Berita Peristiwa

Drainase Buruk Picu Banjir di Lembang, Warga Desak Pemerintah Segera Bertindak

382
×

Drainase Buruk Picu Banjir di Lembang, Warga Desak Pemerintah Segera Bertindak

Sebarkan artikel ini

Lem­bang, SniperNew.d – Hujan deras yang meng­guyur wilayah Lem­bang pada Ming­gu, 5 Okto­ber 2025, kem­bali menye­babkan ban­jir di sejum­lah titik, ter­ma­suk di kawasan Jl. Raya Tangkuban Parahu, Cibo­go, Keca­matan Lem­bang, Kabu­pat­en Ban­dung Barat, Jawa Barat. Peri­s­ti­wa terse­but per­ta­ma kali dila­porkan melalui ung­ga­han akun media sosial @info.cigadung di plat­form Threads, yang menampilkan video ban­jir melan­da hala­man rumah war­ga den­gan arus air yang cukup deras.

Dalam ung­ga­han terse­but, admin akun menuliskan. “Telah ter­ja­di ban­jir aki­bat hujan yang cukup deras di Jl. Raya Tangkuban Parahu, Cibo­go, Kec. Lem­bang, Kab. Ban­dung Barat, Jawa Barat, Ming­gu 5 Okto­ber 2025. Kini apa­bi­la hujan Lem­bang selalu ban­jir aki­bat drainase yang san­gat buruk. Mohon kepa­da pemer­in­tah setem­pat agar segera memec­ahkan per­masala­han ban­jir di Lem­bang.”

(Sum­ber: infob­dg­baratcimahi)

Ung­ga­han ini juga meny­er­takan video berdurasi singkat yang mem­per­li­hatkan air melu­ap hing­ga menu­tupi seba­gian hala­man rumah war­ga. Dalam reka­man terse­but, tam­pak beber­a­pa tana­man di hala­man ikut teren­dam air, dan arus cukup deras men­galir menu­ju jalan uta­ma. Kon­disi terse­but menun­jukkan bah­wa vol­ume air hujan tidak ter­tam­pung oleh sis­tem drainase yang ada, sehing­ga menye­babkan genan­gan ting­gi.

Berdasarkan pan­tauan dan infor­masi yang dihim­pun dari war­ga sek­i­tar, hujan deras meng­guyur kawasan Lem­bang sejak pukul 14.00 WIB hing­ga men­je­lang malam. Curah hujan yang ting­gi mem­bu­at sejum­lah salu­ran air di sep­a­n­jang Jl. Raya Tangkuban Parahu melu­ap. Dalam wak­tu singkat, air mema­su­ki hala­man rumah dan per­tokoan di sek­i­tar kawasan Cibo­go.

Seo­rang war­ga sek­i­tar, yang eng­gan dise­butkan namanya, men­gatakan bah­wa ban­jir seper­ti ini bukan kali per­ta­ma ter­ja­di. “Kalau hujan agak lama, pasti ban­jir. Air dari jalan besar lang­sung masuk ke rumah-rumah kare­na salu­ran airnya kecil dan ter­sum­bat,” ujarnya kepa­da wartawan.

  Didorong ke Sekolah, Pelajar Bolos Dibina Satpol PP dan Babinsa

Menu­rut keteran­gan war­ga lain­nya, ban­jir di lokasi terse­but biasanya surut dalam wak­tu dua hing­ga tiga jam, namun ker­ap mening­galkan lumpur dan sam­pah di hala­man rumah. Kon­disi ini ten­tu menim­bulkan keru­gian mate­r­i­al dan gang­guan aktiv­i­tas war­ga.

Jl. Raya Tangkuban Parahu meru­pakan jalur uta­ma yang menghubungkan Lem­bang den­gan kawasan wisa­ta Gunung Tangkuban Parahu ser­ta arah ke Sub­ang. Lokasi ini memi­li­ki kon­tur jalan menu­run dan diapit oleh pemuki­man ser­ta area wisa­ta kulin­er, sehing­ga air hujan yang men­galir dari wilayah lebih ting­gi mudah ter­tumpuk di area bawah tan­pa salu­ran pem­buan­gan yang memadai.

Aki­bat peri­s­ti­wa ini, aktiv­i­tas lalu lin­tas di sek­i­tar lokasi sem­pat tersendat. Beber­a­pa pen­gen­dara motor ter­pak­sa menepi dan menung­gu air sedik­it surut. War­ga setem­pat juga ter­li­hat berusa­ha mem­ber­sihkan salu­ran air yang ter­sum­bat meng­gu­nakan alat seadanya.

Ban­jir ini men­ja­di per­ha­t­ian serius masyarakat Lem­bang, teruta­ma kare­na peri­s­ti­wa seru­pa sudah ser­ing ter­ja­di seti­ap kali hujan deras turun. Selain meng­ham­bat aktiv­i­tas, ban­jir juga menim­bulkan kekhawati­ran terkait san­i­tasi dan poten­si penyak­it aki­bat genan­gan air.

Berdasarkan penga­matan di lapan­gan dan infor­masi dari akun komu­ni­tas lokal, penye­bab uta­ma ban­jir di Lem­bang adalah buruknya sis­tem drainase di kawasan terse­but. Banyak salu­ran air yang sudah tidak berfungsi opti­mal aki­bat ter­tut­up sed­i­men­tasi, sam­pah, ser­ta ban­gu­nan yang menu­tupi ali­ran air.

Selain itu, pesat­nya pem­ban­gu­nan di kawasan wisa­ta Lem­bang tan­pa diim­ban­gi den­gan peren­canaan tata ruang yang baik juga mem­per­parah kon­disi ini. Min­im­nya daer­ah resapan air dan meningkat­nya per­mukaan yang ter­tut­up aspal atau beton mem­bu­at air hujan tidak bisa terser­ap ke tanah den­gan cepat.

  Viral Kondisi Kota Kuala Simpang Tuai Sorotan Publik

Sejum­lah war­ga menye­but bah­wa drainase di sep­a­n­jang jalan uta­ma Tangkuban Parahu sudah lama tidak dilakukan per­baikan maupun pem­ber­si­han secara menyelu­ruh oleh pihak terkait. Pada­hal, kawasan terse­but ter­ma­suk jalur wisa­ta den­gan arus kendaraan yang padat, teruta­ma di akhir pekan.

Melalui ung­ga­han di Threads terse­but, admin @info.cigadung menyam­paikan hara­pan war­ga agar pemer­in­tah daer­ah segera turun tan­gan. “Mohon kepa­da pemer­in­tah setem­pat agar segera memec­ahkan per­masala­han ban­jir di Lem­bang,” tulis­nya.

War­ga berharap adanya per­baikan sis­tem drainase secara menyelu­ruh dan berkala. Mere­ka juga mem­inta agar ada upaya nya­ta dari Dinas Peker­jaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabu­pat­en Ban­dung Barat dalam mena­ta salu­ran air di kawasan padat aktiv­i­tas seper­ti Cibo­go dan sek­i­tarnya.

Selain itu, edukasi kepa­da masyarakat ten­tang pent­ingnya men­ja­ga keber­si­han lingkun­gan juga dihara­p­kan men­ja­di bagian dari solusi. Sam­pah rumah tang­ga yang ser­ing menumpuk di tepi jalan dan got ter­bu­ka dise­but men­ja­di salah satu fak­tor penyum­bat­an ali­ran air.

“Kalau salu­ran airnya bersih dan ter­awat, ban­jir bisa dice­gah. Tapi kalau war­ga dan pemer­in­tah tidak ker­ja sama, seti­ap hujan pasti akan seper­ti ini terus,” ujar salah satu war­ga yang rumah­nya teren­dam.

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, belum ada keteran­gan res­mi dari Pemer­in­tah Kabu­pat­en Ban­dung Barat men­ge­nai penan­ganan ban­jir di kawasan Lem­bang. Namun, berdasarkan infor­masi dari berba­gai sum­ber lokal, tim keber­si­han dari keca­matan telah dik­er­ahkan untuk melakukan pem­ber­si­han semen­tara di beber­a­pa titik drainase yang ter­sum­bat.

Beber­a­pa petu­gas juga ter­li­hat mem­ban­tu men­galirkan air dari per­mukaan jalan agar kendaraan dap­at melin­tas kem­bali den­gan aman. Masyarakat berharap langkah semen­tara terse­but bisa diiku­ti den­gan solusi jang­ka pan­jang seper­ti pele­baran salu­ran air, pem­ban­gu­nan gorong-gorong baru, dan nor­mal­isasi sun­gai kecil di sek­i­tar Lem­bang.

Pemer­hati lingkun­gan dari Ban­dung Barat, Deni Wibisana, meni­lai bah­wa ban­jir di kawasan wisa­ta seper­ti Lem­bang menun­jukkan lemah­nya man­a­je­men tata ruang kota. “Lem­bang berkem­bang pesat secara ekono­mi, tapi tidak dibaren­gi den­gan infra­struk­tur lingkun­gan yang memadai. Aki­bat­nya, seti­ap musim hujan selalu ban­jir,” ungkap­nya.

  Mobil MBG Tersesat di Upacara, Sekolah Kalibaru Gempar Pagi Ini

Ung­ga­han @info.cigadung di Threads men­da­p­at banyak per­ha­t­ian dari war­ganet. Banyak peng­gu­na lain yang mem­bagikan pen­gala­man seru­pa, men­geluhkan kon­disi drainase di wilayah Lem­bang dan sek­i­tarnya. Beber­a­pa komen­tar bahkan meny­er­takan foto tam­ba­han dari lokasi berbe­da yang juga teren­dam air.

Sejum­lah peng­gu­na menye­but bah­wa kawasan lain seper­ti Kayuam­bon, Panora­ma, dan Pasar Lem­bang juga men­gala­mi genan­gan seru­pa. Hal ini mem­perku­at dugaan bah­wa per­soalan drainase tidak hanya ter­ja­di di satu titik, melainkan sudah men­ja­di masalah struk­tur­al di wilayah Lem­bang.

Ung­ga­han terse­but men­ja­di ben­tuk aspi­rasi dig­i­tal masyarakat yang berharap agar pemer­in­tah daer­ah segera mengam­bil langkah nya­ta, bukan hanya sekadar penan­ganan sesaat.

Peri­s­ti­wa ban­jir yang melan­da Jl. Raya Tangkuban Parahu, Cibo­go, Lem­bang, Kabu­pat­en Ban­dung Barat pada Ming­gu, 5 Okto­ber 2025, kem­bali mem­bu­ka mata banyak pihak ten­tang buruknya kon­disi drainase di kawasan wisa­ta pop­uler terse­but. Hujan deras yang turun beber­a­pa jam saja sudah cukup untuk menye­babkan genan­gan ting­gi hing­ga masuk ke rumah war­ga.

Melalui media sosial, masyarakat menyuarakan kepri­hati­nan dan menyerukan tin­dakan cepat dari pemer­in­tah. Dihara­p­kan, den­gan adanya per­ha­t­ian pub­lik ter­hadap isu ini, akan ada langkah nya­ta dalam ben­tuk per­baikan drainase, penataan tata ruang, dan pen­ingkatan kesadaran lingkun­gan di kalan­gan war­ga.

Masalah ban­jir di Lem­bang bukan sekadar aki­bat cua­ca ekstrem, melainkan cer­min dari per­lun­ya sin­er­gi antara masyarakat, pemer­in­tah, dan sek­tor swasta dalam men­ja­ga kese­im­ban­gan pem­ban­gu­nan dan lingkun­gan.

Jika tidak segera diatasi, ban­jir seper­ti ini akan terus beru­lang seti­ap musim hujan, men­gan­cam kenya­manan war­ga dan cit­ra Lem­bang seba­gai des­ti­nasi wisa­ta ung­gu­lan di Jawa Barat. (Ahm/abd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *