Berita Peristiwa

FPII Kuansing Desak Keadilan: Wartawan Diserang Saat Liput Penertiban PETI

486
×

FPII Kuansing Desak Keadilan: Wartawan Diserang Saat Liput Penertiban PETI

Sebarkan artikel ini

Kuans­ing, SniperNew.id - Dunia jur­nal­is­tik di Kabu­pat­en Kuan­tan Singin­gi (Kuans­ing), Provin­si Riau, kem­bali digun­cang oleh tin­dakan kek­erasan ter­hadap insan pers. Seo­rang wartawan lokal men­ja­di kor­ban peny­eran­gan saat ten­gah meliput kegiatan pen­ert­iban Penam­ban­gan Emas Tan­pa Izin (PETI) di Desa Teluk Bayur, Keca­matan Cer­en­ti, pada awal Okto­ber 2025, Rabu (08/10).

Insi­d­en itu ter­ja­di keti­ka aparat pene­gak hukum bersama tim gabun­gan melakukan pen­ert­iban aktiv­i­tas tam­bang emas ile­gal yang telah lama mere­sahkan masyarakat sek­i­tar. Dalam suasana yang tegang antara petu­gas dan war­ga yang diduga ter­li­bat dalam aktiv­i­tas PETI, seo­rang wartawan yang sedang meliput di lokasi jus­tru men­ja­di sasaran amukan sekelom­pok orang yang tidak dike­nal.

Dari keteran­gan di lapan­gan, dike­tahui bah­wa kor­ban dilem­pari batu oleh oknum yang diduga tidak senang den­gan kehadi­ran wartawan yang sedang merekam pros­es pen­ert­iban. Seran­gan itu menye­babkan kor­ban men­gala­mi luka dan kerusakan pada per­ala­tan ker­ja. Aksi bru­tal terse­but son­tak men­gun­dang kepri­hati­nan sekali­gus kemara­han dari berba­gai pihak, khusus­nya Forum Pers Inde­pen­dent Indone­sia (FPII).

Reak­si Keras FPII Kuans­ing: “Seran­gan Ini Anca­man Nya­ta bagi Kebe­basan Pers” Ket­ua FPII Koor­di­na­tor Wilayah (Kor­wil) Kuans­ing, Rus­man Anta­gana, lang­sung menge­cam keras tin­dakan terse­but. Dalam perny­ataan­nya kepa­da awak media, Rus­man mene­gaskan bah­wa seran­gan ter­hadap wartawan adalah ben­tuk nya­ta dari anca­man ter­hadap kebe­basan pers di Indone­sia.

“Ini bukan sekadar insi­d­en kecil. Ini adalah seran­gan lang­sung ter­hadap kebe­basan pers! Wartawan bek­er­ja dilin­dun­gi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 ten­tang Pers. Saya mende­sak Kapol­res Kuans­ing untuk segera menangkap dan mem­pros­es pelaku peny­eran­gan terse­but sesuai hukum yang berlaku,” tegas Rus­man den­gan nada ting­gi.

Menu­rut­nya, tin­dakan kek­erasan ter­hadap wartawan tidak hanya melukai kor­ban secara fisik, tetapi juga melukai selu­ruh pro­fe­si pers yang bek­er­ja untuk menyam­paikan kebe­naran kepa­da pub­lik. Ia mene­gaskan bah­wa wartawan hadir di lapan­gan bukan untuk mem­pro­vokasi, melainkan men­jalankan tugas jur­nal­is­tik dalam rang­ka memenuhi hak masyarakat untuk men­da­p­atkan infor­masi yang aku­rat dan berim­bang.

  Evakuasi Terhambat SOP: Warga Aceh Keluhkan Lambatnya Penanganan Banjir

“Jan­gan coba-coba meny­erang wartawan! Kami tidak akan ting­gal diam. Kalau aparat tidak bertin­dak cepat, kami akan men­em­puh jalur hukum dan mela­porkan­nya kepa­da instan­si yang berwe­nang,” tegas Rus­man lagi.

Dalam perny­ataan­nya, Rus­man juga mene­gaskan bah­wa tin­dakan meng­ha­lan­gi, apala­gi meny­erang wartawan saat bertu­gas, meru­pakan tin­dak pidana. Ia mengutip Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 ten­tang Pers, yang berbun­yi:

“Seti­ap orang yang secara sen­ga­ja meng­ham­bat atau meng­ha­lan­gi pelak­sanaan kegiatan jur­nal­is­tik dap­at dip­i­dana den­gan pidana pen­jara pal­ing lama dua tahun atau den­da pal­ing banyak Rp500 juta.”

Rus­man meni­lai bah­wa keten­tu­an hukum ini jelas mem­berikan per­lin­dun­gan kepa­da wartawan dalam men­jalankan pro­fesinya. Kare­na itu, seti­ap tin­dakan yang meng­ha­lan­gi ker­ja jur­nal­is­tik harus dipros­es secara hukum tan­pa pan­dang bulu.

“Wartawan bukan musuh masyarakat, bukan pula anca­man bagi sia­pa pun. Wartawan jus­tru men­ja­di jem­bat­an infor­masi antara pemer­in­tah, aparat pene­gak hukum, dan masyarakat. Meny­erang wartawan berar­ti meny­erang demokrasi dan hak pub­lik untuk tahu,” ujarnya den­gan nada serius.

Berdasarkan infor­masi yang dihim­pun, keja­di­an bermu­la keti­ka tim pen­ert­iban dari Pol­res Kuans­ing bersama aparat gabun­gan turun ke lokasi penam­ban­gan emas ile­gal di wilayah Desa Teluk Bayur. Sejum­lah wartawan dari media lokal ikut meliput kegiatan terse­but untuk kepentin­gan pem­ber­i­taan.

Namun, di ten­gah pros­es pen­ert­iban, beber­a­pa orang yang diduga meru­pakan pelaku atau sim­pati­san aktiv­i­tas PETI merasa ter­gang­gu den­gan kehadi­ran jur­nalis yang merekam jalan­nya kegiatan. Tiba-tiba, lem­paran batu melun­cur ke arah wartawan, menye­babkan keka­cauan di lokasi.

Kor­ban sem­pat berusa­ha menghin­dar, namun tetap terke­na lem­paran hing­ga men­gala­mi luka ringan dan kerusakan pada alat ker­ja beru­pa kam­era. Mes­ki tidak menim­bulkan kor­ban jiwa, tin­dakan terse­but jelas meru­pakan ben­tuk intim­i­dasi yang tidak bisa ditol­er­an­si.

  BREAKING NEWS: Kematian Prajurit TNI Rafael Luna Dipertanyakan

“Ini bukan hanya soal luka fisik. Tapi soal rasa aman kami seba­gai jur­nalis di lapan­gan. Kami tidak boleh dibungkam oleh ketaku­tan,” ujar salah satu rekan wartawan yang bera­da di lokasi keja­di­an.

Menang­gapi insi­d­en itu, Ket­ua FPII Setwil Riau, Demo Sumarak Sigal­ing­ging, juga menyuarakan keca­man keras ter­hadap tin­dakan peny­eran­gan terse­but. Melalui sam­bun­gan tele­pon, Demo mene­gaskan bah­wa peri­s­ti­wa ini men­ja­di preseden buruk bagi kebe­basan pers di Riau, bahkan di Indone­sia secara umum.

“Kita tidak bisa mem­biarkan hal ini berlalu begi­tu saja. Ini bukan hanya per­soalan prib­a­di wartawan yang dis­erang, tapi per­soalan marta­bat pro­fe­si pers. Kalau wartawan saja tidak aman saat bertu­gas, bagaimana pub­lik bisa men­da­p­atkan infor­masi yang jujur dan ter­bu­ka?” ujarnya.

Demo mem­inta Pol­da Riau untuk turun tan­gan men­gusut tun­tas kasus ini. Menu­rut­nya, kasus kek­erasan ter­hadap wartawan tidak boleh dis­er­ahkan sepenuh­nya kepa­da pihak kabu­pat­en, mengin­gat dampaknya telah melu­as ke tingkat provin­si.

“Kami dari FPII Setwil Riau menun­tut Pol­da Riau untuk segera bertin­dak. Usut tun­tas keja­di­an ini, tangkap pelakun­ya, dan pros­es sesuai hukum yang berlaku. Jan­gan biarkan kek­erasan ter­hadap wartawan men­ja­di budaya yang dib­iarkan,” tegas­nya.

Ia menam­bahkan bah­wa FPII Riau bersama jajaran di tingkat kabu­pat­en akan terus men­gaw­al pros­es hukum kasus ini hing­ga ada keje­lasan dan kead­i­lan bagi kor­ban. “Kami akan kaw­al sam­pai tun­tas. FPII tidak akan mundur dalam mem­per­juangkan hak-hak insan pers,” pungkas­nya.

Insi­d­en peny­eran­gan ter­hadap wartawan di Kuans­ing juga memu­nculkan gelom­bang sol­i­dar­i­tas dari kalan­gan jur­nalis di Riau. Beber­a­pa organ­isasi pers lokal meny­atakan kepri­hati­nan dan menyerukan agar selu­ruh jur­nalis lebih berhati-hati saat meliput kegiatan di wilayah rawan kon­flik, teruta­ma dalam operasi pen­ert­iban atau kegiatan yang meli­batkan aparat dan masyarakat.

FPII Kuans­ing sendiri beren­cana melakukan koor­di­nasi den­gan instan­si terkait untuk memas­tikan adanya langkah-langkah per­lin­dun­gan ter­hadap jur­nalis di lapan­gan. Rus­man meni­lai pent­ingnya sin­er­gi antara aparat kea­manan, pemer­in­tah daer­ah, dan organ­isasi pers dalam men­ja­ga kese­la­matan wartawan.

  Dua Rumah Terbakar di Kawasan Taman Konservasi

“Kami akan berko­or­di­nasi den­gan aparat kea­manan agar ke depan seti­ap kegiatan peliputan yang berpoten­si kon­flik bisa dikaw­al den­gan baik. Wartawan bukan lawan, jus­tru mitra strate­gis dalam menyam­paikan infor­masi pem­ban­gu­nan dan pene­gakan hukum,” ujarnya.

Kasus di Kuans­ing menam­bah daf­tar pan­jang insi­d­en kek­erasan ter­hadap wartawan di Indone­sia, khusus­nya di daer­ah-daer­ah den­gan poten­si kon­flik sosial dan ekono­mi ting­gi. Aktiv­i­tas tam­bang ile­gal, korup­si, dan pene­gakan hukum ker­ap men­ja­di isu sen­si­tif yang mem­bu­at wartawan bera­da dalam posisi rentan.

Menu­rut data beber­a­pa lem­ba­ga advokasi pers, kek­erasan ter­hadap jur­nalis ser­ing kali ter­ja­di kare­na kurangnya pema­haman masyarakat ter­hadap fungsi pers. Tidak jarang, wartawan diang­gap seba­gai anca­man oleh pihak-pihak yang memi­li­ki kepentin­gan ter­ten­tu.

Dalam kon­teks ini, FPII meni­lai per­lun­ya edukasi pub­lik ten­tang per­an media, ser­ta pen­guatan sis­tem per­lin­dun­gan hukum ter­hadap wartawan, baik melalui reg­u­lasi maupun dukun­gan aparat pene­gak hukum.

“Wartawan bek­er­ja di lapan­gan bukan untuk men­cari musuh. Mere­ka men­jalankan fungsi kon­trol sosial. Negara wajib hadir melin­dun­gi,” tegas Demo Sumarak Sigal­ing­ging.

Menut­up perny­ataan­nya, baik Rus­man Anta­gana maupun Demo Sumarak Sigal­ing­ging sama-sama mene­gaskan komit­men FPII Kuans­ing dan FPII Setwil Riau untuk terus men­gaw­al kasus ini hing­ga ada kepas­t­ian hukum. Mere­ka berharap tin­dakan tegas dari kepolisian dap­at men­ja­di efek jera bagi sia­pa pun yang men­co­ba meng­in­tim­i­dasi atau meny­erang wartawan di masa men­datang.

“Kami akan terus bersuara. Kami tidak akan biarkan kek­erasan ter­hadap wartawan men­ja­di hal yang biasa. FPII berdiri di garis depan untuk mem­bela kebe­naran dan kebe­basan pers,” pungkas Rus­man.

Semen­tara itu, hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, pihak Pol­res Kuans­ing belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait perkem­ban­gan penye­lidikan kasus terse­but. Namun, masyarakat dan komu­ni­tas pers berharap agar pene­gakan hukum ber­jalan cepat dan transparan, demi mene­gakkan kead­i­lan dan men­ja­ga mar­wah kebe­basan pers di Bumi Lan­cang Kun­ing.

Reporter: ($ufiy). (Kuans­ing, Riau | 07 Okto­ber 2025). (Redak­si: FPII Kor­wil Kuans­ing).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *