Soppeng, SniperNew.id – Suasana penuh semangat dan kekeluargaan terlihat di Aula Desa Baitupute, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pada Kamis (4/9/2025). Camat Soppeng Riaja, Hidayatuddin, S.IP., M.H., memimpin langsung kegiatan Musyawarah Mappalili (Turun Sawah) Musim Tanam (MT) 2025/2026 dan MT 2026 tingkat desa dan kelurahan di beberapa wilayah kecamatan tersebut.
Kegiatan ini menjadi agenda penting dalam kalender pertanian Soppeng Riaja, yang dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi di Kabupaten Barru. Musyawarah Mappalili, tradisi lokal yang sudah diwariskan turun-temurun, bukan sekadar pertemuan untuk menentukan jadwal turun sawah, tetapi juga momentum untuk menyatukan langkah antara petani, aparat pemerintah, dan masyarakat.
Acara dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari unsur Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan), kepala desa, lurah, penyuluh pertanian, kelompok tani, tokoh agama, tokoh adat, hingga perwakilan masyarakat. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi bukti komitmen bersama untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian, sekaligus melestarikan budaya Mappalili yang sarat nilai kebersamaan.
Dalam sambutannya, Camat Soppeng Riaja, Hidayatuddin, menekankan pentingnya sinergi semua pihak untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Menurutnya, Musyawarah Mappalili adalah sarana komunikasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani, agar langkah yang diambil dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kita berkumpul hari ini untuk menyamakan persepsi dan menyusun strategi yang tepat dalam menghadapi musim tanam mendatang. Mappalili adalah tradisi yang harus kita jaga, sekaligus menjadi momentum evaluasi serta perencanaan demi pertanian yang maju,” ujarnya di hadapan peserta musyawarah.
Hidayatuddin juga menyampaikan bahwa keberhasilan musim tanam tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bibit dan pupuk, tetapi juga kesiapan petani dalam mengantisipasi perubahan cuaca, pengelolaan air, serta penggunaan teknologi pertanian modern.
“Kita harus mengajak petani untuk semakin melek teknologi, tanpa meninggalkan kearifan lokal. Pemerintah Kecamatan Soppeng Riaja akan selalu siap mendukung kebutuhan petani, termasuk dalam hal penyuluhan dan akses sarana produksi,” tambahnya.
Mappalili atau tradisi turun sawah memiliki sejarah panjang dalam budaya masyarakat Bugis-Makassar. Sebelum memulai musim tanam, para petani dan tokoh adat biasanya mengadakan ritual doa bersama untuk memohon keberkahan, kelancaran, dan hasil panen yang melimpah.
Dalam konteks modern, Mappalili bukan hanya ritual adat, melainkan forum musyawarah resmi untuk merencanakan pola tanam, menentukan jadwal tanam serentak, hingga membahas distribusi bantuan pertanian. Dengan adanya koordinasi yang matang, diharapkan petani dapat mengoptimalkan hasil produksi dan meminimalkan risiko gagal panen.
“Kegiatan seperti ini adalah bukti bahwa tradisi lokal dapat bersinergi dengan program pemerintah. Kita tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga meningkatkan kualitas pertanian,” kata salah satu tokoh masyarakat yang hadir.
Musyawarah Mappalili kali ini membahas secara rinci berbagai aspek persiapan musim tanam. Mulai dari ketersediaan benih unggul, jadwal distribusi pupuk, sistem irigasi, hingga rencana pendampingan kelompok tani. Penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Barru juga hadir untuk memberikan paparan teknis dan strategi menghadapi potensi perubahan iklim.
Para peserta musyawarah antusias mengikuti diskusi. Sejumlah kepala desa memaparkan kondisi sawah dan tantangan yang dihadapi petani di wilayahnya masing-masing. Salah satunya terkait kendala pengairan, terutama di daerah yang bergantung pada saluran irigasi sekunder.
“Kami berharap pemerintah daerah terus memperhatikan infrastruktur irigasi. Dengan air yang cukup, petani bisa lebih semangat dan hasil panen pun meningkat,” ujar salah seorang perwakilan kelompok tani.
Hidayatuddin menanggapi aspirasi tersebut dengan menyatakan komitmen pemerintah kecamatan untuk meneruskan laporan ke pemerintah kabupaten.
“Semua masukan dari musyawarah ini akan kita sampaikan agar program pembangunan infrastruktur pertanian bisa tepat sasaran,” tegasnya.
Selain pemerintah desa dan kecamatan, unsur TNI dan Polri juga turut hadir. Babinsa dan Bhabinkamtibmas masing-masing desa mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari tugas mereka menjaga ketahanan pangan dan keamanan wilayah. Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Kabupaten Barru.
“Ketahanan pangan tidak hanya tugas petani, tetapi tanggung jawab bersama. TNI siap membantu pengamanan dan mendukung kegiatan pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga panen,” kata seorang Babinsa.
Keterlibatan aparat keamanan ini memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama dalam menjaga aset pertanian dari berbagai potensi gangguan, seperti pencurian hasil panen atau perusakan irigasi.
Musyawarah yang berlangsung sejak pagi hingga siang ini tidak hanya dihadiri oleh pejabat dan penyuluh, tetapi juga oleh puluhan petani dari berbagai desa di Kecamatan Soppeng Riaja. Mereka terlihat serius menyimak arahan dan diskusi yang berlangsung.
Salah satu peserta, seorang petani muda, mengungkapkan rasa bangganya bisa ikut serta dalam kegiatan ini. “Biasanya kami hanya ikut arahan, tapi sekarang kami dilibatkan untuk memberi masukan langsung. Rasanya dihargai sebagai petani,” katanya.
Keterlibatan generasi muda dalam pertanian menjadi salah satu fokus pembahasan. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan pelatihan teknologi pertanian, manajemen usaha tani, dan akses pasar, agar pertanian tetap menarik bagi kaum milenial.
Musyawarah Mappalili 2025/2026 ini diharapkan menjadi tonggak awal keberhasilan musim tanam mendatang. Dengan perencanaan yang matang dan koordinasi lintas sektor, target peningkatan produksi beras dan komoditas pertanian lainnya di Kecamatan Soppeng Riaja optimistis dapat tercapai.
“Keberhasilan musim tanam adalah keberhasilan bersama. Kita semua punya peran, mulai dari pemerintah, penyuluh, petani, hingga masyarakat luas. Mari kita jaga semangat gotong royong,” tutup Hidayatuddin.
Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah kecamatan untuk terus mendekatkan diri kepada masyarakat. Musyawarah seperti ini akan terus digelar secara rutin di setiap awal musim tanam, agar komunikasi dan koordinasi tetap terjaga.
Dengan sinergi semua pihak, Kecamatan Soppeng Riaja optimistis akan terus menjadi salah satu penyangga pangan penting di Kabupaten Barru dan Sulawesi Selatan secara umum.
Tentang Kecamatan Soppeng Riaja
Kecamatan Soppeng Riaja merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan potensi pertaniannya, terutama padi. Wilayah ini memiliki lahan sawah produktif yang dikelola secara tradisional maupun modern. Tradisi Mappalili menjadi bagian penting dari budaya masyarakat setempat, yang memadukan nilai religius, kebersamaan, dan kearifan lokal dalam mengelola pertanian.
Melalui Musyawarah Mappalili, pemerintah kecamatan berupaya memperkuat sinergi dengan desa, lurah, dan kelompok tani, agar pembangunan sektor pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan dan menyejahterakan masyarakat. (Ahmad)













