Berita Peristiwa

Ucapan Merendahkan Wartawan di DPRD Pandeglang Picu Polemik Publik

553
×

Ucapan Merendahkan Wartawan di DPRD Pandeglang Picu Polemik Publik

Sebarkan artikel ini

Pan­deglang, SniperNew.id  – Sebuah insi­d­en ter­ja­di di hala­man Gedung DPRD Kabu­pat­en Pan­deglang pada Selasa (2/9) keti­ka seo­rang peser­ta aksi demon­strasi mel­on­tarkan perny­ataan kon­tro­ver­sial yang memicu kete­gan­gan. Dalam reka­man video yang diung­gah oleh akun media sosial iknpos.id, ter­den­gar uca­pan seo­rang pen­de­mo yang menye­but, “wartawan nggak ada fungsinya.” Uca­pan terse­but son­tak menim­bulkan reak­si keras dari berba­gai kalan­gan, teruta­ma para jur­nalis yang merasa pro­fesinya dile­cehkan, Kamis (04/09/2025).

Ung­ga­han yang dipub­likasikan akun iknpos.id terse­but mem­per­li­hatkan suasana di area Gedung DPRD Pan­deglang. Video menampilkan beber­a­pa pria, salah sat­un­ya men­ge­nakan jaket hitam den­gan celana hijau, yang tam­pak sedang dia­mankan oleh aparat kepolisian. Di belakang mere­ka, sejum­lah petu­gas kepolisian ber­ja­ga di sek­i­tar gedung. Tulisan “BREAKING NEWS” menghi­asi cup­likan video terse­but, menan­dakan bah­wa peri­s­ti­wa ini men­ja­di sorotan pub­lik.

Dalam keteran­gan ung­ga­han terse­but, iknpos.id menulis. “Uca­pan ‘wartawan nggak ada fungsinya’ yang dilon­tarkan seo­rang pen­de­mo di Gedung DPRD Pan­deglang, Selasa (2/9), memicu kete­gan­gan. Perny­ataan itu diang­gap meren­dahkan pro­fe­si jur­nalis yang memi­li­ki per­an pent­ing dalam demokrasi dan dilin­dun­gi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 ten­tang Pers. Bagaimana menu­rut­mu, apakah uca­pan seper­ti ini bisa dimak­lu­mi atau jus­tru harus ditin­dak tegas?”

Perny­ataan terse­but jelas meny­oroti sen­si­tiv­i­tas uca­pan yang dini­lai mele­cehkan pro­fe­si jur­nalis. Seba­gaimana dike­tahui, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 ten­tang Pers mene­gaskan per­lin­dun­gan ter­hadap ker­ja jur­nal­is­tik ser­ta men­jamin kebe­basan pers. Dalam kon­teks demokrasi, per­an jur­nalis tidak hanya sebatas penyam­pai infor­masi, tetapi juga men­ja­di pen­gawas jalan­nya pemer­in­ta­han, pen­gungkap fak­ta, dan penyam­pai aspi­rasi masyarakat.

  Kesalahpahaman Evakuasi Banjir Picu Keributan Soal ‘Angka

Dalam cup­likan video lain­nya yang diung­gah akun iknpos.id dan menampilkan tan­da air (water­mark) akun Insta­gram pan­deglangek­sis, ter­li­hat suasana di luar Gedung DPRD Pan­deglang cukup ramai. Beber­a­pa aparat kepolisian berser­agam lengkap ber­ja­ga di sek­i­tar lokasi. Tam­pak pula beber­a­pa orang yang diduga peser­ta aksi ten­gah digir­ing men­jauh dari lokasi gedung.

Meskipun tidak dije­laskan secara detail kon­teks aksi unjuk rasa terse­but, suasana dalam video mengindikasikan kete­gan­gan antara aparat kea­manan, peser­ta aksi, dan awak media yang meliput. Sorotan pub­lik ter­hadap perny­ataan “wartawan nggak ada fungsinya” kian mem­anaskan suasana, mengin­gat perny­ataan terse­but dipan­dang menced­erai pro­fe­si wartawan yang bek­er­ja di lapan­gan untuk meng­in­for­masikan peri­s­ti­wa kepa­da masyarakat.

Uca­pan yang diang­gap meren­dahkan marta­bat jur­nalis ini men­gun­dang kri­tik dari sejum­lah pihak. Organ­isasi pro­fe­si wartawan meni­lai bah­wa penghi­naan ter­hadap ker­ja jur­nal­is­tik tidak bisa ditol­er­an­si. Ket­ua salah satu organ­isasi wartawan di Ban­ten mene­gaskan bah­wa uca­pan semacam itu dap­at men­cip­takan preseden buruk bagi kebe­basan pers di Indone­sia.

Wartawan bukan hanya penyam­pai beri­ta, tetapi juga bagian dari pilar demokrasi. Keti­ka seo­rang war­ga negara atau pihak ter­ten­tu mere­mehkan pro­fe­si ini, itu sama saja mere­mehkan hak masyarakat untuk men­da­p­atkan infor­masi yang benar dan aku­rat,” ujarnya.

Di sisi lain, beber­a­pa pihak mengin­gatkan agar masyarakat mema­ha­mi per­an pers den­gan lebih baik. Pers bek­er­ja di lapan­gan dalam berba­gai situ­asi, ter­ma­suk saat meliput aksi demon­strasi yang ser­ing kali penuh risiko. Kri­tik ter­hadap pers diang­gap wajar dalam demokrasi, namun perny­ataan yang men­jatuhkan dan mele­cehkan jus­tru berpoten­si meng­ham­bat kebe­basan pers.

  Lahar Semeru Mengamuk, Warga Sumber Langsep Berjuang

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 ten­tang Pers secara jelas meny­atakan bah­wa kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaula­tan raky­at yang berasaskan prin­sip demokrasi, kead­i­lan, dan supre­masi hukum. Dalam Pasal 8 undang-undang terse­but, dise­butkan bah­wa dalam melak­sanakan pro­fesinya wartawan men­da­p­at per­lin­dun­gan hukum. Den­gan kata lain, tin­dakan atau perny­ataan yang dap­at meren­dahkan pro­fe­si wartawan dap­at dipros­es secara hukum apa­bi­la ter­buk­ti melang­gar atu­ran.

Pakar hukum pers, dalam wawan­cara ter­pisah, men­je­laskan bah­wa meskipun kebe­basan berpen­da­p­at dilin­dun­gi kon­sti­tusi, seti­ap uca­pan pub­lik harus mem­per­tim­bangkan eti­ka dan dampak sosial­nya.

Kebe­basan berpen­da­p­at tidak boleh men­ja­di alasan untuk meren­dahkan pro­fe­si ter­ten­tu, apala­gi pro­fe­si pers yang memi­li­ki per­an strate­gis dalam men­gaw­al demokrasi. Jika ada perny­ataan yang bersi­fat meren­dahkan atau mem­pro­vokasi, sebaiknya dipros­es sesuai mekanisme hukum,” ujarnya.

Ung­ga­han iknpos.id ten­tang perny­ataan terse­but menim­bulkan perde­batan sen­git di media sosial. Seba­gian neti­zen menge­cam keras uca­pan terse­but, meni­lai bah­wa komen­tar itu tidak pan­tas dan bisa merusak cit­ra per­juan­gan masyarakat dalam menyam­paikan aspi­rasi. Ada pula yang mengin­gatkan pent­ingnya sal­ing meng­hor­mati antara aktivis, aparat, dan jur­nalis agar perbe­daan pan­dan­gan tidak memicu per­pec­a­han.

Seba­gian war­ganet lain­nya men­co­ba mema­ha­mi bah­wa uca­pan terse­but mungkin lahir dari keke­ce­waan atau emosi sesaat saat berde­mo. Namun mere­ka tetap mene­gaskan per­lun­ya edukasi pub­lik agar mema­ha­mi per­an wartawan secara utuh. “Kalau ada pem­ber­i­taan yang kurang berim­bang, sebaiknya dis­am­paikan melalui mekanisme hak jawab, bukan den­gan meren­dahkan pro­fe­si wartawan,” tulis salah satu peng­gu­na media sosial.

Dalam situ­asi seper­ti ini, pent­ing untuk mengin­gatkan kem­bali per­an vital pers seba­gai pen­ja­ga demokrasi. Wartawan bek­er­ja untuk menya­jikan fak­ta kepa­da pub­lik, men­gawasi jalan­nya pemer­in­ta­han, dan menyuarakan kepentin­gan raky­at. Mes­ki terkadang pem­ber­i­taan memicu perde­batan, wartawan tetap bera­da di garis depan untuk men­gungkap kebe­naran dan meng­hadirkan infor­masi.

  Kucing Oren Bertahan Tiga Minggu di Pohon Sawit, Berhasil Dievakuasi Relawan di Aceh Tamiang

Seo­rang jur­nalis senior mene­gaskan bah­wa penghi­naan ter­hadap pers dap­at berdampak negatif ter­hadap kual­i­tas demokrasi. “Jika masyarakat kehi­lan­gan keper­cayaan pada wartawan kare­na uca­pan-uca­pan meren­dahkan, maka ruang infor­masi akan semakin sem­pit dan rentan diisi oleh hoaks. Meng­hor­mati wartawan berar­ti meng­hor­mati hak pub­lik atas infor­masi,” katanya.

Peri­s­ti­wa ini men­ja­di pem­be­la­jaran bagi semua pihak ten­tang pent­ingnya men­ja­ga eti­ka komu­nikasi, teruta­ma di ruang pub­lik. Aksi demon­strasi adalah hak kon­sti­tu­sion­al war­ga negara, demikian pula kebe­basan pers adalah hak fun­da­men­tal dalam demokrasi. Ked­ua hak ini semestinya dap­at ber­jalan beriringan tan­pa sal­ing meren­dahkan.

Para tokoh masyarakat dan aktivis hak asasi manu­sia pun men­ga­jak agar masyarakat meng­hor­mati per­an jur­nalis. Mere­ka mene­gaskan bah­wa pers bukan­lah lawan dari raky­at atau pemer­in­tah, melainkan mitra yang berfungsi mem­berikan infor­masi dan pen­gawasan sosial.

“Kalau ada kri­tik ter­hadap media, sam­paikan den­gan cara yang san­tun. Pers juga harus ter­bu­ka ter­hadap kri­tik. Tapi jan­gan sam­pai uca­pan kita melukai pro­fe­si yang sela­ma ini bek­er­ja untuk kepentin­gan pub­lik,” ujar salah satu aktivis.

Uca­pan “wartawan nggak ada fungsinya” yang viral di media sosial bukan hanya memicu polemik, tetapi juga mem­bu­ka ruang diskusi ten­tang pent­ingnya meng­hor­mati pro­fe­si wartawan. Dalam negara demokrasi, kebe­basan berpen­da­p­at dan kebe­basan pers harus dija­ga bersama. Insi­d­en di Pan­deglang ini men­ja­di momen­tum untuk meningkatkan lit­erasi pub­lik ten­tang per­an media, ser­ta men­dorong semua pihak agar sal­ing meng­har­gai dalam menyam­paikan aspi­rasi.

Den­gan lan­dasan hukum yang melin­dun­gi pro­fe­si wartawan ser­ta komit­men semua pihak ter­hadap demokrasi, dihara­p­kan insi­d­en seper­ti ini tidak teru­lang di masa depan. (Dar­mawan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *