Berita Peristiwa

Preman Tambang Ilegal Beraksi, Saatnya Aparat Buktikan Wibawa Hukum

782
×

Preman Tambang Ilegal Beraksi, Saatnya Aparat Buktikan Wibawa Hukum

Sebarkan artikel ini

Keta­pang, SniperNew.id - Kasus intim­i­dasi ter­hadap seo­rang wartawan di Keta­pang kem­bali mem­bu­ka tabir lemah­nya pene­gakan hukum ter­hadap prak­tik tam­bang emas ile­gal yang kian mer­a­jalela. Viral di media sosial, sebuah video mem­per­li­hatkan Rus­li, seo­rang jur­nalis media lokal, men­da­p­at per­lakuan intim­i­datif dari sekelom­pok orang yang diduga terkait aktiv­i­tas tam­bang emas ile­gal di kawasan Keru­ing Dalam, per­batasan Desa Pematang Gadung dan Sun­gai Besar, Keca­matan Matan Hilir Sela­tan (MHS), Kabu­pat­en Keta­pang, Kali­man­tan Barat, Ming­gu 24/08/2025).

Insi­d­en ini tidak hanya memu­nculkan kepri­hati­nan, tetapi juga sorotan tajam ter­hadap aparat pene­gak hukum setem­pat yang dini­lai kurang tegas menin­dak aktiv­i­tas tam­bang ile­gal, sekali­gus terke­san mem­biarkan aksi-aksi pre­man­isme di wilayah terse­but.

Dalam video berdurasi singkat yang beredar, ter­li­hat jelas roda kendaraan milik Rus­li diran­tai meng­gu­nakan gem­bok oleh seo­rang pria. Den­gan lan­tang, pria terse­but men­gaku seba­gai anggota organ­isasi berna­ma Per­sat­u­an Tam­bang Inde­pen­den Raky­at (PETIR) Keta­pang. Ia bahkan meny­atakan aksinya den­gan penuh kebang­gaan.

Jan­gan hanya mulut, ini buk­tinya kami gem­bok motor. Orang PETIR ini, PETIR tidak main-main,” ucap pria itu sam­bil mengikat rantai ke roda motor dan men­guncinya ke kur­si kayu pan­jang.

Tidak berhen­ti di situ. Dalam video lain, Rus­li juga ter­li­hat diin­tim­i­dasi oleh seo­rang pria berpe­nampi­lan memakai topi dan kaca­ma­ta hitam di sebuah ruan­gan ter­bu­ka, di hada­pan sejum­lah orang. Nada anca­man ter­den­gar jelas, bahkan nyaris dis­er­tai tin­dakan kek­erasan fisik.

Kau sudah kami ingatkan jan­gan masuk lagi ke lokasi tam­bang,” ujar pria bertopi hitam den­gan nada kasar, sam­bil men­ga­cungkan tan­gan seo­lah hen­dak memukul.

Peri­s­ti­wa ini menim­bulkan per­tanyaan besar ten­tang keber­adaan hukum di Kabu­pat­en Keta­pang. Men­ga­pa aksi pre­man­isme bisa ter­ja­di secara ter­bu­ka di hada­pan pub­lik? Men­ga­pa intim­i­dasi ter­hadap seo­rang wartawan, yang men­jalankan tugas kon­trol sosial, tidak men­da­p­at per­lin­dun­gan serius dari aparat?

  Polisi Temukan Korban Kecelakaan Sepeda Motor

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, upaya kon­fir­masi ter­hadap Ket­ua PETIR Keta­pang, Kacong Supan­di, tidak mem­buahkan hasil. Tele­pon seluler dan pesan What­sApp yang dikir­im awak media tidak men­da­p­atkan respons, bahkan nomor yang bersangku­tan ter­pan­tau tidak aktif.

Namun, yang men­ja­di sorotan lebih besar adalah lemah­nya respons aparat dan pemer­in­tah daer­ah ter­hadap maraknya tam­bang emas ile­gal di Keta­pang. Aktiv­i­tas penam­ban­gan tan­pa izin telah berlang­sung lama dan beru­lang kali diper­masalahkan, tetapi upaya pen­ert­iban ker­ap dini­lai tebang pil­ih.

Banyak pihak men­duga adanya pem­biaran sis­tem­a­tis ter­hadap aktiv­i­tas tam­bang ile­gal di wilayah terse­but. Aparat pene­gak hukum yang memi­li­ki kewe­nan­gan menin­dak, dini­lai tidak menun­jukkan kete­gasan. Pen­ert­iban yang dilakukan terke­san hanya for­mal­i­tas, tidak menyen­tuh aktor-aktor uta­ma maupun jaringan yang men­gen­da­likan tam­bang ile­gal terse­but.

Seba­gai kon­trol sosial, para jur­nalis ker­ap men­ja­di gar­da depan untuk menyuarakan peny­im­pan­gan dan pelang­garan hukum. Namun, keti­ka wartawan yang men­gungkap per­soalan tam­bang ile­gal jus­tru diin­tim­i­dasi, hal ini men­ja­di alarm keras beta­pa lemah­nya per­lin­dun­gan ter­hadap kebe­basan pers dan pene­gakan hukum di lapan­gan.

Masyarakat luas, teruta­ma pegiat lingkun­gan dan pemer­hati hukum, meni­lai aparat dan pemer­in­tah daer­ah terke­san “menut­up mata”. Prak­tik tam­bang emas tan­pa izin tidak hanya merusak lingkun­gan, tetapi juga berpoten­si menim­bulkan kon­flik hor­i­zon­tal. Kehadi­ran kelom­pok-kelom­pok yang men­gaku “organ­isasi” seper­ti PETIR, namun bertin­dak di luar batas hukum, menun­jukkan adanya kekosongan kete­gasan dari pihak berwe­nang.

  Asap Hitam Pekat Membumbung, Kebakaran Terjadi di Kawasan Cililitan

Desakan kepa­da Kapol­da Kali­man­tan Barat, Kapol­res Keta­pang, dan Kapolsek Matan Hilir Sela­tan agar bertin­dak tegas semakin men­guat. Pub­lik mem­inta aparat tidak hanya melakukan razia ser­e­mo­ni­al, tetapi benar-benar menin­dak jaringan tam­bang ile­gal hing­ga ke akar-akarnya.

Sejum­lah tokoh masyarakat Keta­pang yang eng­gan dise­butkan namanya men­gungkap­kan bah­wa tam­bang emas ile­gal di daer­ah terse­but telah lama men­ja­di “lahan basah” berba­gai kepentin­gan. Pen­ert­iban ker­ap dilakukan, namun hanya menyasar peker­ja kecil di lapan­gan, semen­tara aktor uta­ma yang diduga memi­li­ki keku­atan finan­sial dan dukun­gan kelom­pok ter­ten­tu jarang tersen­tuh.

Hal ini memu­nculkan dugaan adanya pem­biaran bahkan kemu­ngk­i­nan “main mata” den­gan oknum ter­ten­tu. Masyarakat pun meni­lai bah­wa lemah­nya kete­gasan aparat mem­beri ruang bagi tum­buh sub­urnya pre­man­isme.

Seo­rang pemer­hati hukum di Pon­tianak mene­gaskan bah­wa intim­i­dasi ter­hadap wartawan adalah ben­tuk anca­man serius ter­hadap demokrasi. “Pers adalah pilar keem­pat demokrasi. Jika wartawan yang men­jalankan fungsi kon­trol jus­tru diin­tim­i­dasi dan negara tidak hadir melin­dun­gi, maka yang rusak bukan hanya hukum, tetapi juga sen­di-sen­di demokrasi kita,” ujarnya.

Ia juga meny­oroti dampak lingkun­gan yang ditim­bulkan tam­bang emas ile­gal. Kerusakan hutan, pence­maran air aki­bat peng­gu­naan merkuri, dan kon­flik lahan men­ja­di anca­man nya­ta bagi masyarakat sek­i­tar. Namun, iro­nis­nya, penin­dakan hukum ter­hadap pelaku uta­ma tam­bang ile­gal nyaris tidak ter­li­hat.

Dalam kon­teks ini, aparat pene­gak hukum seharus­nya bersikap tegas dan tidak takut meng­hadapi tekanan kelom­pok mana pun. Keber­adaan organ­isasi atau kelom­pok yang men­gaku mem­bela raky­at tetapi jus­tru melakukan intim­i­dasi jelas tidak dap­at dibenarkan. Pene­gakan hukum harus berlaku sama ter­hadap sia­pa pun, tan­pa pan­dang bulu.

  Tragedi Wisata Bislab, Jane dan Resky Ditemukan, Syadsya Asal Mallawa Masih Hilang

Pub­lik mende­sak Kapol­da Kali­man­tan Barat untuk segera mengam­bil langkah konkret. Penye­lidikan men­dalam ter­hadap intim­i­dasi ter­hadap wartawan Rus­li harus dilakukan, sekali­gus mem­bongkar jaringan tam­bang ile­gal yang meli­batkan oknum-oknum di belakang layar.

Selain itu, pemer­in­tah daer­ah juga ditun­tut tidak menut­up mata. Bupati Keta­pang dan jajaran terkait mesti ter­li­bat aktif men­gatasi per­soalan tam­bang ile­gal, tidak hanya men­gan­dalkan aparat kepolisian. Pene­gakan atu­ran harus ber­jalan sin­er­gis antara pemer­in­tah daer­ah, kepolisian, dan instan­si terkait lain­nya.

Sudah saat­nya pemer­in­tah pusat pun turun tan­gan jika pene­gakan hukum di tingkat daer­ah man­dek. Kementer­ian Lingkun­gan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ser­ta aparat pene­gak hukum di tingkat pusat memi­li­ki kewe­nan­gan melakukan super­visi dan penin­dakan jika aparat daer­ah tidak mam­pu atau eng­gan bertin­dak.

Kasus Rus­li hanyalah pun­cak dari gunung es per­masala­han tam­bang ile­gal di Keta­pang. Di balik kasus ini, ter­da­p­at per­soalan besar: lemah­nya pene­gakan hukum, dugaan pem­biaran, dan keti­dakhadi­ran negara di ten­gah masyarakat.

Jika aparat terus bersikap lemah, maka bukan hanya lingkun­gan yang han­cur, tetapi wibawa hukum juga akan run­tuh. Pre­man­isme akan semakin mer­a­jalela, dan masyarakat yang kri­tis akan terus men­ja­di kor­ban intim­i­dasi.

Pene­gakan hukum yang tegas, adil, dan transparan adalah satu-sat­un­ya jalan kelu­ar. Aparat harus mem­buk­tikan bah­wa mere­ka tidak dap­at dibeli, tidak tun­duk pada tekanan, dan berdiri di atas kepentin­gan hukum ser­ta kead­i­lan.

Kasus ini men­ja­di ujian serius bagi integri­tas aparat di Kali­man­tan Barat. Pub­lik menan­ti, apakah intim­i­dasi ter­hadap wartawan dan maraknya tam­bang ile­gal akan ditin­dak tegas, atau jus­tru dib­iarkan hing­ga men­ja­di bom wak­tu yang akan meledak di kemu­di­an hari.

Lapo­ran: (Suf/tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *