Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Tambang Ilegal Doyok Renggut 3 Nyawa, Publik Desak Bongkar Mafia BBM dan Bos Besar

281
×

Tambang Ilegal Doyok Renggut 3 Nyawa, Publik Desak Bongkar Mafia BBM dan Bos Besar

Sebarkan artikel ini

Keta­pang, SniperNew.id – Trage­di mematikan kem­bali meng­han­tam aktiv­i­tas per­tam­ban­gan emas tan­pa izin (PETI) di Desa Pematang Gadung, wilayah yang sudah lama dike­nal seba­gai titik rawan kece­lakaan tam­bang. Tiga peker­ja tewas ter­tim­bun tanah gem­bur saat men­g­op­erasikan alat berat dan mesin pro­duk­si di lokasi tam­bang ile­gal Doyok, Senin (11/08/2025).

Insi­d­en ini menim­bulkan gelom­bang kemara­han pub­lik, yang menun­tut aparat untuk mem­bongkar jaringan pelaku besar, ter­ma­suk mafia BBM ile­gal yang mema­sok operasi tam­bang.

Peri­s­ti­wa naas ini ter­ja­di saat dua ekska­va­tor sedang melakukan peng­galian di area tam­bang. Tanah yang sebelum­nya ter­li­hat sta­bil men­dadak long­sor, menim­bun oper­a­tor ekska­va­tor, oper­a­tor mesin domp­ing, dan seo­rang karyawan tam­bang. Upaya penye­la­matan tak berhasil, dan nyawa mere­ka tak ter­to­long.

Tubuh kor­ban kemu­di­an dite­mukan dalam kon­disi men­ge­naskan, dibungkus seadanya meng­gu­nakan tikar, men­ja­di peman­dan­gan pilu bagi rekan ker­ja dan kelu­ar­ga.

Bagi war­ga sek­i­tar, Doyok bukan­lah lokasi baru. Sela­ma bertahun-tahun, area ini men­ja­di pusat operasi tam­bang ile­gal yang berop­erasi tan­pa hen­ti, siang dan malam. Berdasarkan keteran­gan lapan­gan, lokasi ini bera­da di bawah kendali seo­rang pen­gusa­ha lokal berin­isial Akong, nama yang dise­but-sebut sudah lama bera­da dalam lingkaran bis­nis PETI di Kabu­pat­en Keta­pang.

  Air Banjir Terus Naik, Warga Panik Tinggalkan Rumahnya

Mes­ki aktiv­i­tas terse­but berlang­sung terang-teran­gan, penin­dakan tegas nyaris tak per­nah menyen­tuh aktor uta­ma. Kegiatan tam­bang ber­jalan den­gan dukun­gan logis­tik yang lan­car, teruta­ma pasokan bahan bakar yang men­ja­di nadi uta­ma opera­sion­al.

Bagi masyarakat, insi­d­en ini bukan sekadar “musi­bah ker­ja”. Mere­ka meni­lai trage­di terse­but adalah kon­sekuen­si dari pem­biaran yang dilakukan oleh aparat pene­gak hukum (APH) dan pemer­in­tah, baik di tingkat kabu­pat­en, provin­si, maupun pusat.

“Jan­gan cuma duduk di kan­tor mener­i­ma lapo­ran. Turun ke lapan­gan, bongkar bos-bos besar yang bermain di balik PETI,” ungkap seo­rang war­ga yang mem­inta iden­ti­tas­nya dira­hasi­akan.

Ia mene­gaskan bah­wa pem­ber­an­tasan PETI tidak akan per­nah berhasil jika hanya menin­dak pelaku lapan­gan. “Sela­ma SPBU nakal dan mafia solar sub­si­di masih diberi napas, tam­bang ile­gal akan terus hidup, dan kor­ban akan terus ber­jatuhan,” tam­bah­nya.

Infor­masi yang dihim­pun dari beber­a­pa sopir tang­ki men­gungkap adanya jalur pasokan BBM sub­si­di dan indus­tri yang dis­alurkan secara ile­gal ke Doyok. Modus­nya, pem­be­lian dilakukan di SPBU dalam jum­lah besar meng­gu­nakan doku­men yang dima­nip­u­lasi, kemu­di­an diangkut den­gan truk tang­ki mod­i­fikasi menu­ju lokasi tam­bang.

Pen­gi­r­i­man ini diduga difasil­i­tasi oleh oknum yang memi­li­ki hubun­gan lang­sung den­gan pemi­lik tam­bang. Semen­tara itu, aparat jus­tru lebih ser­ing melakukan razia ter­hadap peker­ja tam­bang kecil, menyi­ta per­ala­tan, dan mem­p­i­danakan oper­a­tor, tan­pa menyen­tuh dalang di balik operasi.

  Kebakaran Kembali Terjadi, Permukiman Warga Dilanda Duka Mendalam

Kema­t­ian tiga peker­ja di Doyok menam­bah pan­jang daf­tar kor­ban jiwa aki­bat aktiv­i­tas PETI di Kali­man­tan Barat. Namun, kasus-kasus seru­pa ser­ing kali berakhir hanya seba­gai angka dalam lapo­ran res­mi, tan­pa peruba­han sis­temik berar­ti.

Audit menyelu­ruh ter­hadap jalur per­modalan, dis­tribusi logis­tik, dan pihak yang ter­li­bat nyaris tidak per­nah dilakukan. Pub­lik meni­lai negara terke­san kalah di wilayah­nya sendiri, mem­biarkan tam­bang ile­gal berop­erasi seper­ti “negara dalam negara”.

Kemara­han pub­lik semakin memu­ncak sete­lah meli­hat keny­ataan bah­wa, mes­ki kor­ban telah dimakamkan, aktiv­i­tas tam­bang di Doyok dik­abarkan masih ber­jalan. Desakan muncul agar trage­di ini men­ja­di momen­tum untuk melakukan pem­ber­si­han total, yang men­cakup:

1. Menin­dak tegas pemi­lik tam­bang dan jaringan per­modalan­nya, ter­ma­suk mere­ka yang berper­an seba­gai “bos besar” di balik PETI.

2. Menut­up jalur dis­tribusi BBM ile­gal dari SPBU yang ter­buk­ti ter­li­bat.

3. Men­gusut keter­li­batan oknum aparat atau peja­bat yang diduga mem­bekin­gi operasi tam­bang.

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, pihak kepolisian maupun pemer­in­tah daer­ah belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait langkah penan­ganan kasus ini. Kon­disi ini menam­bah rasa frus­trasi di ten­gah masyarakat yang berharap adanya tin­dakan nya­ta.

  Hentikan Aksi Main Hakim Sendiri! LSM HAMMER Desak Aparat Tegas Lindungi Hukum dan Kemanusiaan

Kelu­ar­ga kor­ban kini masih dis­e­limu­ti duka men­dalam. Semen­tara itu, deru mesin ekska­va­tor di lokasi tam­bang terus ter­den­gar, seo­lah menan­dakan bah­wa nyawa manu­sia hanyalah “biaya opera­sion­al” dalam catatan bis­nis emas ile­gal.

Kasus Doyok mem­per­li­hatkan potret buram pene­gakan hukum di sek­tor per­tam­ban­gan ile­gal. Operasi tam­bang yang memakan kor­ban jiwa bukan­lah hal baru, namun sik­lus­nya terus beru­lang. Penin­dakan yang tidak menyen­tuh aktor intelek­tu­al mem­bu­at upaya pem­ber­an­tasan hanya sebatas for­mal­i­tas.

Kon­disi ini diper­parah oleh lemah­nya pen­gawasan dis­tribusi BBM. Solar sub­si­di yang seharus­nya dipe­run­tukkan bagi nelayan dan masyarakat, jus­tru bocor ke tam­bang ile­gal. Penu­tu­pan jalur dis­tribusi gelap men­ja­di langkah kru­sial jika pemer­in­tah serius menghen­tikan PETI.

Masyarakat meni­lai, jika pemer­in­tah tidak segera mengam­bil langkah tegas, trage­di seper­ti di Doyok hanya akan menung­gu wak­tu untuk teru­lang. Lubang tam­bang yang sama, ske­nario yang sama, dan kor­ban yang hanya bergan­ti nama.

“Kami sudah lelah meli­hat kor­ban ber­jatuhan. Jan­gan tung­gu ada kor­ban lagi baru bertin­dak,” ujar seo­rang tokoh masyarakat setem­pat.

Trage­di Doyok men­ja­di pengin­gat keras bah­wa pem­biaran ter­hadap tam­bang ile­gal bukan hanya merugikan negara secara ekono­mi, tetapi juga men­gor­bankan nyawa manu­sia. Per­tanyaan­nya kini: apakah negara siap melawan mafia tam­bang dan BBM ile­gal, atau akan terus mem­biarkan sik­lus kema­t­ian ini beru­lang. Lapo­ran (Sufiyawan/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *