Jagat maya tengah dihebohkan dengan kabar keracunan massal yang diduga berasal dari program MBG (Makan Bersama Gratis).
Informasi ini mencuat setelah sejumlah akun media sosial mengunggah video dan komentar yang menunjukkan suasana penjemputan korban menggunakan ambulans, serta beragam keluhan masyarakat terkait kualitas program tersebut.
Dalam salah satu unggahan video di platform Threads, terlihat deretan ambulans tengah melintas di jalanan untuk menjemput korban. Video itu dibubuhi tulisan. “Hari demi hari penjemputan korban keracunan MBG 😥”
Unggahan itu disertai narasi dari akun bernama @pengembara87211 yang menuliskan: “Penjemputan korban MBG yg keracunan.
Di luar negeri pejabatnya mengundurkan diri jika program bermasalah. Pejabat di sini hanya mementingkan kursi jabatannya & Partai‼️ malah bilangnya keteledoran doang. Nunggu ada yg MD kah?????”
Peristiwa ini langsung menuai ragam komentar dari warganet. Beberapa di antaranya menyoroti seriusnya kasus keracunan hingga ada korban yang dalam kondisi kritis.
Akun @wardayuliah_ menuliskan. “Di TV barusan keracunan MBG di Kalimantan, lupa Kalimantan mana, 2 orang kritis.”
Akun lain, @anang.dharmawan.940, menyoroti soal pemaksaan pelaksanaan program meski menimbulkan masalah. “Program pembawa bencana…!!! Dan tetap dipaksakan…!!! Apa gak tolol namanya…!!!!”
Sementara @nurmaidarosdiana__ mengungkapkan kekesalannya. “Hapuskan program yg mengancam banyak nyawa.”
Tidak sedikit pula komentar emosional dari warganet lain yang meminta tanggung jawab. Misalnya @aindorotada menuliskan. “Masyarakat. Orang tua murid dan guru harus mengambil sikap tegas. Menolak MBG. Jika memang harus, buang saja makanan itu ke tempat sampah. Semuanya. Biar vendor-nya lihat.”
Hal serupa diungkapkan oleh @djuwadi08. “Daripada berisiko, mending tolak program MBG. Wali murid lebih tahu makanan favorit anaknya daripada pemerintah.”
Ada juga komentar bernada konspiratif dari @putra_rantau_0402: “Otak aku kok berfikir ini tu seperti ada yang disengaja, karena kejadian bukan sekali, tapi di berbagai tempat & terus berulang. Harusnya sekali kejadian sudah harus berbenah. Ini malah kaya biasa aja.”
Ungkapan keprihatinan juga membanjiri kolom komentar. Banyak orang tua merasa cemas karena yang menjadi korban keracunan adalah anak-anak sekolah.
Akun @widyaas.t_ menulis dengan nada sedih. “Kasihan dimana-mana anak-anak keracunan. Bukannya menyehatkan malah menyakiti kan 😢😢”
Sementara akun @sandisandi7158 menyarankan agar program dihentikan sementara untuk investigasi. “Udah, padahal stop dulu MBG-nya di daerah tersebut. Suruh usut dulu ada apa gerangan.”
Bahkan ada komentar yang menuntut penindakan hukum. “Penjarakan juru masak,” tulis akun @pepayasaparatoos.
Tak kalah menohok, akun @sumpenoprayetno menyeret nama pejabat dalam komentarnya. “Ini yg di bilang ZULKIFLI HASAN anak-anak.”
Kasus keracunan massal yang diduga berasal dari program makan gratis MBG. Korban, sebagian besar anak sekolah, mengalami gejala keracunan hingga ada yang disebut kritis.
Korban: Anak-anak sekolah penerima program MBG. Pemerintah sebagai penyelenggara program. Vendor/juru masak yang menyiapkan makanan. Publik dan warganet yang ramai memberikan tanggapan.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik pada pekan keempat September 2025, setelah ramai dibicarakan di media sosial dan pemberitaan televisi lokal.
Lokasi kejadian disebut terjadi di salah satu wilayah di Kalimantan (meski detail provinsi belum disebutkan jelas oleh warganet).
Diduga terjadi karena kelalaian dalam proses pengolahan dan distribusi makanan program MBG. Beberapa komentar publik menilai lemahnya pengawasan, kualitas bahan makanan yang tidak standar, serta adanya indikasi keteledoran dari pihak vendor.
Makanan dibagikan kepada siswa dalam rangka program MBG. Setelah mengonsumsi, beberapa siswa mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan lemas.
Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Dua orang disebut berada dalam kondisi kritis. Kejadian ini viral setelah diunggah oleh warganet ke media sosial.
Kasus ini memunculkan tuntutan dari publik agar program MBG dievaluasi. Beberapa bahkan meminta agar dihentikan sementara demi keselamatan siswa.
Komentar seperti dari akun @anang.dharmawan.940 yang menyebut program ini “pembawa bencana” semakin menegaskan kekecewaan masyarakat. Ada pula suara agar pejabat terkait bertanggung jawab atau bahkan mengundurkan diri, sebagaimana lazim terjadi di negara lain jika program pemerintah menimbulkan masalah serius.
Selain itu, sebagian warganet juga menyalahkan vendor makanan. Ada yang menyarankan agar kontrak vendor dievaluasi, bahkan ada yang menuntut agar juru masak diproses hukum jika terbukti lalai.
Bukan kali ini saja program MBG menuai sorotan. Sejumlah laporan sebelumnya juga pernah mengaitkan program ini dengan insiden keracunan di beberapa daerah. Namun, peristiwa di Kalimantan kali ini menjadi sorotan karena viral di media sosial dengan video penjemputan korban menggunakan ambulans.
Masyarakat menuntut agar pemerintah transparan dalam menyampaikan informasi terkait jumlah korban, penyebab pasti keracunan, dan langkah konkret yang diambil. Evaluasi terhadap vendor, standar gizi, serta mekanisme pengawasan distribusi makanan menjadi poin yang mendesak untuk diperbaiki.
Sejumlah pihak juga mendesak agar investigasi independen dilakukan, bukan hanya sebatas pernyataan “keteledoran” semata. Publik menilai hal ini menyangkut nyawa anak-anak bangsa yang seharusnya dilindungi.
Kasus keracunan akibat program MBG di Kalimantan menambah daftar panjang kontroversi program makan gratis yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Alih-alih menyehatkan, insiden ini justru menimbulkan ketakutan dan keresahan di tengah masyarakat.
Seruan evaluasi, transparansi, hingga tuntutan penghentian sementara program kini menggema di ruang publik. Semua pihak kini menunggu tindak lanjut pemerintah, apakah akan segera melakukan investigasi menyeluruh, mengevaluasi vendor, dan memperketat pengawasan, atau justru membiarkan keresahan ini berlarut-larut.
Karena pada akhirnya, keselamatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa jauh lebih penting daripada sekadar program pencitraan. (abd/ahh).












