Pringsewu, SniperNew.id — Di tengah gemerlap malam Kabupaten Pringsewu, Lampung sebuah warung makan sederhana namun penuh semangat berdiri kokoh di sisi Jalan Jendral Sudirman. Nama warung itu adalah “Warung Makan Setia Kawan Pringsewu”, milik seorang pria sederhana namun ulet bernama Pak Sungkono dengan nama pngilan akrabnya Sung-sung (42). Warung ini bukan hanya tempat makan, tetapi simbol ketahanan UMKM di tengah tantangan ekonomi, Rabu (06/08/25).
Berada di bawah naungan bangunan bekas showroom mobil bertuliskan “Tm. Motor — Jual Beli Mobil Second Berkualitas”, warung ini justru menunjukkan semangat berbagi ruang usaha dan kreativitas pelaku UMKM dalam memanfaatkan lahan strategis. Sebuah pemandangan kontras antara bisnis otomotif dan kuliner rakyat kecil yang justru berpadu harmonis.
Bermodalkan spanduk kuning terang bertuliskan “Warung Makan Setia Kawan Pringsewu”, warung ini mulai buka setiap hari dari pukul 17.00 WIB hingga sekitar pukul 01.00 dini hari, atau sampai habisnya stok makanan. Suasana sederhana, pencahayaan terang, dan bangku plastik khas warung malam menjadi ciri khas tempat ini.
“Buka jam lima sore, biasanya habis sekitar jam satu malam. Kalau ramai bisa lebih cepat habis,” ujar Pak Sungkono saat ditemui di lokasi.

Menu yang disajikan di Warung Setia Kawan sederhana namun menggoda: aneka lauk pauk rumahan, sayuran, sambal, serta pilihan minuman hangat dan dingin. Sajian khas rumahan ini menjadi magnet bagi warga lokal, sopir angkutan malam, hingga pekerja yang baru pulang dari aktivitas harian.
Pak Sungkono, atau akrab disapa Sung-sung, adalah potret pelaku UMKM yang memulai usaha dari nol. Dengan mengandalkan ketekunan, ia kini bisa menopang ekonomi keluarga dan menciptakan lapangan pekerjaan, meski dalam skala kecil.
“Kalau jualan kayak gini, yang penting jujur, konsisten, dan sabar. Pelanggan pasti datang sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Warungnya juga mempekerjakan dua orang pembantu tetap dan beberapa keluarga yang ikut membantu secara bergantian. Hal ini menunjukkan bahwa warung kecil seperti milik Sung-sung turut berperan dalam membuka peluang kerja lokal.
Seperti pelaku UMKM lainnya, Pak Sungkono menghadapi berbagai tantangan: dari fluktuasi harga bahan pokok, persaingan usaha kuliner, hingga perubahan kebiasaan konsumsi masyarakat. Namun ia tetap bertahan dengan prinsip “setia melayani kawan makan malam”.
“Kita sesuaikan harga dengan kantong masyarakat. Nggak usah mahal-mahal yang penting orang kenyang dan puas,” jelasnya.
Harga makanan di warung ini memang terjangkau. Dengan uang Rp10.000 hingga Rp15.000, pelanggan sudah bisa menikmati nasi dengan lauk lengkap dan minuman. Ini jadi alasan mengapa warung ini tetap ramai, meski dikelilingi oleh tempat makan modern dan kedai kekinian.
Simbol Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi Lokal; Keberadaan Warung Setia Kawan menjadi contoh nyata ketahanan ekonomi lokal yang bersumber dari sektor UMKM kuliner malam hari. Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, usaha kecil seperti ini memainkan peran vital sebagai penggerak ekonomi mikro.
Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM, sektor UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap PDB nasional. Dalam skala lokal, UMKM juga menciptakan jaringan distribusi barang dan jasa yang fleksibel serta cepat beradaptasi, seperti yang dilakukan Pak Sungkono.
Terletak di Jl. Jendral Sudirman, Pringsewu, lokasi warung ini memang strategis. Lalu lintas yang padat saat sore hingga malam membuat banyak orang mampir, baik sekadar makan, ngopi, maupun melepas penat. Warung ini juga kerap menjadi tempat persinggahan bagi para pengemudi antar kota maupun ojek daring.
Dari luar, bangunan warung memang sederhana, bahkan terlihat seperti bangunan darurat. Namun semangat yang membara di balik meja-meja plastik itu menjelma jadi kekuatan ekonomi yang tidak bisa dipandang remeh.
Lebih dari sekadar tempat makan, Warung Makan Setia Kawan menjadi titik temu berbagai kalangan. Dari anak muda, buruh pabrik, sopir, mahasiswa, hingga warga biasa—semuanya menyatu dalam meja-meja panjang di bawah lampu terang.
Spanduk besar berwarna kuning dengan tulisan merah dan hitam bertuliskan “Warung Makan Setia Kawan Pringsewu” menjadi penanda yang mencolok. Branding sederhana tapi kuat ini membuat warung ini mudah dikenali dan lekat di ingatan pelanggan.
Sebagai pelaku UMKM, Pak Sungkono berharap ada lebih banyak dukungan dari pemerintah daerah maupun lembaga terkait. “Kalau bisa, bantuan untuk UMKM seperti modal, alat, atau pelatihan. Biar bisa lebih berkembang,” ujarnya.
Harapan ini tentu menjadi catatan penting bagi semua pemangku kebijakan. Karena UMKM seperti Warung Setia Kawan bukan hanya tempat cari makan, tapi juga jantung kehidupan ekonomi mikro yang harus dijaga.
Penutup: UMKM Bukan Usaha Kecil, Tapi Usaha Kuat. (Abdul)



















