Terupdate

Di SMK Negeri Terelimir, Swasta pun Ditolak   Anak Pemulung ini Terancam Putus Sekolah

482
×

Di SMK Negeri Terelimir, Swasta pun Ditolak   Anak Pemulung ini Terancam Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini

SNIPERNEW.ID | PEKANBARU,- Seti­ap kali meli­hat teman­nya atau anak-anak lain berangkat dan pulang seko­lah den­gan riang gem­bi­ra, rema­ja bertubuh ramp­ing itu dihing­gapi perasaan cam­pur aduk. Sedih dan kece­wa kare­na tidak bisa seper­ti mere­ka walau juga pun­ya keing­i­nan kuat untuk berseko­lah seba­gai bekal masa depan­nya kelak.

Rema­ja berna­ma Dimas Harianto itu memang berna­sib malang. Sebu­lan sudah berlalu, sejak pelak­sanaan Pener­i­maan Peser­ta Didik Baru (PPDB) 2024 tingkat SMA/SMK Negeri Provin­si Riau berakhir, dan pros­es bela­jar men­ga­jar di seko­lah sudah dim­u­lai, tamatan MTSS Al-Fadil­lah Pekan­baru ini masih tak kun­jung men­da­p­atkan seko­lah untuk melan­jut pen­didikan yang sesuai kemam­puan orang­tu­anya.

Cer­i­tanya, saat selek­si PPDB tem­po hari, Dimas mendaf­tar lewat jalur afir­masi (kelu­ar­ga tak mam­pu) di SMK Negeri 2 Pekan­baru den­gan pil­i­han juru­san Teknik Jaringan Kom­put­er dan Teleko­mu­nikasi. Namun, anak sulung dari tiga bersaudara buah perkaw­inan Hardianto Gunawan dan Lisa Wati ini tere­lim­i­nasi dari perangkingan calon siswa alias tidak lulus.

Keti­dak lulu­san­nya di SMK 2 yang berlokasi di Jalan Pat­timu­ra itu di luar dugaan dan jadi tan­da tanya. Kare­na sejauh yang dike­tahui, calon siswa yang masuk dari jalur afir­masi atau kelu­ar­ga tak mam­pu yang men­gan­ton­gi Kar­tu Kelu­ar­ga Sejahtera (KSS), biasanya akan dipri­or­i­taskan diter­i­ma di seko­lah negeri. Namun apa daya, sta­tus orang­tu­anya seba­gai Penyan­dang Masalah Kese­jahter­aan Sosial (PMKS) yang diter­bitkan pemer­in­tah tidak dap­at mem­ban­tu.

Dimas ten­tu saja san­gat sedih dan kece­wa. Pada­hal, ia san­gat berharap dap­at masuk SMKN 2 itu, kare­na dis­amp­ing sesuai den­gan keing­i­nan­nya, juga tidak ter­lalu jauh dari rumah­nya di kawasan Labuh Baru Barat, Payung Seka­ki, Pekan­baru. Lebih-lebih, ia bisa berseko­lah di situ tan­pa dipungut kare­na kare­na berasal dari kelu­ar­ga tidak mam­pu. Den­gan demikian, orang­tu­anya yang berekono­mi lemah tidak pus­ing lagi memikirkan biaya seko­lah­nya.

Sete­lah gagal masuk SMKN 2, oleh orang tuanya Dimas kemu­di­an didaf­tarkan di SMK Muham­madiyah lewat PPDB Swasta jalur afir­masi. Sayang, rema­ja lugu ini juga dito­lak alias tidak lulus saat pros­es selek­si di seko­lah terse­but. Kenyaataan itu ten­tu saja mem­bu­at Dimas dan ked­ua orang tuanya merasa sedih dan cukup ter­pukul. Namun, lagi-lagi apa daya, mere­ka orang miskin sehing­ga tidak bisa berbu­at banyak.

Bagaimana tidak, ayah Dimas hanya peker­ja ser­abu­tan dan lebih ser­ing seba­gai pemu­lung yang peng­hasi­lan­nya ter­batas dan tidak tetap. Untuk menam­bah peng­hasi­lan kelu­ar­ga, sang ibu ikut bant­i­ng tulang den­gan men­ja­di tukang cuci di rumah orang kaya di sek­i­tar kedia­man mere­ka. Kendati ked­ua orang­tu­anya bek­er­ja, toh peng­hasi­lan mere­ka tidak sepenuh­nya men­cukupi biaya hidup sehari-hari kelu­ar­ganya. Mere­ka juga ting­gal di rumah sewaan di Jalan Safari, Labuh Baru Barat.

  Demo Sengketa Lahan Ricuh, Warga Jadi Korban

Akan tetapi, meli­hat kemauan Dimas yang ting­gi untuk melan­jutkan pen­didikan dan didukung keing­i­nan meraih masa depan lebih baik, lewat Ros­bi­nar Huta­gaol, salah satu pen­gu­rus Alian­si Media Indone­sia (AMI) DPW Riau, kenalan dari orang tua Dimas, coba dicarikan solusinya. Selan­jut­nya, per­soalan Dimas ini pun sam­pai kepa­da Ket­ua Koor­di­na­tor BEM se-Riau Alfikri Habibul­lah dan Ket­ua Koor­di­na­tor BEM Kota Pekan­baru, Maulana.

Ked­ua aktivis itu ter­pang­gil untuk mem­ban­tu mem­fasil­i­tasi keing­i­nan Dimas melalui Dinas Pen­didikan Riau. Ter­ma­suk mem­per­juangkan siswa kurang mam­pu lain­nya untuk men­da­p­atkan haknya berseko­lah di SMA dan SMK Negeri yang ter­dekat dan sesuai den­gan kon­disi kelu­ar­ganya. Mere­ka adalah calon siswa jalur afir­masi lain yang tere­lim­i­nasi dari selek­si PPDB 2024 lalu.

“Sebelum ke Dis­dik saya bersama rekan rekan maha­siswa men­datan­gi beber­a­pa seko­lah SMA dan SMK di Pekan­baru. Infor­masi yang dida­p­at dari pihak seko­lah, jika ada data siswa masuk dari Dis­dik, maka pihak seko­lah akan mene­r­i­manya,” ungkap Fikri menirukan uca­pan salah satu kepsek di Pekan­baru, kepa­da Lin­tas­Ri­au, baru-baru ini.

Fikri dan rekan-rekan­nya kemu­di­an men­datan­gi Kan­tor Dis­dik Riau dan lang­sung diter­i­ma peja­bat berwe­nang di instan­si itu. “Peja­bat itu berse­dia mem­beri solusi untuk Dimas den­gan merekom masuk ke SMKN 6 di Tenayan Raya. Peja­bat itu berdal­ih, hanya di SMKN 6 masih ada kuo­ta, sedan­gkan SMK lain­nya sudah penuh,” tutur Fikri.

Kare­na ter­lalu jauh jaraknya dari rumah, orang tua Dimas spon­tan meno­lak. “Alasan­nya, mere­ka orang miskin, pakai apa anaknya per­gi seko­lah yang ter­bilang jauh dari rumah mere­ka. Alhasil, sam­pai sekarang Dimas belum berseko­lah. Nasib­nya masih terkatung-katung dan ter­an­cam putus seko­lah,” sam­bung Fikri.

Pres­i­den Maha­siswa Umri ini bisa memak­lu­mi peno­lakan orang tua Dimas. Ia pun menyayangkan sikap peja­bat Dis­dik yang tidak respon­sif dan bijak dalam mem­berikan solusi kepa­da calon siswa jalur afir­masi yang terelem­i­nisi pada PPDB lalu.

“Semestinya direkom ke seko­lah ter­dekat sesuai kon­disi kelu­ar­ga calon siswa. Tapi ini tidak, pen­em­patan­nya cen­derung tidak bijak dan rasioon­al. Dan itu tidak hanya Dimas, hal yang sama juga diungkap siswa tak mam­pu lain­nya. Saya kira alasan bah­wa seko­lah yang direkom itu yang masih kosong hanya dal­ih saja. Ada kecuri­gaan peja­bat berwe­nang itu lebih menguta­makan calon siswa titi­pan dan masuk belakan­gan dari kalan­gan kole­ga dan peja­bat ketim­bang mere­ka yang mendaf­tar dari jalur afir­masi,” tan­das Fikri lagi.

Pun­yak Hak Sama,Menurut Ros­bi­nar Huta­gaol, semestinya calon siswa dari jalur ini afir­masi diberi pri­or­i­tas untuk masuk di seko­lah negeri, bukan malah seba­liknya. Sudahlah men­jalani kehidu­pan susah kare­na kelu­ar­ganya berekono­mi lemah, untuk men­da­p­atkan pen­didikan yang layak pun susah. Pada­hal, mere­ka juga pun­ya hak sama den­gan anak lain­nya.

  Profil Lengkap Camat Banyumas Kabupaten Pringsewu, Zainal Abidin, S.Pd., M.M.: Kiprah Kepemimpinan dan Kontribusi Untuk Pembangunan Daerah

“Seti­ap anak bangsa berhak men­da­p­at pen­didikan yang layak dan men­ja­di kewa­jiban negara. Para kepala seko­lah dan peja­bat berwe­nang di Dis­dik Riau sudah tahu dan san­gat paham akan hal itu. Tapi mere­ka abaikan den­gan berba­gai dal­ih kare­na ada mak­sud dan kepentin­gan ter­ten­tu. Sudah raha­sia umum, seti­ap PPDB selalu ada siswa titi­pan dan masuk belakang di seko­lah negeri di Riau,” papar Ros­bi­nar

Merasa pri­hatin den­gan nasib Dimas yang ter­an­cam putus seko­lah, lan­jut Ros­bi­nar ia bersama jajaran pen­gu­rus DPP AMI di bawah pimp­inan Ismail Sar­la­ta, ter­pang­gil untuk mem­ban­tu dan turun lang­sung mem­per­juangkan sam­pai rema­ja dari kelu­ar­ga miskin itu bisa melan­jutkan pen­didikan di SMK Negeri yang diinginkan.

“Ter­ma­suk juga calon siswa jalur afir­masi lain­nya yang ters­ingkir dari PPDB 2024 lalu yang jum­lah cukup banyak. Mere­ka adalah kor­ban dari kon­spir­asi atau per­mainan dalam pros­es PPDB oleh oknum kepala seko­lah dan peja­bat Dis­dik Riau,” tan­das Ros­bi­nar

Seba­gai langkah awal, DPP AMI telah menger­ahkan jajaran­nya pen­gu­rus organ­isas­inya untuk mengge­lar unjuk rasa di kan­tor Dinas Pen­didikan Riau dan dilan­jutkan ke DPRD Riau, Kamis (1/8/2024). Mere­ka men­datan­gi Dis­dik untuk mem­per­tanyakan kepa­da peja­bat berwe­nang terkait keter­bukaan atau transparan­si dan azas kead­i­lan dalam pelak­sanaan PPDB 2024. Kare­na nyatanya PPDB lalu meny­isakan masalah, yang disinyalir aki­bat adanya kon­spir­asi untuk kepentin­gan ter­ten­tu.

“Makanya kita sen­ga­ja meng­hadirkan Dimas dan seo­rang lulu­san SMP seder­a­jat yang sama-sama tere­lim­i­nasi saat mendaf­tar lewat jalur afir­masi bersama orang tuanya, seba­gai salah satu buk­ti pelak­sanaan PPDB lalu masih jauh dari berkead­i­lan. Kita ingin lihat apakah kehadi­ran anak yang ter­an­cam putus seko­lah ini dalam unjuk rasa yang kami lakukan kemarin akan meng­gu­gah peja­bat berwe­nang di Dis­dik atau seba­liknya, tetap tut­up mata dan tak peduli,” beber Ros­bi­nar.

Keny­ataan­nya, lan­jut dia, saat aksi demo yang dimo­tori DPP AMI kemarin itu masih tidak diper­oleh kepas­t­ian atau solusi dari peja­bat berwe­nang di Dis­dik Riau terkait nasib Dimas dan calon siswa yang terelem­i­nir pada PPDB lalu. Dis­ayangkan pula, keing­i­nan para aktivis AMI untuk bisa berte­mu dan berdia­log lang­sung den­gan peja­bat Dis­dik Riau terkait, yakni Edi Rus­mad­i­na­ta (Sekre­taris Dis­dik Riau) dan Arden Simeru (Kabid SMK dan Ket­ua PPDB Riau 2024), tidak dik­ab­ulkan.

Dis­amp­ing tidak diperke­nankan masuk hala­man kan­tor, Pihak Dis­dik Riau hanya mengutus AM Suyan­to, Pen­gawas Bidang SMA/SMK, untuk men­e­mui mas­sa aksi di depan pagar ger­bang di ping­gir jalan Cut Nyak Dien itu. Suy­at­no yang didampin­gi sejum­lah pegawai Dis­dik dan aparat kea­manan men­gatakan ia men­da­p­at per­in­tah dari pimp­inan untuk men­e­mui dan men­jawab apa yang men­ja­di keluhan dari mas­sa AMI yang mengge­lar unjuk rasa sep­utar selek­si PPDB 2024 yang telah berlalu.

  Bara Rokok Picu Kebakaran Petasan, Detik-Detik Mencekam Terekam Video

“Pada prin­sip­nya, kami dari pihak dinas telah bek­er­ja sesuai atu­ran dan reg­u­lasi yang ada. Terkait anak-anak kita yang belum men­da­p­atkan pen­didikan yang layak, nan­ti juga saya akan sam­paikan kepa­da pimp­inan,” kata Ros­bi­nar men­gu­lang perny­ataan per­wak­i­lan dari Dis­dik saat aksi demo AMI Kamis pagi kemarin.

Semestinya, peja­bat Dis­dik terkait tidak per­lu takut den­gan kedatan­gan aktivis AMI yang bermak­sud hanya menyam­paikan aspi­rasi dan keing­i­nan mulia bagaimana anak kelu­ar­ga yang tak mam­pu tetap bisa men­da­p­atkan hak pen­didikan yang layak.

“Keeng­ganan Sekre­taris Dis­dik dan Kabid SMK men­e­mui kami makin men­guatkan indikasi ada keti­dak bere­san dan pelang­garan dalam PPDB lalu. Mere­ka terke­san berusa­ha menyem­bun­yikan dan men­ge­labui den­gan berba­gai perny­ataan bah­wa PPDB sudah ber­jalan secara baik dan benar. Pada­hal tidak demkian dan itu masuk kat­e­gori pem­bo­hon­gan pub­lik. Tapi kita tidak ting­gal diam apala­gi, per­soalan ini akan tetap ditin­dak­lan­ju­ti dan dikaw­al sam­pai tun­tas, jika per­lu sam­pai ke ranah hukum,” beber Ros­bi­nar.

Aktivis AMI yang juga juga pimp­inan sebuah media online itu cukup lega dan bersyukur kare­na aspi­rasi yang diper­juangkan organ­isas­inya men­da­p­at respons posi­tif dari wak­il raky­at di DPRD Riau. Saat mengge­lar unjuk rasa di rumah raky­at itu di hari yang sama, dua anggoat dewan dari Komisi V, yakni Eva Yuliana dari Par­tai Demokrat dan Syofyan Siroj dari PKS, mener­i­ma den­gan baik. Ked­u­anya juga berse­dia mem­ban­tu menun­taskan per­masala­han PPDB 2024 lalu, di antaranya den­gan ikut men­dorong rekan-rekan di Komisi V yang mem­bidan­gi Pen­didikan untuk mengge­lar hear­ing atau den­gar pen­da­p­at den­gan Dis­dik dan sejum­lah kepala SMAN/SMKN terkait den­gan meli­batkan DPP AMI dan orang tua calon siswa jalur afir­masi.

“Kita memang minta dilakukan hear­ing, dan Alham­dulil­lah ked­ua anggota dewan itu setu­ju, tapi mere­ka kita men­ga­jukan surat res­mi kepa­da Komisi V untuk mem­fasil­i­tasi penye­leng­garaan hear­ing terse­but. Kita di DPP AMI sudah sep­a­kat untuk menyegerakan buat surat yang dim­inta.

Mudah-muda­han anggota dewan Komisi V komit untuk mengge­lar hear­ing terse­but. Saya yakin, lewat hear­ing itu selu­ruh pros­es PPDB lalu akan dibu­ka dan dike­tahui, apakah sesuai atau pelang­garan. Itu juga jadi acuan kita dari DPP AMI untuk tin­dakan selan­jut­nya,” ulas Ros­bi­nar.

Berke­naan den­gan nasib Dimas dan casis jalur afir­masi yang tere­lim­i­nasi pada PPDB 2024 lalu, ked­ua wak­il raky­at itu juga ber­jan­ji akan mem­ban­tu sehing­ga mere­ka tetap bisa beroleh haknya men­da­p­atkan pen­didikan layak.

“Pak Syofyan Siroj tegas men­gatakan jan­gan sam­pai ada war­ga negara terelem­i­nir. Nah, semoga saja demikian, sehing­ga Dimas dan teman yang sena­sib lain­nya tidak lagi merasa nestapa kare­na tidak bisa melan­jutkan seko­lah,” pungkas Rosbinar.(Yelsi M.S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *