Jakarta, SN - Aksi pemain muda timnas Spanyol, Lamine Yamal, kembali jadi sorotan. Kali ini bukan karena aksi ciamiknya di lapangan hijau, melainkan sikapnya saat upacara penghormatan seusai laga melawan Portugal. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, Yamal terlihat menolak bertepuk tangan untuk tim Portugal yang keluar sebagai pemenang, lalu berjalan menjauh saat rekan-rekannya memberikan penghormatan.
Kejadian ini terekam dalam sebuah cuplikan video yang dibagikan akun X (sebelumnya Twitter) dengan narasi, “LAMINE YAMAL refuses to clap for the Portugal team and walks away while the Spanish team claps for the winners.” Video tersebut langsung menyita perhatian warganet, terutama karena aksi Yamal yang dinilai tak lazim bagi pemain profesional di momen pasca-pertandingan.
Pemain yang jadi sorotan tak lain adalah Lamine Yamal, bintang muda berusia 16 tahun yang digadang-gadang menjadi masa depan sepak bola Spanyol. Sementara itu, lawan dalam laga tersebut adalah tim nasional Portugal, yang memenangkan pertandingan dan menerima penghormatan dari para pemain Spanyol – kecuali Yamal.
Insiden ini terjadi setelah laga Spanyol vs Portugal dalam laga uji coba internasional atau turnamen persahabatan yang berlangsung baru-baru ini. Meski lokasi pasti tidak disebutkan dalam video, laga tersebut kemungkinan berlangsung di wilayah Eropa menjelang turnamen besar seperti Euro 2024.
Sikap tidak ikut bertepuk tangan saat lawan menerima penghargaan atau ucapan selamat dianggap kurang sportif dalam dunia olahraga. Hal inilah yang memicu perdebatan: apakah Yamal kecewa karena kalah, ataukah ia menunjukkan sikap arogansi sebagai pemain muda yang belum bisa menerima kekalahan?
Warganet pun terbelah. Beberapa membela Yamal dan menyebut bahwa kecewa adalah hal wajar bagi pemain yang ambisius. Namun, tidak sedikit pula yang mengkritiknya sebagai bentuk kurang hormat terhadap lawan dan etika olahraga.
“Dia masih muda, emosi belum stabil. Tapi tetap, ini bukan contoh yang baik,” tulis seorang pengguna X.
“Justru ini menunjukkan dia punya mental juara, benci kekalahan. Tapi harus bisa disalurkan dengan lebih elegan,” timpal yang lain.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Yamal, pelatih Spanyol, maupun federasi sepak bola Spanyol (RFEF). Namun, media Spanyol mulai menyoroti sikap pemain muda ini dan mendiskusikannya dalam berbagai talkshow dan forum olahraga.
Dari kacamata netral, sikap Lamine Yamal bisa dilihat dari dua sisi. Jika dilandasi rasa kecewa yang mendalam karena kalah, maka itu hal yang manusiawi, apalagi bagi pemain yang baru mulai merasakan tekanan besar di level internasional. Namun, jika disengaja sebagai bentuk tidak menghargai lawan, maka ini menjadi PR besar bagi pembinaan karakter di kalangan pemain muda.
Terlepas dari niatnya, publik figur seperti Yamal punya tanggung jawab moral untuk menjaga sportivitas. Dalam sepak bola, menang kalah adalah bagian dari permainan, namun menghormati lawan adalah bagian dari karakter.
Editor: (Red)



















