Barito Utara, SniperNew.id – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Desa Ipu, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, menggelar lomba seni suara tradisional khas Dayak Barito Utara yang dikenal dengan sebutan dongkoi. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Ipu dengan organisasi masyarakat Gabungan Pangkalima Dayak (GPD) Alur Barito serta Persatuan Dayak Dusun Malang (Perdamal), Sabtu (16/08/202).
Kegiatan tersebut berlangsung meriah di balai desa setempat pada Sabtu malam (tanggal kegiatan), dihadiri berbagai tokoh masyarakat, adat, dan unsur pemerintah daerah. Meski digelar dengan sarana sederhana, semangat para peserta dan masyarakat untuk melestarikan tradisi leluhur tampak begitu tinggi.
Suasana Meriah, Dipandu MC Lokal
Acara dipandu oleh dua pembawa acara, yaitu Bung Kora asal Desa Ipu dan Mba Eka dari Muara Teweh. Kehadiran keduanya membuat suasana lebih hidup dengan guyonan khas dan penyampaian acara yang hangat.
Berbagai tokoh penting turut hadir, di antaranya Edi Pranaji, perwakilan dari staf DPRD Barito Utara; perwakilan Dewan Adat Dayak Barito Utara; staf Kedemangan Kecamatan Lahei, Aryosi Jiono; Ketua Umum GPD Alur Barito, Hison; serta Kepala Desa Ipu.
Selain itu, tiga dewan juri juga dihadirkan untuk menilai kualitas penampilan peserta. Dengan dukungan perangkat musik sederhana dan sound system yang disiapkan panitia, lomba seni suara dongkoi resmi dimulai setelah serangkaian sambutan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum GPD Alur Barito, Hison, mengaku terharu atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, meski fasilitas yang digunakan masih terbatas, semangat masyarakat untuk melestarikan seni tradisi patut diapresiasi.
“Saya sangat terharu bisa hadir di acara sederhana ini. Demi merayakan kemerdekaan RI ke-80, kita rela melaksanakan lomba seni suara tingkat kabupaten meski sarana dan prasarana belum sepenuhnya memadai. Jika tidak ada gagasan seperti ini, tentu acara tidak akan pernah terlaksana. Saya pribadi berterima kasih kepada semua pihak, khususnya DPC GPD Kecamatan Lahei di bawah pimpinan Gusti Adyansah, serta Pemerintah Desa Ipu yang mendukung penuh hingga kegiatan ini bisa dibuka secara resmi,” ujar Hison.
Sementara itu, perwakilan Kedemangan Kecamatan Lahei, Aryosi Jiono, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan lomba tersebut. Ia menegaskan bahwa kesenian dongkoi merupakan bagian penting dari budaya Dayak yang perlu dijaga sesuai dengan payung hukum daerah.
“Kami dari Kedemangan sangat setuju dengan penyelenggaraan lomba ini. Seni suara dongkoi merupakan warisan budaya yang telah diatur dalam Perda Nomor 16 Tahun 2008 tentang pelestarian seni budaya dan kedudukan tugas kedemangan. Dengan adanya acara seperti ini, kita tidak hanya merayakan HUT RI, tetapi juga menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat Dayak,” ungkap Aryosi.
Hal senada disampaikan oleh perwakilan DPRD Barito Utara, Edi Pranaji. Ia menilai acara tersebut bukan hanya hiburan semata, tetapi juga wadah penting untuk mempererat persatuan dan melestarikan budaya lokal.
“Saya bersyukur bisa hadir di acara ini. Perayaan kemerdekaan ke-80 semakin bermakna dengan adanya lomba kesenian tradisional seperti dongkoi. Kalau bukan kita yang melestarikan, lalu siapa lagi? Ke depan, saya berharap acara ini bisa lebih besar dengan kolaborasi yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga terkait. Kami dari DPRD tentu mendukung, bahkan berupaya agar kegiatan budaya seperti ini dapat masuk dalam program anggaran melalui prosedur yang resmi,” tutur Edi.
Dongkoi merupakan seni suara tradisional masyarakat Dayak Barito Utara yang biasa ditampilkan dalam acara adat maupun perayaan tertentu. Kesenian ini memadukan kekuatan vokal, irama khas, serta ekspresi budaya yang menggambarkan nilai-nilai kehidupan, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur.
Lomba kali ini menghadirkan sejumlah peserta dari berbagai desa di Kecamatan Lahei dan sekitarnya. Mereka tampil dengan penuh semangat, menunjukkan kemampuan olah vokal serta gaya khas masing-masing dalam melantunkan dongkoi. Penampilan para peserta mendapat sambutan meriah dari penonton yang memadati lokasi acara.
Meski peralatan dan fasilitas pendukung masih terbatas, panitia bersama ormas GPD dan Perdamal berhasil menyulap acara tersebut menjadi momentum penuh makna. Keterlibatan masyarakat yang antusias hadir dan memberi dukungan menambah semarak suasana.
Ketua panitia menyebutkan, kegiatan ini bukan hanya ajang lomba, melainkan juga ruang kebersamaan untuk menghidupkan kembali budaya Dayak yang nyaris tergerus zaman. “Kami ingin generasi muda mengenal dan mencintai kesenian leluhur mereka. Dengan cara ini, nilai-nilai budaya tidak hilang begitu saja,” ujarnya.
Puncak acara ditandai dengan pembukaan resmi oleh Ketua Umum GPD Alur Barito, Hison. Dengan semangat kebersamaan, ia mengajak semua pihak menjadikan perayaan HUT RI ke-80 ini sebagai momentum kebangkitan seni dan budaya lokal.
“Mari kita jadikan peringatan kemerdekaan ini tidak hanya sebagai pesta seremonial, tetapi juga sebagai ruang untuk mengangkat kembali tradisi kita. Semoga dongkoi terus bergema di Barito Utara dan menjadi kebanggaan bersama,” pungkasnya.
Lomba seni suara dongkoi di Desa Ipu bukan hanya meriahkan peringatan HUT RI ke-80, tetapi juga menjadi simbol kuatnya tekad masyarakat Dayak Barito Utara dalam menjaga warisan leluhur. Tradisi yang dikemas dalam suasana sederhana itu memberi pesan mendalam: kemerdekaan bukan hanya soal perayaan, melainkan juga tanggung jawab untuk melestarikan identitas budaya bangsa.
Dengan semangat tersebut, masyarakat berharap kegiatan serupa dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang, dengan dukungan lebih luas dari berbagai pihak. Dongkoi pun akan terus hidup, menjadi gema kebanggaan Dayak Barito Utara dalam bingkai persatuan Indonesia.
Penulis: (Henryanus)













