Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

ASN Tembak Pelajar Hingga Tewas, Tuntutan Hanya 4 Tahun: Keluarga Menjerit Cari Keadilan

424
×

ASN Tembak Pelajar Hingga Tewas, Tuntutan Hanya 4 Tahun: Keluarga Menjerit Cari Keadilan

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Kasus pen­em­bakan seo­rang pela­jar berna­ma Muham­mad Ihsan kem­bali men­ja­di sorotan pub­lik sete­lah kelu­ar­ganya menyam­paikan keke­ce­waan men­dalam ter­hadap tun­tu­tan ringan yang diberikan kepa­da pelaku. Ihsan, seo­rang anak di bawah umur, mening­gal dunia sete­lah ditem­bak di kepala pada 30 April 2025.

Pelaku, seo­rang Aparatur Sip­il Negara (ASN) berin­isial HW beru­sia 47 tahun, hanya ditun­tut den­gan huku­man 4 tahun pen­jara oleh jak­sa.

Kepu­tu­san terse­but memicu gelom­bang keke­ce­waan kelu­ar­ga kor­ban yang meni­lai pene­gakan hukum di Indone­sia belum mencer­minkan rasa kead­i­lan, Sab­tu (06/09).

Kor­ban, Muham­mad Ihsan, masih duduk di bangku seko­lah dan baru 7 bulan ting­gal di Pekan­baru. Menu­rut kelu­ar­ga, Ihsan dike­nal pen­di­am dan belum banyak memi­li­ki teman di lingkun­gan barun­ya.

Pada malam keja­di­an, Ihsan diduga hanya ikut menon­ton keribu­tan rema­ja. Namun nasib malang menim­pa­nya saat pelaku HW men­gelu­arkan anca­man dan melepaskan tem­bakan dari jarak dekat.

Pelaku sendiri bukan orang sem­barangan. HW dike­tahui adalah seo­rang ASN beru­sia 47 tahun. Posisi dan sta­tus­nya di pemer­in­ta­han mem­bu­at kasus ini semakin men­u­ai per­ha­t­ian. Sebab, pub­lik meni­lai seo­rang aparatur negara semestinya men­ja­di teladan, bukan jus­tru melakukan tin­dakan yang merenggut nyawa anak di bawah umur.

  Tersangka Korupsi Kegiatan Pembuatan dan Pengelolaan Jaringan Informasi pada Dinas PMD Ditetapkan

Trage­di pen­em­bakan terse­but berlang­sung pada 30 April 2025 di kawasan Pekan­baru, Riau. Peri­s­ti­wa itu ter­ja­di saat beber­a­pa rema­ja diduga ter­li­bat perke­lahi­an kecil.

Namun, menu­rut sak­si kelu­ar­ga, kor­ban tidak ikut ter­li­bat. Jus­tru keti­ka pelaku datang, ia men­gan­cam den­gan kali­mat keras sebelum akhirnya men­em­bak.

Beber­a­pa bulan kemu­di­an, kasus ini mulai disidan­gkan. Pada 6 Sep­tem­ber 2025, kelu­ar­ga kor­ban mengge­lar perte­muan den­gan kuasa hukum dan sejum­lah media untuk menyuarakan protes atas tun­tu­tan ringan yang hanya men­jatuhkan huku­man 4 tahun pen­jara kepa­da pelaku.

Keke­ce­waan kelu­ar­ga berlapis. Per­ta­ma, mere­ka merasa huku­man 4 tahun pen­jara dan den­da Rp20 juta tidak seband­ing den­gan hilangnya nyawa seo­rang anak. Ked­ua, kelu­ar­ga meni­lai pelaku seharus­nya dike­nakan pasal berlapis, bukan hanya Pasal 351 KUHP ten­tang pen­ga­ni­ayaan.

Nenek kor­ban, Defiati, den­gan tangis pilu mencer­i­takan bagaimana cucun­ya mening­gal den­gan cara men­ge­naskan.

Cucu saya ditem­bak dalam jarak hanya 3 meter. Dia tidak ikut berke­lahi, hanya menon­ton. Mus­tahil cucu saya ikut ter­li­bat, kare­na dia baru 7 bulan di Pekan­baru dan belum pun­ya teman,” ucap Defiati.

Defiati juga men­gungkap­kan kesedi­han men­dalam sete­lah jasad cucun­ya harus diotop­si.

Kepalanya dibelah, perut­nya dibedah. Kami ikhlas, tapi men­ga­pa pelaku hanya dihukum 4 tahun? Di mana letak kead­i­lan?” katanya den­gan suara berge­tar.

Selain Defiati, tante kor­ban berna­ma Tesa juga meno­lak keras tun­tu­tan ringan terse­but.

Saya tidak ter­i­ma. Kepon­akan saya ditem­bak hing­ga mening­gal, tapi pelaku hanya divo­nis 4 tahun. Saya akan terus berjuang,” tegas Tesa.

Kuasa hukum kelu­ar­ga, Rus­di Bro­mi, S.H., M.H, meni­lai tun­tu­tan jak­sa ter­lalu ringan dan jauh dari rasa kead­i­lan masyarakat. Ia mene­gaskan, seharus­nya pelaku dijer­at den­gan pasal yang lebih berat.

  Polisi kembali Ungkap Kasus Peredaran Narkotika di Rantau Utara

Rus­di mema­parkan bah­wa pen­em­bakan dari jarak dekat yang men­ge­nai kepala kor­ban hing­ga mening­gal dunia memenuhi unsur Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Per­lin­dun­gan Anak. Pasal terse­but men­gatur huku­man mak­si­mal 15 tahun pen­jara bagi pelaku yang men­gak­i­batkan anak mening­gal.

Selain itu, Rus­di juga meni­lai tin­dakan pelaku masuk dalam kat­e­gori pelang­garan Undang-Undang Daru­rat Nomor 12 Tahun 1951.

Sen­ja­ta angin bila mem­ba­hayakan masuk kat­e­gori sen­ja­ta berba­haya. Mestinya anca­man huku­man­nya bisa sam­pai 20 tahun pen­jara dan den­da Rp3 mil­iar. Tun­tu­tan 4 tahun itu san­gat tidak pro­por­sion­al,” kata Rus­di.

Ia menam­bahkan, jak­sa semestinya meng­gu­nakan kewe­nan­gan untuk mem­berikan tun­tu­tan mak­si­mal demi meng­hadirkan efek jera.

Kalau tun­tu­tan ringan seper­ti ini, bagaimana masyarakat bisa merasa aman? Anak-anak bangsa bisa men­ja­di kor­ban berikut­nya,” ujarnya.

Kasus ini men­u­ai sorotan luas, teruta­ma sete­lah kelu­ar­ga kor­ban menyuarakan keke­ce­waan di depan media. Pub­lik mem­per­tanyakan men­ga­pa seo­rang ASN yang ter­buk­ti men­em­bak anak hing­ga mening­gal jus­tru men­da­p­at tun­tu­tan yang dini­lai ringan.

Sejum­lah aktivis dan penga­mat hukum juga meni­lai lemah­nya tun­tu­tan jak­sa berpoten­si merusak keper­cayaan masyarakat ter­hadap sis­tem peradi­lan. Kri­tik tajam pun diarahkan agar aparat pene­gak hukum tidak main-main dalam menan­gani kasus yang menyangkut nyawa anak.

  Pengaduan Dugaan Terkait Dana Desa Desa Ladang Panjang di Kejati Jambi Terkesan Dingin

Kelu­ar­ga kor­ban berharap hakim dap­at mem­per­tim­bangkan kem­bali fak­ta hukum dan mem­berikan huku­man setim­pal kepa­da pelaku. Mere­ka mem­inta agar vonis yang dijatuhkan tidak hanya men­go­b­ati luka batin kelu­ar­ga, tetapi juga mem­berikan pesan kuat bagi masyarakat bah­wa hukum benar-benar berpi­hak kepa­da kor­ban.

Kuasa hukum juga memas­tikan pihaknya akan terus men­gaw­al jalan­nya per­si­dan­gan. Bila dite­mukan kejang­galan, mere­ka siap men­em­puh langkah hukum lain, ter­ma­suk mela­por ke lem­ba­ga pen­gawas.

Kami tidak akan berhen­ti. Demi kead­i­lan bagi Ihsan dan demi anak-anak bangsa lain­nya, kami akan men­gaw­al sam­pai tun­tas,” tegas Rus­di Bro­mi.

Kasus ini mencer­minkan pent­ingnya kon­sis­ten­si aparat dalam mene­gakkan hukum. Pen­em­bakan yang menye­babkan anak mening­gal semestinya men­da­p­at huku­man mak­si­mal. Bukan hanya demi kead­i­lan kelu­ar­ga, tetapi juga demi men­ja­ga keper­cayaan masyarakat ter­hadap hukum.

Huku­man ringan dikhawatirkan jus­tru mem­beri ruang bagi pelaku kek­erasan untuk merasa aman. Pada­hal, seba­gai ASN, HW seharus­nya memi­li­ki kesadaran hukum lebih ting­gi. Seba­liknya, ia malah meng­gu­nakan kek­erasan yang merenggut nyawa seo­rang pela­jar tak berdosa.

Kasus pen­em­bakan pela­jar Muham­mad Ihsan mem­bu­ka kem­bali luka lama ten­tang kead­i­lan di negeri ini. Den­gan tun­tu­tan yang diang­gap tidak setim­pal, kelu­ar­ga kor­ban kini meng­gan­tungkan hara­pan besar kepa­da majelis hakim.

Per­tanyaan besar pun masih mengge­ma: Apakah hukum akan benar-benar berpi­hak pada kor­ban, atau sekali lagi mem­biarkan kead­i­lan ter­gadai?. (Sufiyawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *