Berita Daerah

17+8 Tuntutan Rakyat: Suara Aktivis dan Influencer Mengetuk DPR untuk Indonesia Berbenah

348
×

17+8 Tuntutan Rakyat: Suara Aktivis dan Influencer Mengetuk DPR untuk Indonesia Berbenah

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Suasana berbe­da ter­li­hat di depan Gedung DPR RI keti­ka sejum­lah aktivis bersama influ­encer datang mem­bawa map berwar­na cer­ah den­gan tulisan “17+8 Tun­tu­tan Raky­at”. Aksi itu bukan sekadar sim­bo­lis, melainkan peny­er­a­han doku­men berisi 17 tun­tu­tan jang­ka pen­dek dan 8 tun­tu­tan jang­ka pan­jang dari raky­at Indone­sia kepa­da lem­ba­ga leg­is­latif.

Langkah ini men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik sete­lah akun media sosial Folk Hype (@folk.hype) men­gung­gah doku­men­tasi beru­pa video dan keteran­gan res­mi. Dalam ung­ga­han terse­but ter­tulis.

“Para aktivis hing­ga influ­encer meny­er­ahkan tun­tu­tan raky­at ‘17+8’ atau 17 tun­tu­tan jang­ka pen­dek dan 8 tun­tu­tan jang­ka pan­jang ke DPR RI. Peny­er­a­han dilakukan oleh per­wak­i­lan Kolek­tif 17+8 Indone­sia Berbe­nah dan lang­sung diter­i­ma oleh Wak­il Ket­ua Komisi VI DPR RI Frak­si Par­tai Gerindra Andre Rosi­ade dan anggota Komisi VI DPR RI Frak­si PDIP Rieke Diah Pitalo­ka. Tun­tu­tan sudah dis­er­ahkan, semoga pemer­in­tah Indone­sia khusus­nya DPR RI cepat berbe­nah.”

Dalam aksi ini, yang ter­li­bat adalah para aktivis muda, influ­encer, dan komu­ni­tas yang mena­makan diri Kolek­tif 17+8 Indone­sia Berbe­nah. Mere­ka meny­er­ahkan doku­men kepa­da dua anggota DPR RI, yakni Andre Rosi­ade (Wak­il Ket­ua Komisi VI DPR RI dari Frak­si Par­tai Gerindra) dan Rieke Diah Pitalo­ka (anggota Komisi VI DPR RI dari Frak­si PDIP).

  Jalan Merah di Pedalaman, Warga Harap Pembangunan Segera Terealisasi

Di antara mere­ka yang hadir, ter­li­hat anak-anak muda mem­bawa poster berwar­na pink bertuliskan “17+8 Tun­tu­tan Raky­at” ser­ta lem­bar ker­tas biru berisi naskah tun­tu­tan. Momen­tum ini juga dia­badikan dalam ben­tuk foto dan video yang viral di media sosial.

Peri­s­ti­wa ini adalah peny­er­a­han res­mi doku­men 17+8 tun­tu­tan raky­at, ter­diri dari 17 tun­tu­tan jang­ka pen­dek dan 8 tun­tu­tan jang­ka pan­jang. Mes­ki isi detail tun­tu­tan tidak dijabarkan penuh dalam ung­ga­han, tetapi dari komen­tar pub­lik dap­at ditangkap bah­wa salah satu poin menyangkut huku­man mati untuk korup­tor.

Ung­ga­han video itu menampilkan suasana serius: para aktivis berdiri di depan pagar den­gan ekspre­si tegas, meny­er­ahkan doku­men lang­sung kepa­da per­wak­i­lan DPR. Momen ini men­ja­di sim­bol bah­wa suara raky­at bisa dis­alurkan melalui jalur for­mal, mes­ki den­gan cara seder­hana di luar gedung par­lemen.

Ung­ga­han dari akun Folk Hype menye­but peri­s­ti­wa itu berlang­sung beber­a­pa jam sebelum dipub­likasikan. Dalam keteran­gan ter­tulis, ung­ga­han dibu­at 59 menit sebelum tangka­pan layar, sehing­ga dap­at dipastikan bah­wa aksi ini masih san­gat segar dan baru ter­ja­di di hari yang sama.

Lokasi kegiatan adalah Kom­pleks DPR RI, Jakar­ta. Namun berdasarkan komen­tar war­ganet, peny­er­a­han dilakukan bukan di dalam ruang sidang atau gedung uta­ma, melainkan di luar pagar DPR RI, tepat di ping­gir jalan depan gedung. Hal ini sem­pat menim­bulkan kri­tik dari neti­zen, yang meni­lai acara ser­e­mo­ni­al semestinya dilakukan di ruang res­mi agar lebih bermarta­bat.

Peny­er­a­han tun­tu­tan ini dilakukan seba­gai bagian dari ger­akan Indone­sia Berbe­nah. Para aktivis dan influ­encer ingin menyuarakan kere­sa­han masyarakat terkait berba­gai masalah bangsa yang mende­sak untuk diper­bai­ki.

  Bantuan Aceh Tamiang Belum Merata

Tagline “17+8” dip­il­ih seba­gai sim­bol 17 tun­tu­tan jang­ka pen­dek yang diang­gap mende­sak ser­ta 8 tun­tu­tan jang­ka pan­jang yang bersi­fat strate­gis demi masa depan. Hara­pan­nya, pemer­in­tah khusus­nya DPR RI dap­at menin­dak­lan­ju­ti tun­tu­tan ini den­gan kebi­jakan nya­ta.

Dalam ung­ga­han ter­tulis, akun Folk Hype menyam­paikan doa. “Semoga pemer­in­tah Indone­sia khusus­nya DPR RI cepat berbe­nah.”

Pros­es peny­er­a­han dilakukan den­gan cara seder­hana: per­wak­i­lan Kolek­tif 17+8 berdiri di luar pagar DPR RI sam­bil mem­bawa poster, lalu meny­er­ahkan doku­men kepa­da anggota DPR. Video mem­per­li­hatkan mere­ka memegang ker­tas berwar­na cer­ah seba­gai sim­bolisasi.

Peny­er­a­han ini lang­sung diter­i­ma oleh Andre Rosi­ade dan Rieke Diah Pitalo­ka, yang tam­pak hadir di lokasi. Momen ini kemu­di­an didoku­men­tasikan, dibagikan ke media sosial, dan segera men­u­ai tang­ga­pan war­ganet.

Respons war­ganet ter­hadap ung­ga­han ini beragam, seper­ti yang terekam pada kolom komen­tar akun Threads Folk Hype. Berikut beber­a­pa komen­tar neti­zen:

“Gen­erasi bangsa terus maju” – tulis akun @wisnulaiya, mem­berikan apre­si­asi posi­tif kepa­da anak muda yang berani menyuarakan aspi­rasi raky­at.

“Inimah pese­nan zizeh arhan wgwg­wg, nga­pain dah influ­enseer” – komen­tar akun @muhammadfidaa, berna­da sinis dan mem­per­tanyakan per­an influ­encer dalam aksi terse­but.

Kena­pa tidak di dlm gedung, knp hrs dip­ing­gir jln, Semoga tidak dilen­cengkan berkas tun­tu­tan 17+8,” – ungkap akun @nayyzm, menyuarakan kekhawati­ran soal for­mal­i­tas peny­er­a­han yang tidak dilakukan di ruang res­mi DPR.

Ada huku­man mati untuk korup­tor??” – tanya akun @aan.to2r, meny­oroti salah satu isi tun­tu­tan yang diang­gap kru­sial dan kon­tro­ver­sial.

Berba­gai komen­tar ini menggam­barkan bagaimana pub­lik menaruh per­ha­t­ian besar, baik dalam ben­tuk dukun­gan, kri­tik, maupun per­tanyaan kri­tis ter­hadap isi tun­tu­tan terse­but.

  Bikin Melongo! Pengamen Pakai QRIS, Recehan Jadi Nggak Relevan Lagi?

Ger­akan 17+8 Tun­tu­tan Raky­at lahir dari kere­sa­han masyarakat yang ingin meli­hat Indone­sia berbe­nah. Walau detail 25 poin tun­tu­tan tidak selu­ruh­nya ter­bu­ka dalam ung­ga­han, seman­gat yang dibawa cukup jelas: raky­at menghen­da­ki peruba­han nya­ta.

 

Beber­a­pa isu yang disinyalir masuk dalam tun­tu­tan antara lain:

1. Pene­gakan hukum yang lebih tegas, khusus­nya ter­hadap korup­si.

2. Refor­masi ekono­mi agar lebih berpi­hak kepa­da raky­at kecil.

3. Transparan­si dalam kebi­jakan pub­lik.

4. Pen­ingkatan kual­i­tas pen­didikan dan kese­hatan.

5. Per­lin­dun­gan lingkun­gan dan keber­lan­ju­tan.

 

Fenom­e­na ini menun­jukkan dua hal pent­ing:

1. Per­an anak muda dan influ­encer – Kehadi­ran influ­encer dalam ger­akan sosial-poli­tik kini men­ja­di tren. Mere­ka mam­pu men­gangkat isu serius ke ranah pub­lik yang lebih luas kare­na pen­garuh di media sosial.

2. Kri­tik ter­hadap prose­dur for­mal – Seba­gian war­ganet meny­oroti bah­wa peny­er­a­han doku­men sebaiknya dilakukan dalam forum res­mi DPR, bukan di luar pagar. Kri­tik ini valid, kare­na menyangkut legit­i­masi for­mal doku­men terse­but.

Namun, langkah ini tetap pun­ya mak­na sim­bo­lik: suara raky­at dis­am­paikan lang­sung, tan­pa ter­ha­lang birokrasi.

Peny­er­a­han 17+8 Tun­tu­tan Raky­at oleh aktivis dan influ­encer ke DPR RI men­ja­di momen­tum pent­ing dalam per­jalanan demokrasi Indone­sia. Walau masih men­u­ai pro-kon­tra, aksi ini mene­gaskan bah­wa masyarakat, khusus­nya gen­erasi muda, tidak ting­gal diam ter­hadap per­masala­han bangsa.

Hara­pan pub­lik kini ter­tu­ju pada bagaimana DPR RI menin­dak­lan­ju­ti doku­men terse­but. Jika benar-benar diba­has dan diim­ple­men­tasikan, tun­tu­tan ini bisa men­ja­di jalan bagi Indone­sia untuk benar-benar berbe­nah.

Seba­gaimana doa yang dis­am­paikan dalam ung­ga­han akun Folk Hype.  “Tun­tu­tan sudah dis­er­ahkan, semoga pemer­in­tah Indone­sia khusus­nya DPR RI cepat berbe­nah.” (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *