Jakarta, SniperNew.id – Siapa sangka, kini ngamen pun sudah masuk era digital. Seorang pengamen mendadak viral di media sosial setelah aksinya menerima pembayaran lewat QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) terekam kamera warga dan beredar luas di TikTok. Warganet pun heboh, menyebut tak ada lagi alasan menolak memberi uang dengan dalih “nggak punya receh”.
Video berdurasi kurang dari satu menit itu menunjukkan seorang pengamen jalanan menyanyikan lagu di depan warung makan. Setelah selesai menyanyi, alih-alih mengulurkan kaleng atau topi seperti biasanya, sang pengamen malah mengeluarkan papan kecil bertuliskan “Terima QRIS semua e-wallet”. QR code terpampang jelas, siap discan siapa pun yang ingin memberi.
Tak butuh waktu lama, momen tersebut langsung menyedot perhatian netizen. “Zaman udah canggih, pengamennya update banget. Salut sih,” komentar salah satu pengguna TikTok. Video tersebut kini telah ditonton lebih dari 2 juta kali dan dibanjiri ribuan komentar.
Sosok pengamen kreatif ini diketahui bernama Dedi (27), pria asal Bekasi yang mengamen sejak 2020. Dalam wawancara singkat dengan Liputan6.com, Dedi mengaku mulai menggunakan QRIS sejak awal 2024 setelah sering ditolak karena alasan “nggak ada uang cash”.
“Ada aja yang bilang, ‘duh sorry ya mas, nggak ada recehan.’ Nah, saya pikir kenapa nggak nyoba QRIS aja? Semua orang sekarang kan pegang e-wallet,” ujar Dedi sambil tertawa.
Video pertama kali direkam di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Menurut perekam video, Dedi memang sering mengamen di sana, dan QRIS sudah ia bawa sejak beberapa bulan terakhir.
Video tersebut diunggah pada pertengahan Juni 2025 dan langsung menarik perhatian warganet karena dinilai unik, out of the box, dan mencerminkan gaya hidup masyarakat yang semakin cashless. Dalam waktu singkat, banyak akun media sosial dan portal berita yang ikut mengangkat kisah Dedi.
Fenomena ini menyoroti dua hal penting: pertama, betapa digitalisasi kini menjangkau lapisan masyarakat paling bawah; kedua, kreativitas dalam bertahan hidup di era serba digital. Dari tukang parkir hingga pedagang keliling, kini mulai mengikuti jejak serupa dengan memasang QRIS di dagangan mereka.
“Buat saya, QRIS ini bantu banget. Lebih higienis, aman, dan kadang dapet lebih banyak juga karena orang jadi nggak sungkan nyumbang. Ada yang scan Rp5.000, Rp10.000, pernah juga Rp50.000!” ujar Dedi.
Reaksi netizen pun beragam, sebagian besar positif dan salut dengan adaptasi pengamen ini terhadap zaman. Tak sedikit pula yang menyebut, “Sekarang nggak ada alasan lagi buat nolak ngasih cuma karena dompet kosong.”
Pemerintah melalui Bank Indonesia sendiri sudah mendorong penggunaan QRIS di semua lini usaha, termasuk UMKM dan sektor informal. Dan tampaknya, pengamen pun tak mau ketinggalan.
Langkah Dedi membuktikan bahwa siapa pun bisa beradaptasi dengan teknologi, bahkan dari pinggir jalan sekalipun. Dunia memang berubah, dan kadang, yang paling cepat menyesuaikan bukan mereka yang punya modal besar – tapi yang punya ide cemerlang.
(Red)












