Berita Daerah

Dongkoi Bergema di Desa Ipu: Tradisi Dayak Barito Utara Semarakkan HUT RI ke-80

1235
×

Dongkoi Bergema di Desa Ipu: Tradisi Dayak Barito Utara Semarakkan HUT RI ke-80

Sebarkan artikel ini

Bar­i­to Utara, SniperNew.id – Dalam rang­ka menyam­but Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Repub­lik Indone­sia, Desa Ipu, Keca­matan Lahei, Kabu­pat­en Bar­i­to Utara, Kali­man­tan Ten­gah, mengge­lar lom­ba seni suara tra­di­sion­al khas Dayak Bar­i­to Utara yang dike­nal den­gan sebu­tan dongkoi. Acara ini meru­pakan hasil kolab­o­rasi antara Pemer­in­tah Desa Ipu den­gan organ­isasi masyarakat Gabun­gan Pangkali­ma Dayak (GPD) Alur Bar­i­to ser­ta Per­sat­u­an Dayak Dusun Malang (Per­damal), Sab­tu (16/08/202).

Kegiatan terse­but berlang­sung meri­ah di bal­ai desa setem­pat pada Sab­tu malam (tang­gal kegiatan), dihadiri berba­gai tokoh masyarakat, adat, dan unsur pemer­in­tah daer­ah. Mes­ki dige­lar den­gan sarana seder­hana, seman­gat para peser­ta dan masyarakat untuk melestarikan tra­disi leluhur tam­pak begi­tu ting­gi.

Suasana Meri­ah, Dipan­du MC Lokal

Acara dipan­du oleh dua pem­bawa acara, yaitu Bung Kora asal Desa Ipu dan Mba Eka dari Muara Teweh. Kehadi­ran ked­u­anya mem­bu­at suasana lebih hidup den­gan guy­onan khas dan penyam­pa­ian acara yang hangat.

Berba­gai tokoh pent­ing turut hadir, di antaranya Edi Prana­ji, per­wak­i­lan dari staf DPRD Bar­i­to Utara; per­wak­i­lan Dewan Adat Dayak Bar­i­to Utara; staf Kede­man­gan Keca­matan Lahei, Aryosi Jiono; Ket­ua Umum GPD Alur Bar­i­to, Hison; ser­ta Kepala Desa Ipu.

  Kaesang Tegaskan PSI Bidik Jawa Tengah, Ingin Ubah “Kandang Banteng” Jadi “Kandang Gajah”

Selain itu, tiga dewan juri juga dihadirkan untuk meni­lai kual­i­tas penampi­lan peser­ta. Den­gan dukun­gan perangkat musik seder­hana dan sound sys­tem yang disi­ap­kan pani­tia, lom­ba seni suara dongkoi res­mi dim­u­lai sete­lah serangka­ian sambu­tan.

Dalam sambu­tan­nya, Ket­ua Umum GPD Alur Bar­i­to, Hison, men­gaku ter­haru atas terse­leng­garanya kegiatan terse­but. Menu­rut­nya, mes­ki fasil­i­tas yang digu­nakan masih ter­batas, seman­gat masyarakat untuk melestarikan seni tra­disi patut diapre­si­asi.

“Saya san­gat ter­haru bisa hadir di acara seder­hana ini. Demi mer­ayakan kemerdekaan RI ke-80, kita rela melak­sanakan lom­ba seni suara tingkat kabu­pat­en mes­ki sarana dan prasarana belum sepenuh­nya memadai. Jika tidak ada gagasan seper­ti ini, ten­tu acara tidak akan per­nah ter­lak­sana. Saya prib­a­di bert­er­i­ma kasih kepa­da semua pihak, khusus­nya DPC GPD Keca­matan Lahei di bawah pimp­inan Gusti Adyansah, ser­ta Pemer­in­tah Desa Ipu yang men­dukung penuh hing­ga kegiatan ini bisa dibu­ka secara res­mi,” ujar Hison.

Semen­tara itu, per­wak­i­lan Kede­man­gan Keca­matan Lahei, Aryosi Jiono, menyam­paikan dukun­gan penuh ter­hadap pelak­sanaan lom­ba terse­but. Ia mene­gaskan bah­wa kesen­ian dongkoi meru­pakan bagian pent­ing dari budaya Dayak yang per­lu dija­ga sesuai den­gan payung hukum daer­ah.

“Kami dari Kede­man­gan san­gat setu­ju den­gan penye­leng­garaan lom­ba ini. Seni suara dongkoi meru­pakan warisan budaya yang telah diatur dalam Per­da Nomor 16 Tahun 2008 ten­tang pelestar­i­an seni budaya dan kedudukan tugas kede­man­gan. Den­gan adanya acara seper­ti ini, kita tidak hanya mer­ayakan HUT RI, tetapi juga men­ja­ga keber­lang­sun­gan iden­ti­tas budaya masyarakat Dayak,” ungkap Aryosi.

  Polisi Kembali Gagalkan Peredaran Sabu, Satu Pelaku Diringkus*

Hal sena­da dis­am­paikan oleh per­wak­i­lan DPRD Bar­i­to Utara, Edi Prana­ji. Ia meni­lai acara terse­but bukan hanya hibu­ran sema­ta, tetapi juga wadah pent­ing untuk mem­per­erat per­sat­u­an dan melestarikan budaya lokal.

“Saya bersyukur bisa hadir di acara ini. Per­ayaan kemerdekaan ke-80 semakin bermak­na den­gan adanya lom­ba kesen­ian tra­di­sion­al seper­ti dongkoi. Kalau bukan kita yang melestarikan, lalu sia­pa lagi? Ke depan, saya berharap acara ini bisa lebih besar den­gan kolab­o­rasi yang baik antara masyarakat, pemer­in­tah, dan lem­ba­ga terkait. Kami dari DPRD ten­tu men­dukung, bahkan beru­paya agar kegiatan budaya seper­ti ini dap­at masuk dalam pro­gram anggaran melalui prose­dur yang res­mi,” tutur Edi.

Dongkoi meru­pakan seni suara tra­di­sion­al masyarakat Dayak Bar­i­to Utara yang biasa dita­mpilkan dalam acara adat maupun per­ayaan ter­ten­tu. Kesen­ian ini memadukan keku­atan vokal, ira­ma khas, ser­ta ekspre­si budaya yang menggam­barkan nilai-nilai kehidu­pan, keber­samaan, dan peng­hor­matan kepa­da leluhur.

Lom­ba kali ini meng­hadirkan sejum­lah peser­ta dari berba­gai desa di Keca­matan Lahei dan sek­i­tarnya. Mere­ka tampil den­gan penuh seman­gat, menun­jukkan kemam­puan olah vokal ser­ta gaya khas mas­ing-mas­ing dalam melan­tunkan dongkoi. Penampi­lan para peser­ta men­da­p­at sambu­tan meri­ah dari penon­ton yang mema­dati lokasi acara.

Mes­ki per­ala­tan dan fasil­i­tas pen­dukung masih ter­batas, pani­tia bersama ormas GPD dan Per­damal berhasil menyu­lap acara terse­but men­ja­di momen­tum penuh mak­na. Keter­li­batan masyarakat yang antu­sias hadir dan mem­beri dukun­gan menam­bah semarak suasana.

  Izin PT KPLB Dipertanyakan, Kades Lumbir Rejo Tantang Kadis DPMPTSP Buktikan Keabsahan

Ket­ua pani­tia menye­butkan, kegiatan ini bukan hanya ajang lom­ba, melainkan juga ruang keber­samaan untuk menghidup­kan kem­bali budaya Dayak yang nyaris tergerus zaman. “Kami ingin gen­erasi muda men­ge­nal dan menc­in­tai kesen­ian leluhur mere­ka. Den­gan cara ini, nilai-nilai budaya tidak hilang begi­tu saja,” ujarnya.

Pun­cak acara ditandai den­gan pem­bukaan res­mi oleh Ket­ua Umum GPD Alur Bar­i­to, Hison. Den­gan seman­gat keber­samaan, ia men­ga­jak semua pihak men­jadikan per­ayaan HUT RI ke-80 ini seba­gai momen­tum kebangk­i­tan seni dan budaya lokal.

“Mari kita jadikan peringatan kemerdekaan ini tidak hanya seba­gai pes­ta ser­e­mo­ni­al, tetapi juga seba­gai ruang untuk men­gangkat kem­bali tra­disi kita. Semoga dongkoi terus berge­ma di Bar­i­to Utara dan men­ja­di kebang­gaan bersama,” pungkas­nya.

Lom­ba seni suara dongkoi di Desa Ipu bukan hanya meri­ahkan peringatan HUT RI ke-80, tetapi juga men­ja­di sim­bol kuat­nya tekad masyarakat Dayak Bar­i­to Utara dalam men­ja­ga warisan leluhur. Tra­disi yang dike­mas dalam suasana seder­hana itu mem­beri pesan men­dalam: kemerdekaan bukan hanya soal per­ayaan, melainkan juga tang­gung jawab untuk melestarikan iden­ti­tas budaya bangsa.

Den­gan seman­gat terse­but, masyarakat berharap kegiatan seru­pa dap­at berlan­jut di tahun-tahun men­datang, den­gan dukun­gan lebih luas dari berba­gai pihak. Dongkoi pun akan terus hidup, men­ja­di gema kebang­gaan Dayak Bar­i­to Utara dalam bingkai per­sat­u­an Indone­sia.

Penulis: (Hen­ryanus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *