SLAWI, SNIPERNEW.id — Bencana tanah bergerak yang terjadi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, menyebabkan ribuan warga harus mengungsi setelah ratusan rumah mengalami kerusakan. Hingga awal pekan ini, pergerakan tanah dilaporkan masih berlangsung sehingga pemerintah desa bersama pihak terkait terus melakukan evakuasi bertahap demi keselamatan warga, Selasa.
Kepala Desa Padasari menyampaikan bahwa kondisi tanah di sejumlah wilayah masih labil dan berpotensi membahayakan permukiman penduduk. Karena itu, proses evakuasi dilakukan secara bertahap sambil menunggu perkembangan situasi dan hasil pemantauan teknis dari pihak berwenang.
“Pergerakan tanah masih berlangsung dan kondisi wilayah dinilai sangat labil. Kami melakukan evakuasi bertahap untuk memastikan keselamatan warga,” ujarnya.
Berdasarkan pendataan sementara pemerintah desa, sebanyak 464 unit rumah terdampak bencana tersebut. Dari jumlah itu, 205 rumah mengalami kerusakan berat hingga tidak layak huni. Kerusakan tersebar di beberapa wilayah administratif, yaitu;
RW 01: RT 01, RT 02, RT 03
RW 02: RT 06, RT 07, RT 08, RT 09
RW 03: RT 12, RT 13, RT 14, RT 15
RW 04: RT 10, RT 11, RT 16, RT 17, RT 18
Akibat kondisi tersebut, 2.460 jiwa dari 596 kepala keluarga (KK) saat ini tinggal di sejumlah titik pengungsian darurat. Di antara para pengungsi terdapat 216 warga lanjut usia, 195 anak-anak, serta sejumlah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang membutuhkan perhatian khusus.
Petugas kesehatan yang bertugas di posko pengungsian melaporkan 477 warga mengalami gangguan kesehatan, dengan keluhan terbanyak berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan nyeri otot. Kondisi ini diperkirakan berkaitan dengan cuaca, kepadatan pengungsian, serta keterbatasan fasilitas sementara.
Untuk kebutuhan logistik, distribusi bantuan dilakukan melalui sistem satu pintu di pos lapangan guna memastikan penyaluran lebih terkoordinasi. Pemerintah desa menyebutkan bahwa stok bahan pangan utama, termasuk beras dan susu bayi, masih terus diupayakan agar tetap mencukupi selama masa tanggap darurat.
Sementara itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait tengah menyiapkan rencana relokasi bagi warga terdampak. Sebidang lahan alternatif seluas sekitar 6–7 hektare di kawasan Perhutani telah diidentifikasi sebagai calon lokasi permukiman baru.
Namun, proses relokasi masih menunggu hasil kajian geologi guna memastikan keamanan lahan sebelum pembangunan dilakukan.
Kepala Desa Padasari berharap proses kajian teknis dapat segera diselesaikan agar warga memperoleh kepastian tempat tinggal yang aman dalam waktu dekat, mengingat masa tanggap darurat dijadwalkan berakhir pada 16 Februari mendatang.
Hingga kini, pemerintah daerah, relawan, serta berbagai pihak terus melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi terdampak, sekaligus menyalurkan bantuan bagi warga yang masih bertahan di pengungsian.
Warga berharap proses penanganan darurat, pemulihan, serta rencana relokasi dapat berjalan cepat sehingga mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dengan aman.
Penulis: (Muji).
Editor: (31252).



















