Berita Daerah

Buol dan Tolitoli Terancam Gempa Dahsyat, BMKG: Tinggal Menunggu Waktu

450
×

Buol dan Tolitoli Terancam Gempa Dahsyat, BMKG: Tinggal Menunggu Waktu

Sebarkan artikel ini

Sulawesi Tengah, SniperNew.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan adanya potensi gempa megathrust dahsyat yang bisa mengguncang wilayah utara Pulau Sulawesi, khususnya Kabupaten Buol dan Tolitoli, dua daerah yang dinilai paling berisiko terdampak langsung. Potensi gempa ini bahkan disebut dapat mencapai magnitudo 8,5 dan disertai tsunami setinggi 20 meter, Rabu (06/08/25).

Peringatan ini bukan isapan jempol. Zona megathrust Sulawesi Utara merupakan jalur subduksi aktif yang membentang dari Laut Sulawesi hingga Laut Maluku. Aktivitas tektonik di wilayah ini tergolong tinggi, dan saat ini kondisi di zona tersebut dinilai “sangat siap” untuk melepaskan energi besar yang telah lama terakumulasi.

“Tinggal Menunggu Waktu”

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa ancaman ini nyata dan sangat serius. Menurutnya, kondisi megathrust di wilayah tersebut ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan saja.“Kita tidak tahu kapan akan terjadi, tapi masyarakat harus siap mulai dari sekarang,” ujar Daryono dalam pernyataan resminya.

  Viral Pengungsi Banjir Aceh Sampaikan Terima Kasih Donasi

Ia menyampaikan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi dampak korban jiwa dan kerusakan apabila skenario terburuk benar-benar terjadi.

Dari hasil pemetaan risiko BMKG, dua kabupaten yang paling terancam adalah Buol dan Tolitoli di Provinsi Sulawesi Tengah. Kedua wilayah ini berada tepat di depan zona subduksi megathrust dan berpotensi menjadi lokasi terdampak utama.

Kabupaten Buol dan Tolitoli memiliki garis pantai yang cukup panjang dan langsung menghadap Laut Sulawesi, menjadikannya sangat rentan terhadap dampak tsunami. Dengan ketinggian tsunami yang diprediksi bisa mencapai 20 meter, potensi kerusakan bisa sangat masif jika tidak ada langkah mitigasi yang segera diambil.

Abdullah, pengamat kebencanaan di Sulawesi Tengah, mengingatkan bahwa potensi megathrust ini bukan sekadar skenario di atas kertas. Menurutnya, sejarah mencatat bahwa wilayah Indonesia sudah beberapa kali diguncang gempa besar akibat megathrust, seperti yang terjadi di Aceh (2004), Mentawai (2010), dan Palu (2018).

  Al-Hidayah Pesawaran Tebar 102 Paket Santunan, Bupati Ajak Perkuat Kepedulian di Bulan Suci

“Ancaman ini nyata dan riil. Harus ada program pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan segera,” tegas Abdullah.

Ia juga menyoroti minimnya jalur evakuasi, kurangnya edukasi masyarakat, serta lemahnya sistem peringatan dini di daerah-daerah terpencil seperti Buol dan Tolitoli.

Skenario Terburuk: Gempa Magnitudo 8,5 dan Tsunami 20 Meter

Dalam skenario terburuk yang dipaparkan BMKG, jika zona megathrust ini benar-benar melepaskan energinya, gempa berkekuatan M 8,5 dapat memicu tsunami dengan ketinggian mencapai 20 meter. Gelombang ini diperkirakan akan sampai ke daratan hanya dalam hitungan menit setelah gempa terjadi.

Kondisi geografis Buol dan Tolitoli yang berbukit dan memiliki banyak pemukiman di kawasan pesisir membuat waktu respons menjadi sangat krusial. Tanpa sistem peringatan dini dan jalur evakuasi yang jelas, potensi korban jiwa bisa sangat besar.

BMKG dan para ahli kebencanaan menyerukan agar pemerintah daerah, instansi terkait, dan seluruh lapisan masyarakat segera mengambil langkah nyata dalam menghadapi potensi bencana ini.

Beberapa langkah prioritas yang direkomendasikan antara lain:

1. Pembangunan Jalur Evakuasi dan Tempat Aman
Infrastruktur evakuasi harus dibangun dan dipetakan dengan jelas agar masyarakat tahu ke mana harus menyelamatkan diri.

  Takut Sunat di Usia 15 Tahun, Remaja Bekasi Akhirnya Dijemput Mobil Damkar

2. Edukasi dan Simulasi Rutin
Warga harus dibekali pengetahuan tentang tanda-tanda gempa dan tsunami, serta cara bertindak cepat saat bencana terjadi.

3. Pemasangan Sistem Peringatan Dini
Teknologi deteksi gempa dan tsunami perlu diperbanyak dan dioptimalkan di wilayah-wilayah rawan.

4. Penataan Pemukiman Pesisir
Peninjauan kembali izin pembangunan di kawasan pesisir harus dilakukan untuk meminimalisasi risiko.

Meski ancaman yang dipaparkan terdengar mengerikan, para ahli mengingatkan bahwa ketakutan bukan solusi. Sebaliknya, kesiapsiagaan dan edukasi adalah kunci utama untuk menghadapi bencana secara cerdas.

Daryono menekankan bahwa Indonesia berada di “ring of fire” dan tak bisa lepas dari ancaman gempa serta tsunami. Namun, pengalaman dan teknologi harus bisa dijadikan senjata untuk meminimalisasi risiko.

“Bencana tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa dikurangi,” ujarnya.

Dengan segala potensi bencana yang mengintai, Buol dan Tolitoli harus segera berbenah. Kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Masyarakat harus sadar bahwa bencana bisa datang kapan saja, dan yang bisa menyelamatkan nyawa adalah persiapan yang matang sejak sekarang. (Rilis/Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *