Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Viral

Depresiasi Rupiah dan Kekuasaan Oligarki: Seruan untuk Merdeka dari Cengkraman Elit

493
×

Depresiasi Rupiah dan Kekuasaan Oligarki: Seruan untuk Merdeka dari Cengkraman Elit

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SeniperNew.id — Pada 5 Agus­tus 2025, sebuah pesan beran­tai berisi video dan perny­ataan yang men­gun­dang per­ha­t­ian pub­lik beredar luas di grup What­sApp berna­ma Detek­tif Inves­ti­gasi GWI. Pesan ini meny­oroti kon­disi perekono­mi­an Indone­sia, khusus­nya depre­si­asi rupi­ah, ser­ta isu oli­gar­ki dan pelema­han lem­ba­ga hukum negara. Dalam video berdurasi 9 menit 10 detik, tam­pak sosok ekonom senior, Prof. Kwik Kian Gie, yang menyam­paikan data terkait kemerosotan nilai tukar rupi­ah ter­hadap dolar Ameri­ka Serikat (AS).

Dise­butkan dalam pesan terse­but, menu­rut Prof. Kwik, dari tahun 1970 hing­ga 2018, kurs rupi­ah telah men­gala­mi depre­si­asi sebe­sar 3.757% ter­hadap dolar AS. Angka ini dise­but terus mem­bu­ruk hing­ga men­ca­pai 4.413% per 5 Agus­tus 2025. Pesan itu men­gan­dung ajakan untuk mem­bu­ka mata atas kon­disi ini dan men­gaitkan kemerosotan terse­but den­gan dom­i­nasi kekuasaan oli­gar­ki di Indone­sia.

Pesan ini dibagikan oleh akun berna­ma Helmy As’ad yang mengi­den­ti­fikasi dirinya seba­gai “Helmy Akun­tan NDeso,” ser­ta mengk­laim seba­gai satu-sat­un­ya sak­si mata yang masih hidup atas peri­s­ti­wa tewas­nya UU KPK aki­bat ulah oli­gar­ki.

Narasi Kri­tik dan Tuduhan ter­hadap Oli­gar­ki, Lebih lan­jut, pesan terse­but menyerukan kepa­da pub­lik untuk tidak lagi ter­je­bak dalam perde­batan men­ge­nai isu ijazah pal­su yang belakan­gan men­ja­di sorotan pub­lik. Menu­rut pen­gir­im, benar atau pal­sun­ya ijazah terse­but akan ter­jawab oleh wak­tu. Ia meni­lai bah­wa keribu­tan itu hanya bagian dari pen­gal­i­han isu besar yang lebih berdampak ter­hadap bangsa, yakni per­an oli­gar­ki dalam melemahkan sis­tem hukum dan demokrasi di Indone­sia.

  Putar Suara Alam di Kafe Tetap Kena Royalti, LMKN Tuai Respons Warganet

“Sudahlah hen­tikan keribu­tan soal Ijazah Pal­su. Pal­su dan tidak paslu, wak­tu nan­ti yang akan mem­buk­tikan­nya,” tulis Helmy dalam pesan terse­but.

Helmy menud­ing keka­cauan di Indone­sia adalah aki­bat cam­pur tan­gan keku­atan oli­gar­ki yang berusa­ha men­gadu dom­ba raky­at. Ia meny­ing­gung peri­s­ti­wa peruba­han Undang-Undang Komisi Pem­ber­an­tasan Korup­si (UU KPK) seba­gai titik awal kehan­cu­ran sis­tem pene­gakan hukum di Indone­sia.

Dari Kelahi­ran Hing­ga “Kema­t­ian” UU KPK. Helmy meru­juk pada UU KPK tahun 2002 yang lahir pada masa pemer­in­ta­han Pres­i­den Megawati Soekarnop­u­tri seba­gai tong­gak pent­ing pem­ber­an­tasan korup­si di Indone­sia. Namun, menu­rut­nya, “may­at” UU KPK itu kemu­di­an dimu­ti­lasi lewat revisi UU KPK tahun 2019 yang kon­tro­ver­sial dan hing­ga kini masih berlaku.

Ia menam­bahkan, revisi UU KPK terse­but diber­lakukan tan­pa adanya tan­da tan­gan Pres­i­den Joko Wido­do. Hal ini menu­rut­nya men­ja­di buk­ti lemah­nya komit­men negara ter­hadap pene­gakan hukum.

Dalam narasi terse­but, ia menggam­barkan kon­disi KPK dan Kejak­saan seper­ti dua “Ger­hana Mata­hari Kem­bar” — sebuah metafo­ra yang menggam­barkan kon­disi gelap dan tak menen­tu. Dise­butkan bah­wa kasus di KPK bisa men­da­p­atkan amnesti, semen­tara kasus di Kejak­saan dap­at diberi abolisi.

  Warga Geruduk Truk Sawit, Dirut PT NS Turun Tangan Langsung

Pada akhir pesan, Helmy menyerukan agar selu­ruh per­masala­han ini dis­am­paikan kepa­da Pres­i­den Prabowo Subianto. Ia berharap Prabowo dap­at tampil seba­gai The Real Pres­i­dent, pemimpin sejati yang mam­pu mem­be­baskan bangsa dari cengkra­man oli­gar­ki yang dise­but­nya telah men­jer­at sis­tem demokrasi dan kead­i­lan di Indone­sia.

“Ayo pri­hal terse­but kita sam­paikan kepa­da Pres­i­den Prabowo agar bisa men­ja­di The Real Pres­i­dent. Supaya kita semua bisa MERDEKA dan ter­lepas dari kuat­nya cengkra­man OLIGARKI,” tut­up pesan terse­but.

Per­lu dicatat, narasi yang terse­bar melalui media sosial dan pesan beran­tai semacam ini harus disikapi den­gan kehati-hat­ian. Beber­a­pa perny­ataan dan data yang diku­tip dalam pesan terse­but per­lu diver­i­fikasi lebih lan­jut den­gan sum­ber yang kred­i­bel. Mis­al­nya, data depre­si­asi rupi­ah yang dise­but men­ca­pai 4.413% sejak 1970 hing­ga 2025 memang mencer­minkan pelema­han nilai tukar, namun harus dije­laskan kon­teks his­toris, ekono­mi glob­al, dan kebi­jakan nasion­al yang mem­pen­garuhi angka terse­but agar tidak dis­ala­har­tikan.

Prof. Kwik Kian Gie sendiri adalah seo­rang ekonom dan man­tan Menteri Peren­canaan Pem­ban­gu­nan Nasion­al, yang dike­nal kri­tis ter­hadap kebi­jakan ekono­mi neolib­er­al dan ser­ing menyuarakan pent­ingnya keber­pi­hakan pada raky­at kecil. Namun, tidak dike­tahui secara pasti apakah video yang dibagikan dalam pesan terse­but meru­pakan bagian dari wawan­cara ter­baru atau poton­gan video lama yang died­it ulang.

Semen­tara itu, isu revisi UU KPK 2019 memang men­u­ai banyak kri­tik dari pub­lik, akademisi, dan kelom­pok masyarakat sip­il kare­na dini­lai melemahkan fungsi lem­ba­ga anti­ra­suah. Namun, secara hukum, undang-undang tetap sah berlaku sete­lah mele­wati pros­es leg­is­lasi di DPR dan dicatat dalam lem­bar negara, meskipun tan­pa tan­da tan­gan pres­i­den, seba­gaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (5) UUD 1945.

  Warga RT 05 Sambut Haru Kepulangan Toyip: Bukti Nyata Rasa Peduli dan Solidaritas

Narasi seper­ti yang dis­am­paikan oleh Helmy mencer­minkan kekhawati­ran seba­gian kalan­gan masyarakat ter­hadap per­an keku­atan ekono­mi-poli­tik dalam mem­pen­garuhi kebi­jakan negara. Oli­gar­ki — isti­lah yang digu­nakan untuk menggam­barkan kekuasaan yang terkon­sen­trasi pada segelin­tir elit — memang men­ja­di top­ik perde­batan serius dalam demokrasi mod­ern.

Seru­an untuk mem­be­baskan diri dari cengkra­man oli­gar­ki mencer­minkan keing­i­nan agar Indone­sia men­ja­di negara yang lebih adil, bersih dari korup­si, dan berdaulat secara ekono­mi. Namun, pros­es mewu­jud­kan hal terse­but harus tetap bera­da dalam kori­dor kon­sti­tusi, hukum, dan prin­sip eti­ka jur­nal­is­tik ser­ta demokrasi yang sehat.

Pesan yang viral melalui grup What­sApp ini menggam­barkan kere­sa­han seba­gian masyarakat ter­hadap kon­disi ekono­mi dan poli­tik nasion­al. Di satu sisi, pesan ini dap­at dil­i­hat seba­gai ekspre­si kri­tik dan aspi­rasi. Namun, masyarakat harus tetap kri­tis dan selek­tif dalam menyikapi infor­masi, memas­tikan keab­sa­han data dan tidak ter­je­bak dalam hoaks atau pro­pa­gan­da yang dap­at mem­perkeruh suasana kebangsaan.

Narasi soal depre­si­asi rupi­ah, pelema­han KPK, ser­ta tudin­gan ter­hadap oli­gar­ki per­lu didiskusikan dalam forum ter­bu­ka den­gan meli­batkan berba­gai per­spek­tif. Hanya den­gan cara ini­lah Indone­sia bisa men­ja­ga seman­gat kemerdekaan dan tetap bera­da di jalur demokrasi yang sehat dan berdaulat.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *