Berita Hukum

Eksepsi Jurnalis Bali: PN Negara Dinilai Tak Berwenang, Dakwaan JPU Disebut Cacat Hukum

320
×

Eksepsi Jurnalis Bali: PN Negara Dinilai Tak Berwenang, Dakwaan JPU Disebut Cacat Hukum

Sebarkan artikel ini

Bali, SniperNew.id  – Ruang sidang Pen­gadi­lan Negeri (PN) Negara kem­bali men­ja­di sorotan pub­lik. Pada Selasa (19/8/2025), jur­nalis I Putu Suardana res­mi men­ga­jukan eksep­si atas dak­waan Jak­sa Penun­tut Umum (JPU) yang men­jer­at dirinya dalam kasus yang dini­lai menyangkut karya jur­nal­is­tik.

Sidang yang dip­impin oleh Ket­ua Majelis Hakim Regy Tri­hardianto, bersama dua hakim anggota, berlang­sung den­gan pen­gawalan ketat. Suardana tam­pak ten­ang menden­garkan jalan­nya per­si­dan­gan, duduk di kur­si ter­dak­wa den­gan didampin­gi dua penasi­hat hukum, I Putu Wira­ta Dwiko­ra, SH dan I Ketut Artana, SH, MH. Semen­tara itu, JPU diwak­ili oleh Ida Bagus Eka, S.H., M.H.

Dalam pem­ba­caan eksep­si, tim kuasa hukum Suardana mene­gaskan bah­wa perkara yang dihadapi kli­en­nya tidak seharus­nya dipros­es melalui jalur pidana. Menu­rut mere­ka, sen­gke­ta ini murni terkait karya jur­nal­is­tik yang mekanisme penye­le­sa­ian­nya diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 ten­tang Pers.

“Ini murni sen­gke­ta karya jur­nal­is­tik, sehing­ga penye­le­sa­ian­nya wajib melalui Dewan Pers, bukan pen­gadi­lan pidana,” tegas tim kuasa hukum di hada­pan majelis hakim.

  Skenario 'Zonk' di Limau Sundai: Grebek Judi Dadu & Sabung Ayam Cabak Diduga Formalitas, Lukman Nusa.com Pasang Badan Jadi Negosiator Bandar?"

Dalil terse­but diperku­at den­gan adanya MoU antara Dewan Pers dan Pol­ri yang secara eksplisit men­gatur bah­wa seti­ap perselisi­han terkait pem­ber­i­taan harus lebih dulu dis­e­le­saikan melalui mekanisme Dewan Pers.

Selain mem­per­masalahkan kewe­nan­gan, tim hukum juga meni­lai dak­waan yang dis­usun JPU tidak cer­mat, bahkan salah dalam pen­er­a­pan hukum. Mere­ka berpen­da­p­at bah­wa pasal yang disangkakan tidak rel­e­van den­gan sub­stan­si kasus.

“Kalau meru­juk KUHP, pasal yang rel­e­van adalah Pasal 310 ten­tang pence­maran nama baik, bukan Pasal 27A UU ITE seba­gaimana digu­nakan JPU,” jelas salah satu penasi­hat hukum.

Lebih jauh, mere­ka meni­lai dak­waan JPU tidak lengkap kare­na mengabaikan fak­ta pent­ing yang jus­tru men­guatkan pem­ber­i­taan yang dit­ulis Suardana.

Kasus ini bermu­la dari pem­ber­i­taan Suardana pada April 2024 terkait dugaan pelang­garan tata ruang pem­ban­gu­nan SPBU 54.822.16 di Kelu­ra­han Pen­dem, Jem­brana. Pem­ber­i­taan itu meny­oroti dugaan pem­ban­gu­nan yang tidak sesuai atu­ran sem­padan sun­gai.

Fak­ta di lapan­gan kemu­di­an mem­perku­at dugaan terse­but. Pada 30 Mei 2024, Bal­ai Wilayah Sun­gai (BWS) Bali Peni­da meny­atakan secara res­mi bah­wa ban­gu­nan SPBU itu memang melang­gar sem­padan Sun­gai Jogad­ing dan tidak men­gan­ton­gi izin dari Kementer­ian PUPR.

“Artinya, pem­ber­i­taan ter­dak­wa bukan fit­nah. Jus­tru men­gungkap pelang­garan nya­ta yang seharus­nya ditin­dak oleh aparat, bukan malah men­jadikan wartawan seba­gai ter­dak­wa,” tegas tim hukum.

Kuasa hukum juga mengin­gatkan bah­wa beri­ta yang dit­ulis Suardana meru­pakan pro­duk jur­nal­is­tik res­mi. Ia memi­li­ki kar­tu pers dan ser­ti­fikat Dewan Pers seba­gai wartawan muda di media CMN.

