Berita Daerah

Deputi Kemenko Polhukam Tekankan Sinergi Aparat di Rakor Implementasi KUHP Baru Makassar

296
×

Deputi Kemenko Polhukam Tekankan Sinergi Aparat di Rakor Implementasi KUHP Baru Makassar

Sebarkan artikel ini

Makas­sar, SniperNew.id – Pemer­in­tah melalui Kementer­ian Koor­di­na­tor Bidang Poli­tik, Hukum, dan Kea­manan (Kemenko Pol­hukam) terus mem­perku­at langkah imple­men­tasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru dis­ahkan melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023. Salah satu upaya nya­ta itu diwu­jud­kan lewat pelak­sanaan Rap­at Koor­di­nasi (Rakor) yang dip­impin lang­sung oleh Deputi Bidang Koor­di­nasi Keimi­grasian dan Pemasyarakatan, I Nyoman Gede Surya, di Kota Makas­sar.

Kegiatan strate­gis ini berlang­sung sela­ma tiga hari, yaitu pada 24–26 Sep­tem­ber 2025, bertem­pat di The Rin­ra Hotel Makas­sar. Rakor meng­hadirkan para pemangku kepentin­gan di bidang hukum dan pemer­in­ta­han daer­ah, khusus­nya yang berkai­tan erat den­gan per­an aparat pene­gak hukum di lapan­gan.

Dalam agen­da terse­but, Deputi I Nyoman Gede Surya tidak hadir sendiri­an. Ia didampin­gi oleh Staf Ahli Bidang Ker­ja Sama Hubun­gan Antar Lem­ba­ga Kemenko Pol­hukam, Cahyani Suryan­dari, ser­ta sejum­lah peja­bat lain­nya yang masuk dalam rom­bon­gan pusat.

Dari tingkat daer­ah, tam­pak hadir Kepala Kan­tor Wilayah Kementer­ian Imi­grasi dan Pemasyarakatan (Kemen Imi­pas) Sulawe­si Sela­tan, Rudy Fer­nan­do Sian­turi, ser­ta para Kepala Unit Pelak­sana Tek­nis (UPT) Pemasyarakatan se-Sulawe­si Sela­tan. Tak ket­ing­galan, per­wak­i­lan dari Organ­isasi Perangkat Daer­ah (OPD) Kota Makas­sar juga ikut mem­berikan kon­tribusi dalam forum ini.

Kom­po­sisi kehadi­ran yang cukup lengkap terse­but mene­gaskan bah­wa imple­men­tasi KUHP baru bukan hanya uru­san lem­ba­ga pusat, melainkan tang­gung jawab bersama lin­tas sek­tor, baik pusat maupun daer­ah.

Dalam sambu­tan­nya, Deputi I Nyoman Gede Surya menyam­paikan pesan pent­ing yang men­ja­di inti dari agen­da Rakor kali ini. Ia menekankan bah­wa sin­er­gi antar aparat pene­gak hukum adalah kun­ci uta­ma agar pen­er­a­pan KUHP baru dap­at ber­jalan sesuai hara­pan masyarakat.

  Takut Sunat di Usia 15 Tahun, Remaja Bekasi Akhirnya Dijemput Mobil Damkar

Menu­rut­nya, pen­er­a­pan atu­ran hukum tidak cukup hanya den­gan pema­haman sub­stan­si, tetapi juga mem­bu­tuhkan koor­di­nasi yang sol­id antar insti­tusi. “UU No. 1 Tahun 2023 adalah tong­gak sejarah pem­baru­an hukum pidana Indone­sia. Oleh kare­na itu, per­an strate­gis selu­ruh aparat pene­gak hukum san­gat menen­tukan agar pen­er­a­pan­nya dap­at ber­jalan den­gan baik, kon­sis­ten, dan berpi­hak pada kepentin­gan masyarakat,” ujar Nyoman den­gan tegas.

Ia menam­bahkan, momen per­al­i­han dari KUHP lama menu­ju KUHP baru bukan hanya sekadar tran­sisi tek­nis, melainkan bagian dari trans­for­masi besar dalam sis­tem hukum nasion­al.

Rakor yang dige­lar di Makas­sar ini juga men­ja­di forum diskusi men­dalam. Para peser­ta, baik dari unsur pusat maupun daer­ah, men­da­p­atkan ruang untuk menyam­paikan pan­dan­gan, tan­ta­n­gan yang dihadapi, hing­ga strate­gi yang diang­gap efek­tif dalam meny­ong­song imple­men­tasi KUHP baru.

Sejum­lah isu aktu­al turut diba­has, mulai dari kesi­a­pan aparat di lapan­gan, pema­haman masyarakat men­ge­nai reg­u­lasi baru, hing­ga kemu­ngk­i­nan ham­bat­an admin­is­tratif maupun tek­nis yang dap­at muncul di daer­ah.

Den­gan suasana diskusi yang ter­bu­ka, Rakor men­ja­di ajang untuk menya­makan persep­si. Hal ini pent­ing agar tidak ter­ja­di perbe­daan tafsir maupun tumpang tindih kewe­nan­gan saat KUHP baru res­mi dit­er­ap­kan secara menyelu­ruh.

Dalam kon­teks Sulawe­si Sela­tan, keber­adaan aparat pene­gak hukum yang bek­er­ja lang­sung den­gan masyarakat diang­gap memi­li­ki per­an yang san­gat strate­gis. Mere­ka bukan hanya men­ja­di pelak­sana tek­nis, melainkan juga jem­bat­an komu­nikasi antara reg­u­lasi baru den­gan masyarakat luas.

Deputi mene­gaskan, kesi­a­pan aparat di daer­ah akan san­gat menen­tukan keber­hasi­lan imple­men­tasi. Apa­bi­la aparat tidak mema­ha­mi sub­stan­si hukum secara utuh, maka risiko salah tafsir hing­ga kesala­han prose­dur bisa saja muncul, dan pada akhirnya berdampak pada keper­cayaan masyarakat ter­hadap sis­tem hukum nasion­al.

  RPJMD Pesawaran Disepakati, Arah Lima Tahun

Beber­a­pa tan­ta­n­gan yang diiden­ti­fikasi dalam forum ini antara lain.  Sosial­isasi yang mer­a­ta — KUHP baru masih belum sepenuh­nya dipa­ha­mi oleh masyarakat awam, sehing­ga aparat ditun­tut untuk aktif mem­berikan edukasi.

- Kesi­a­pan sum­ber daya manu­sia — Aparat per­lu men­da­p­atkan pelati­han inten­sif agar mam­pu men­er­jemahkan reg­u­lasi dalam prak­tik hukum sehari-hari.

- Koor­di­nasi lin­tas sek­tor — Imple­men­tasi hukum pidana meli­batkan banyak insti­tusi. Tan­pa koor­di­nasi yang baik, pen­er­a­pan bisa tim­pang.

- Peruba­han par­a­dig­ma – KUHP baru mem­bawa sejum­lah pem­baru­an sub­stan­si, ter­ma­suk pen­dekatan ter­hadap tin­dak pidana ter­ten­tu. Aparat per­lu menye­suaikan pola pikir dan cara ker­ja.

Mes­ki demikian, opti­misme tetap menge­mu­ka. Melalui forum Rakor ini, para peser­ta meny­atakan komit­men bersama untuk men­gatasi berba­gai tan­ta­n­gan terse­but den­gan seman­gat kolab­o­rasi.

Deputi Nyoman menekankan bah­wa KUHP baru hadir bukan sekadar meng­gan­ti atu­ran lama, tetapi seba­gai pilar pem­baru­an hukum pidana Indone­sia. Den­gan seman­gat kead­i­lan, KUHP baru dihara­p­kan mam­pu men­jawab dinami­ka sosial, poli­tik, dan budaya masyarakat Indone­sia yang terus berkem­bang.

Lebih lan­jut, ia menye­but bah­wa KUHP baru juga diran­cang untuk mem­berikan kepas­t­ian hukum. Hal ini men­ja­di pent­ing kare­na dalam prak­tiknya, banyak kasus hukum yang sebelum­nya menim­bulkan perde­batan aki­bat adanya celah atau keti­dak­je­lasan dalam atu­ran lama.

“Den­gan KUHP baru, kita ingin meng­hadirkan hukum yang lebih jelas, lebih tegas, dan mam­pu men­ja­di lan­dasan bagi ter­cip­tanya kead­i­lan bagi selu­ruh masyarakat,” tam­bah­nya.

Kehadi­ran per­wak­i­lan OPD Kota Makas­sar juga men­ja­di sorotan pent­ing. Seba­gai perangkat pemer­in­ta­han yang lang­sung bersen­tuhan den­gan masyarakat, OPD memi­li­ki per­an untuk men­dukung sosial­isasi, edukasi, sekali­gus fasil­i­tasi pen­er­a­pan reg­u­lasi baru.

Deputi berharap, pemer­in­tah daer­ah dap­at ikut berkon­tribusi, mis­al­nya den­gan menye­di­akan ruang-ruang edukasi hukum, mem­ban­gun ker­ja sama den­gan per­gu­ru­an ting­gi, hing­ga meng­gan­deng organ­isasi masyarakat sip­il dalam mem­per­lu­as pema­haman pub­lik.

  Akses Jalan Rusak, Warga Maninjau Terpaksa Gunakan Jalur Danau untuk Kebutuhan Harian

Walaupun kegiatan ini dige­lar di Sulawe­si Sela­tan, hasil dan rekomen­dasi dari forum Rakor diyaki­ni akan mem­berikan dampak lebih luas secara nasion­al. Seti­ap daer­ah memi­li­ki tan­ta­n­gan berbe­da, namun prin­sip sin­er­gi dan koor­di­nasi bisa men­ja­di pola ker­ja yang dit­er­ap­kan di selu­ruh Indone­sia.

Makas­sar sendiri dip­il­ih seba­gai lokasi kare­na diang­gap seba­gai salah satu kota strate­gis di kawasan timur Indone­sia. Den­gan posisi terse­but, keber­hasi­lan imple­men­tasi di Makas­sar dap­at men­ja­di con­toh bagi daer­ah lain di sek­i­tarnya.

Menut­up forum Rakor, Deputi I Nyoman Gede Surya menyam­paikan apre­si­asi kepa­da selu­ruh pihak yang telah berpar­tisi­pasi aktif. Ia mene­gaskan kem­bali hara­pan­nya agar selu­ruh aparat pene­gak hukum dap­at lebih siap dan sol­id dalam men­jalankan tugas.

“Kita ingin memas­tikan bah­wa pelak­sanaan KUHP baru benar-benar meng­hadirkan kepas­t­ian hukum dan rasa kead­i­lan yang mer­a­ta bagi masyarakat Indone­sia. Den­gan keber­samaan, saya yakin kita mam­pu mewu­jud­kan­nya,” pungkas­nya.

Rakor Imple­men­tasi KUHP baru di Makas­sar bukan hanya sebatas acara ser­e­mo­ni­al, melainkan momen­tum pent­ing dalam per­jalanan pem­baru­an hukum pidana Indone­sia. Den­gan meli­batkan berba­gai unsur, mulai dari peja­bat pusat hing­ga aparat daer­ah, kegiatan ini menandai keseriu­san pemer­in­tah dalam memas­tikan tran­sisi menu­ju KUHP baru ber­jalan mulus.

Sin­er­gi, koor­di­nasi, dan kesi­a­pan aparat men­ja­di tiga kata kun­ci yang terus digaris­bawahi sep­a­n­jang forum. Kini, tan­ta­n­gan selan­jut­nya adalah bagaimana selu­ruh pihak dap­at mewu­jud­kan komit­men terse­but dalam prak­tik nya­ta di lapan­gan.

Apa­bi­la hal itu berhasil diwu­jud­kan, maka KUHP baru tidak hanya sekadar reg­u­lasi di atas ker­tas, tetapi benar-benar hadir seba­gai instru­men hukum yang mem­berikan kead­i­lan dan kepas­t­ian bagi selu­ruh raky­at Indone­sia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *