Gunungkidul, SniperNew.id – Sebuah inisiatif solidaritas ekonomi kembali menggema dari Dusun Jangan Mati, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui akun resminya, @masjidnurulashri, Yayasan Nurul Ashri mengumumkan program pemborongan hasil panen singkong dari para petani desa, Rabu (20/08/25)
Program ini bertujuan membantu petani yang telah menunggu hingga delapan bulan lamanya untuk mendapatkan penghasilan, namun hanya bisa meraup keuntungan kurang dari Rp2 juta.
Dalam unggahan yang dipublikasikan, tertulis jelas bahwa aksi ini masih terus berlangsung. “Hingga saat ini, kami masih melakukan penimbangan dan pembayaran untuk aksi borong singkong petani di Dusun Jangan Mati, Gunung Kidul, DIY. Kami memborong 6 ton singkong, berkolaborasi dengan @baznasjogja,” demikian kutipan resmi dari Masjid Nurul Ashri.
Video yang turut dibagikan memperlihatkan suasana kerja di malam hari. Beberapa relawan dan petani tampak melakukan penimbangan singkong serta pencatatan pembayaran. Di salah satu adegan, terlihat petani menggunakan kalkulator dan ponsel untuk menghitung hasil penjualan. Teks yang tertera dalam video itu menegaskan kenyataan pahit:
“Ada yang bekerja sampai malam untuk mendapatkan uang senilai kurang dari 2 juta, hasil setelah menunggu selama 8 bulan lamanya.”
Kutipan tersebut menggambarkan betapa beratnya perjuangan petani singkong di pedesaan. Mereka harus menanam, merawat, hingga menunggu berbulan-bulan lamanya, namun ketika panen tiba, harga komoditas tidak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan.
Untuk mengatasi problem klasik tersebut, Masjid Nurul Ashri, yang berlokasi di Yogyakarta, mengambil langkah konkret dengan melakukan aksi borong. Sebanyak enam ton singkong dibeli langsung dari petani, sehingga mereka dapat segera memperoleh pembayaran yang layak.
Kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Yayasan Nurul Ashri menjalin kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) DIY, sebuah lembaga yang memang memiliki fokus pada pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat melalui dana zakat, infak, serta sedekah.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa sinergi antara lembaga keagamaan, lembaga zakat, dan masyarakat mampu menjadi jalan keluar dari masalah ketimpangan ekonomi di pedesaan.
Bagi masyarakat yang ingin ikut serta mendukung program ini, pihak panitia juga membuka jalur donasi. Terdapat tiga nomor rekening resmi atas nama Yayasan Nurul Ashri Deresan, Yogyakarta.
BSI: 71331-80723
BNI: 6660-000562
BRI: 21640-1000459560
Selain itu, penyelenggara juga memberikan kode unik 153 agar para donatur dapat lebih mudah mengonfirmasi transaksi. Sebagai contoh, jika seseorang ingin berdonasi sebesar Rp100.000, maka cukup ditransfer dengan nominal Rp100.153.
Kontak konfirmasi pun disediakan melalui admin bernama Ica, dengan nomor 0851-7974-0455. Transparansi semacam ini penting untuk menjaga kepercayaan publik, terutama ketika menyangkut pengelolaan dana donasi yang ditujukan langsung untuk kesejahteraan petani.
Kisah ini merefleksikan tantangan besar yang masih dihadapi petani Indonesia. Dalam konteks nasional, singkong memang bukan komoditas utama ekspor, namun menjadi salah satu bahan pangan penting yang menyokong ketahanan pangan lokal. Sayangnya, rendahnya harga jual sering membuat petani berada pada posisi yang merugi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir menunjukkan tren serupa: harga komoditas pertanian kerap tidak stabil, terutama ketika terjadi panen raya. Petani sering kali tidak memiliki daya tawar karena berhadapan dengan tengkulak atau keterbatasan akses pasar. Akibatnya, hasil jerih payah yang memakan waktu hingga delapan bulan hanya terbayar dengan uang yang bahkan tidak mencukupi kebutuhan keluarga selama satu bulan.
Program borong singkong ini adalah bukti bahwa solidaritas sosial dapat memberikan dampak nyata. Dengan membeli hasil panen secara langsung, harga dapat lebih adil, dan petani bisa merasakan manfaat dari hasil kerja kerasnya.
Selain membantu petani, aksi ini juga mendorong kesadaran masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap kondisi ekonomi di pedesaan. Melalui donasi dan partisipasi publik, warga kota dapat turut menyokong ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan petani.
“Masih berlangsung!” begitu tegas pihak panitia dalam unggahannya, menandakan bahwa program ini tidak hanya sekali jalan, tetapi terus berlanjut hingga seluruh hasil panen dapat terserap.
Unggahan ini sudah disaksikan ratusan kali dan menuai beragam tanggapan positif dari warganet. Banyak yang tergerak untuk membantu, bahkan sekadar dengan membagikan informasi agar semakin banyak orang yang tahu.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana efektif untuk membangun kepedulian sosial. Aksi nyata yang dibagikan secara transparan dan emosional mampu mengetuk hati masyarakat lebih luas.
Kisah para petani singkong di Dusun Jangan Mati, Gunungkidul, adalah potret nyata bagaimana perjuangan hidup di pedesaan masih diwarnai dengan keterbatasan ekonomi. Namun, di balik semua itu, muncul pula harapan melalui solidaritas sosial.
Masjid Nurul Ashri bersama Baznas DIY membuktikan bahwa keberpihakan pada petani dapat dilakukan dengan cara sederhana: membeli hasil panen mereka dengan harga layak. Program borong singkong enam ton ini menjadi secercah cahaya bagi petani yang selama ini menunggu dengan sabar, meski akhirnya hanya menerima penghasilan minim.
Gerakan ini juga menjadi inspirasi bahwa solusi ekonomi bisa lahir dari kolaborasi antara lembaga, komunitas, dan masyarakat luas. Bahwa setiap orang dapat berkontribusi, sekecil apa pun, untuk meringankan beban sesama.
Solidaritas seperti inilah yang layak menjadi teladan, tidak hanya di Gunungkidul, tetapi juga di seluruh pelosok Indonesia.
Editor: (Ahmad)


