  Proyek BUMDesma Sei Bamban Disorot, Kandang Rp85 Juta Diduga Sarat Korupsi

Den­gan sta­tus itu, pem­ber­i­taan Suardana tun­duk pada atu­ran UU Pers seba­gai lex spe­cialis, bukan pada UU ITE. “Tidak tepat men­jadikan UU ITE seba­gai dasar men­jer­at jur­nalis. UU Pers lebih spe­si­fik men­gatur mekanisme sen­gke­ta pem­ber­i­taan,” ujar kuasa hukum mene­gaskan.

Tak berhen­ti di situ, kuasa hukum juga mem­per­tanyakan legal stand­ing pela­por, yaitu Dewi Supri­ani alias Anik Yahya, yang bersta­tus seba­gai komis­aris perusa­haan pen­gelo­la SPBU.

Menu­rut keten­tu­an dalam UU Perseroan Ter­batas, hanya direk­si yang berhak mewak­ili perusa­haan di dalam maupun di luar pen­gadi­lan. Semen­tara komis­aris hanya memi­li­ki fungsi pen­gawasan.

“Den­gan demikian, lapo­ran yang dia­jukan pela­por cacat formil dan tidak memi­li­ki dasar hukum. Ini semakin mene­gaskan bah­wa perkara ini seharus­nya dihen­tikan,” ucap tim hukum.

Dalam penut­up eksep­si, tim hukum Suardana menyam­paikan lima tun­tu­tan uta­ma kepa­da majelis hakim, yakni:

1. mener­i­ma eksep­si untuk selu­ruh­nya,

2. meny­atakan PN Negara tidak berwe­nang men­gadili perkara,

3. meny­atakan dak­waan batal demi hukum,

4. meny­atakan pela­por tidak memi­li­ki legal stand­ing,

5. mem­be­baskan Putu Suardana dari segala dak­waan.

 

Selain itu, mere­ka juga mem­inta agar hak, marta­bat, dan kedudukan Suardana dip­ulihkan seba­gaimana sem­u­la.

Sidang den­gan reg­is­trasi perkara Nomor 70/Pid.Sus/2025/PN Nga ditut­up sete­lah pem­ba­caan eksep­si. Majelis hakim men­jad­walkan agen­da sidang berikut­nya pada Kamis (28/9/2025) untuk menden­garkan tang­ga­pan JPU atas eksep­si terse­but.

  Hukum Dipertanyakan, Judi Dadu Milik “Cabak” Tak Tersentuh Aparat.

Kasus ini son­tak menyi­ta per­ha­t­ian pub­lik, khusus­nya kalan­gan pers di Bali dan nasion­al. Banyak pihak meni­lai pros­es hukum ter­hadap Suardana bisa men­ja­di preseden buruk bagi kebe­basan pers di Indone­sia.

Sejum­lah organ­isasi jur­nalis dan aktivis kebe­basan berek­spre­si meny­atakan kepri­hati­nan. Mere­ka meni­lai upaya krim­i­nal­isasi ter­hadap wartawan jus­tru men­gan­cam fungsi pers seba­gai pilar demokrasi dan pen­gawas jalan­nya pemer­in­ta­han.

Peng­gu­naan UU ITE untuk men­jer­at karya jur­nal­is­tik dini­lai seba­gai langkah mundur yang berpoten­si mem­bungkam kebe­basan berpen­da­p­at. Apala­gi, fak­ta lapan­gan telah mem­buk­tikan bah­wa pem­ber­i­taan Suardana berangkat dari kebe­naran sub­stan­sial men­ge­nai pelang­garan tata ruang.

Sidang ini kem­bali mem­bu­ka diskusi besar ten­tang batas antara kebe­basan pers, tang­gung jawab jur­nalis, ser­ta kecen­derun­gan peng­gu­naan instru­men hukum untuk menekan kri­tik.

Banyak kalan­gan meni­lai, jika pen­gadi­lan mengabaikan UU Pers dan lebih memil­ih meng­gu­nakan UU ITE, maka ruang kebe­basan jur­nalis akan semakin sem­pit. Hal ini bisa men­cip­takan chill­ing effect, di mana wartawan eng­gan menulis beri­ta kri­tis kare­na takut beru­jung krim­i­nal­isasi.

Kini, mata pub­lik ter­tu­ju pada PN Negara. Putu­san majelis hakim nan­ti­nya tidak hanya menen­tukan nasib I Putu Suardana, tetapi juga akan men­ja­di uku­ran sejauh mana negara kon­sis­ten men­jun­jung ting­gi kebe­basan pers yang dijamin oleh kon­sti­tusi.

Lapo­ran: (Sufiyawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *