekannya dengan iuran sukarela Rp20 ribu per siswa. Tapi bukannya diapresiasi, mereka malah dipecat. Ketika niat baik dihukum, di mana nurani pemerintah? Hargai guru, bayar hak mereka, karena tanpa guru nggak ada masa depan.”
Unggahan tersebut disertai tagar-tagar seperti #SaveGuruIndonesia, #StopKetidakadilan, dan #PendidikanKitaLuka, serta foto gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Luwu Utara.
Reaksi Netizen: “Ketika Kebaikan Justru Dihukum”
Unggahan Yosep mendapat ribuan tayangan dan ratusan komentar dari warganet yang menyoroti ketidakadilan yang dialami para guru tersebut.
Akun @mamak_ahlan menulis. “Bantu viralkan guys, please netizen do your magic… Bantu.”
Sementara @adelialia2710 mengkritik keras pejabat daerah. “Giliran ngeluarin surat berhenti cepat banget mereka, giliran gaji ditahan-tahan bahkan didepositokan. Gila mereka pejabat, Pak Pur.”
Nada serupa juga datang dari @yadztakahiro, yang menyinggung kegagalan pemerintah memuliakan profesi guru. “Presiden udah delapan kali ganti, masih aja nggak bisa memuliakan guru. Di tangan merekalah generasi bangsa ditempa. Ini salah satu indikator kemajuan bangsa.”
Banyak warganet lain menyebut peristiwa ini sebagai bentuk “ketimpangan moral” dalam birokrasi.
Akun @yudhi.abank menulis panjang. “Segala bentuk kebaikan di mata pemerintah adalah hal buruk, segala keburukan dianggap kebaikan. Mungkin gubernurnya malu karena guru-guru lebih peduli kepada rekannya. Ini juga karena laporan LSM yang katanya minta fee tapi nggak dikasih, makanya dipermasalahkan dan dilaporkan.”
Komentar tajam juga datang dari @adit.shm, “Syarat jadi pejabat di Indo: moral dan otak harus minus.”
Sementara akun @babeh811 dengan nada geram mengatakan. “Goblok bin dongo yang telah memecat guru tanpa klarifikasi.”
Sebagian besar komentar menuding pemerintah daerah Luwu Utara bertindak sewenang-wenang terhadap para guru.
Akun @meizabumi menulis. “Ini Pemda-nya dzolim. Harusnya diangkat jadi PPPK guru honorernya. Guru PNS yang dipecat semoga ada rezeki lain. Buat orang tua murid yang sudah lapor semoga ada balasan, karena sudah menghilangkan rezeki orang.”
Nada serupa datang dari @trinugroho.budi yang menyindir tindakan pemecatan tersebut. “Ada orang berbuat baik kok malah ditahan. Otaknya di mana? Beliau tidak korupsi.”
Beberapa warganet juga menyerukan agar kasus ini disorot publik secara nasional. @yda.rohman menulis. “Viralin nih masalah guru di Indonesia.”
Sedangkan @evan.sinyo13 berkomentar. “Nepalkan LSM yang memfitnah dan melaporkan.”
Berdasarkan informasi yang beredar di unggahan Yosep dan komentar-komentar pengguna lain, dua orang guru di Kabupaten Luwu Utara diduga diberhentikan setelah melakukan aksi solidaritas untuk membantu guru honorer lain yang sudah 10 bulan tidak menerima gaji.
Kedua guru tersebut menggalang dana sukarela sebesar Rp20 ribu per siswa untuk membantu kebutuhan hidup rekan-rekan mereka. Namun tindakan yang seharusnya bernilai kemanusiaan itu justru berujung pada pemecatan, diduga karena laporan dari pihak tertentu.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah atau dinas pendidikan setempat terkait alasan pemecatan kedua guru itu.
Unggahan Yosep memantik gelombang solidaritas dari masyarakat luas. Tagar #SaveGuruIndonesia dan #StopKetidakadilan mulai ramai digunakan di media sosial, terutama oleh komunitas pendidikan dan aktivis literasi.
Warganet menilai bahwa peristiwa ini menggambarkan lemahnya penghargaan terhadap profesi guru di Indonesia, terutama mereka yang berstatus honorer. Banyak yang menyerukan agar pemerintah segera meninjau ulang kasus tersebut dan memulihkan nama baik para guru yang dipecat.
“Hargai guru, bayar hak mereka. Karena tanpa guru, tak ada masa depan,” tulis Yosep dalam penutup unggahannya sebuah kalimat yang kini menjadi simbol perjuangan moral bagi banyak pendidik di Indonesia. (Ahm/isk)













