Berita Daerah

Buol dan Tolitoli Terancam Gempa Dahsyat, BMKG: Tinggal Menunggu Waktu

449
×

Buol dan Tolitoli Terancam Gempa Dahsyat, BMKG: Tinggal Menunggu Waktu

Sebarkan artikel ini

Sulawe­si Ten­gah, SniperNew.id – Badan Mete­o­rolo­gi, Kli­ma­tolo­gi, dan Geofisi­ka (BMKG) kem­bali mengin­gatkan adanya poten­si gem­pa megath­rust dah­sy­at yang bisa meng­gun­cang wilayah utara Pulau Sulawe­si, khusus­nya Kabu­pat­en Buol dan Toli­toli, dua daer­ah yang dini­lai pal­ing berisiko ter­dampak lang­sung. Poten­si gem­pa ini bahkan dise­but dap­at men­ca­pai mag­ni­tu­do 8,5 dan dis­er­tai tsuna­mi set­ing­gi 20 meter, Rabu (06/08/25).

Peringatan ini bukan isapan jem­pol. Zona megath­rust Sulawe­si Utara meru­pakan jalur sub­duk­si aktif yang mem­ben­tang dari Laut Sulawe­si hing­ga Laut Maluku. Aktiv­i­tas tek­tonik di wilayah ini ter­go­long ting­gi, dan saat ini kon­disi di zona terse­but dini­lai “san­gat siap” untuk melepaskan ener­gi besar yang telah lama ter­aku­mu­lasi.

“Ting­gal Menung­gu Wak­tu”

Kepala Pusat Gem­pa Bumi dan Tsuna­mi BMKG, Dary­ono, mene­gaskan bah­wa anca­man ini nya­ta dan san­gat serius. Menu­rut­nya, kon­disi megath­rust di wilayah terse­but ibarat bom wak­tu yang bisa meledak kapan saja.“Kita tidak tahu kapan akan ter­ja­di, tapi masyarakat harus siap mulai dari sekarang,” ujar Dary­ono dalam perny­ataan resminya.

  Viral Pengungsi Banjir Aceh Sampaikan Terima Kasih Donasi

Ia menyam­paikan bah­wa kesi­ap­si­a­gaan adalah kun­ci untuk men­gu­ran­gi dampak kor­ban jiwa dan kerusakan apa­bi­la ske­nario ter­bu­ruk benar-benar ter­ja­di.

Dari hasil pemetaan risiko BMKG, dua kabu­pat­en yang pal­ing ter­an­cam adalah Buol dan Toli­toli di Provin­si Sulawe­si Ten­gah. Ked­ua wilayah ini bera­da tepat di depan zona sub­duk­si megath­rust dan berpoten­si men­ja­di lokasi ter­dampak uta­ma.

Kabu­pat­en Buol dan Toli­toli memi­li­ki garis pan­tai yang cukup pan­jang dan lang­sung meng­hadap Laut Sulawe­si, men­jadikan­nya san­gat rentan ter­hadap dampak tsuna­mi. Den­gan ket­ing­gian tsuna­mi yang dipredik­si bisa men­ca­pai 20 meter, poten­si kerusakan bisa san­gat masif jika tidak ada langkah mit­i­gasi yang segera diam­bil.

Abdul­lah, penga­mat keben­canaan di Sulawe­si Ten­gah, mengin­gatkan bah­wa poten­si megath­rust ini bukan sekadar ske­nario di atas ker­tas. Menu­rut­nya, sejarah men­catat bah­wa wilayah Indone­sia sudah beber­a­pa kali digun­cang gem­pa besar aki­bat megath­rust, seper­ti yang ter­ja­di di Aceh (2004), Mentawai (2010), dan Palu (2018).

  Al-Hidayah Pesawaran Tebar 102 Paket Santunan, Bupati Ajak Perkuat Kepedulian di Bulan Suci

“Anca­man ini nya­ta dan riil. Harus ada pro­gram pence­ga­han, mit­i­gasi, dan kesi­ap­si­a­gaan segera,” tegas Abdul­lah.

Ia juga meny­oroti min­im­nya jalur evakuasi, kurangnya edukasi masyarakat, ser­ta lemah­nya sis­tem peringatan dini di daer­ah-daer­ah ter­pen­cil seper­ti Buol dan Toli­toli.

Ske­nario Ter­bu­ruk: Gem­pa Mag­ni­tu­do 8,5 dan Tsuna­mi 20 Meter

Dalam ske­nario ter­bu­ruk yang dipa­parkan BMKG, jika zona megath­rust ini benar-benar melepaskan energinya, gem­pa berkeku­atan M 8,5 dap­at memicu tsuna­mi den­gan ket­ing­gian men­ca­pai 20 meter. Gelom­bang ini diperki­rakan akan sam­pai ke daratan hanya dalam hitun­gan menit sete­lah gem­pa ter­ja­di.

Kon­disi geografis Buol dan Toli­toli yang berbuk­it dan memi­li­ki banyak pemuki­man di kawasan pesisir mem­bu­at wak­tu respons men­ja­di san­gat kru­sial. Tan­pa sis­tem peringatan dini dan jalur evakuasi yang jelas, poten­si kor­ban jiwa bisa san­gat besar.

BMKG dan para ahli keben­canaan menyerukan agar pemer­in­tah daer­ah, instan­si terkait, dan selu­ruh lapisan masyarakat segera mengam­bil langkah nya­ta dalam meng­hadapi poten­si ben­cana ini.

Beber­a­pa langkah pri­or­i­tas yang direkomen­dasikan antara lain:

1. Pem­ban­gu­nan Jalur Evakuasi dan Tem­pat Aman
Infra­struk­tur evakuasi harus diban­gun dan dipetakan den­gan jelas agar masyarakat tahu ke mana harus menye­la­matkan diri.

  Takut Sunat di Usia 15 Tahun, Remaja Bekasi Akhirnya Dijemput Mobil Damkar

2. Edukasi dan Sim­u­lasi Rutin
War­ga harus dibekali penge­tahuan ten­tang tan­da-tan­da gem­pa dan tsuna­mi, ser­ta cara bertin­dak cepat saat ben­cana ter­ja­di.

3. Pemasan­gan Sis­tem Peringatan Dini
Teknolo­gi detek­si gem­pa dan tsuna­mi per­lu diper­banyak dan diop­ti­malkan di wilayah-wilayah rawan.

4. Penataan Pemuki­man Pesisir
Pen­in­jauan kem­bali izin pem­ban­gu­nan di kawasan pesisir harus dilakukan untuk mem­i­ni­mal­isasi risiko.

Mes­ki anca­man yang dipa­parkan ter­den­gar men­gerikan, para ahli mengin­gatkan bah­wa ketaku­tan bukan solusi. Seba­liknya, kesi­ap­si­a­gaan dan edukasi adalah kun­ci uta­ma untuk meng­hadapi ben­cana secara cer­das.

Dary­ono menekankan bah­wa Indone­sia bera­da di “ring of fire” dan tak bisa lep­as dari anca­man gem­pa ser­ta tsuna­mi. Namun, pen­gala­man dan teknolo­gi harus bisa dijadikan sen­ja­ta untuk mem­i­ni­mal­isasi risiko.

“Ben­cana tidak bisa dice­gah, tapi dampaknya bisa diku­ran­gi,” ujarnya.

Den­gan segala poten­si ben­cana yang meng­in­tai, Buol dan Toli­toli harus segera berbe­nah. Kesi­ap­si­a­gaan bukan lagi pil­i­han, melainkan keharu­san. Masyarakat harus sadar bah­wa ben­cana bisa datang kapan saja, dan yang bisa menye­la­matkan nyawa adalah per­si­a­pan yang matang sejak sekarang. (Rilis/Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *