Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Warga Lampung Barat Resah, Harimau Teror Kawasan TNBS

439
×

Warga Lampung Barat Resah, Harimau Teror Kawasan TNBS

Sebarkan artikel ini

Lam­pung Barat, SniperNew.id - Kekhawati­ran dan kege­lisa­han melan­da war­ga sek­i­tar kawasan Taman Nasion­al Buk­it Barisan Sela­tan (TNBS) di Lam­pung Barat. Pasal­nya, sejum­lah war­ga mela­porkan adanya penam­pakan hari­mau liar yang diduga mulai mema­su­ki kebun dan lahan war­ga. Keja­di­an ini memu­nculkan kekhawati­ran akan kese­la­matan, teruta­ma bagi para petani yang sehari-hari men­cari nafkah di kawasan sek­i­tar hutan lin­dung.

Dalam ung­ga­han Face­book oleh akun berna­ma Udo Fatien Foures, ter­li­hat jelas sebuah span­duk peringatan bergam­bar hari­mau den­gan tulisan besar bertuliskan:

“WASPADA!!!
Jan­gan Mema­su­ki Kawasan TNBBS!
Jan­gan Berak­tiv­i­tas di Kebun Per­batasan Pada:

Jam Rawat Sore

Hing­ga Pagi Hari

Jan­gan Beru­ru­san Tan­pa Mas­sa

Uta­makan Sela­mat

Infor­masikan Situ­asi”

Span­duk ini tam­pak dipasang di area hutan den­gan pen­gawasan Dewan Pen­gu­rus Per­sat­u­an Petani Lam­pung Barat. Imbauan keras ini ditu­jukan kepa­da masyarakat agar tidak mema­su­ki wilayah TNBS demi kese­la­matan jiwa.

Ung­ga­han ini men­u­ai respons besar dari neti­zen, khusus­nya masyarakat sek­i­tar yang juga merasakan kere­sa­han aki­bat kon­flik antara manu­sia dan sat­wa liar yang kian meningkat. Berikut ini beber­a­pa komen­tar dari war­ga yang meny­oroti berba­gai sisi per­masala­han terse­but:

  Akses Jalan Rusak, Warga Maninjau Terpaksa Gunakan Jalur Danau untuk Kebutuhan Harian

Bang Bondil menyuarakan kri­tik ter­hadap pemer­in­tah:
“Ter­lalu pin­tar pemer­in­tah ngomong gak akan menang lawan otak pin­tar, tapi kalau dia­jak ngoret kebun ngos-ngosan dia. Mak­sud­nya sebelum mem­bu­at atu­ran, rasakan apa yang dirasakan raky­at petani di sana. Mau gak dia nge­jamin atau mem­beri lahan pada raky­at yang memang mem­bu­tuhkan.”

Edy S Edy S mem­berikan saran tek­nis dalam kon­disi daru­rat:
“Tapi ingat keti­ka nem­bak diusa­hakan dari dada ke atas mak­sud­nya kalau nggak dada, kepala nya.”

Sution Sutra Hadi menekankan bah­wa nyawa manu­sia lebih pent­ing:
“Pas tuh mahal har­ga hari­mau diband­ing nyawa manu­sia.”

Rues­lie meny­oroti tek­nis foto:
“Apa cuma aku yang susah mem­ba­ca yang tulisan ter­ba­lik kare­na kam­era depan?”

Nizam Farhan men­yarankan solusi fisik:
“Bagaimana kalau di batas TNBS-nya dipa­gar besi pem­bat­as, biar manu­sia tidak bisa masuk, hari­mau pun tak bisa kelu­ar.”

Irfan mengkri­tik peja­bat daer­ah:
“Bupatinya gak cer­das… tidak bisa mem­per­juangkan raky­at­nya.”

Dul menyam­paikan kon­disi war­ga yang trau­ma. “Itu ben­er bikin yang lewat mau ke Suoh atau dari Suoh trau­ma dan ketaku­tan.”

  KWRI Pringsewu Jadwalkan Muscab, Jamhari (Ajo) Disiapkan Pimpin DPC

Any Hafizah menun­tut kead­i­lan:
“Coba BKN hanya him­bauan ini jan­gan itu, tapi dipikirkan juga, di situ banyak saudara kita yang sedang men­cari uang untuk kebu­tuhan hidup kelu­ar­ganya. Jan­gan hanya mem­beri per­at­u­ran tan­pa ada rasa kead­i­lan.”

Toni Tama menam­bahkan sen­ti­lan tajam. “Lah emang sela­ma ini mere­ka bertang­gung jawab?”

Mas Sobar menuliskan:
“Mulai awal sam­pai sekarang gak ada yang bertang­gung jawab.”

Naryaat­ma­ja Weh:
“Gimana mau tang­gung jawab, dia sendiri yang melepas kan HS nya.”

Ali Con­tent meny­im­pulkan:
“Kemu­nduran.”

Eko Akang mel­on­tarkan sindi­ran tajam:
“Itu yang nyu­ruh jadikan hutan tem­pat tinggal­nya juga jadi hutan kem­bali… Biar adil dulu, semuanya jadi hutan semua.”

Dewi Aryani:
“Kalau bisa yang ngelepasin dikasih ke hari­mau.”

Putra Juar­is­tan meny­atakan kepri­hati­nan­nya:
“Hewan dilin­dun­gi, manu­sia gak dilin­dun­gi. Hadeh, ngeri. Indone­sia semakin kacau.”

Suman Tri mem­balas bah­wa komen­tar itu adalah sta­tus neti­zen.

Anda SA Anda SA:
“Yang dilin­dun­gi negara sekarang korup­tor sama binatang buas. Kalau petani, masa bodo katanya.”

 

Satri Ani den­gan kali­mat lugas dan doa menyen­tuh. “Kalau memang benar pajak mintak­lah sama hari­mau, pemer­in­tah sama dik­tu. Semoga war­ga petani dilin­dun­gi Allah SWT. Aami­in ya Rabb.”

Dari ung­ga­han dan komen­tar-komen­tar terse­but, tam­pak jelas bah­wa kon­flik antara manu­sia dan sat­wa liar di Lam­pung Barat, khusus­nya hari­mau yang masuk ke pemuki­man atau lahan per­tan­ian, men­ja­di per­masala­han serius yang belum terse­le­saikan secara adil dan efek­tif.

  Data Pendidikan Wakil Wali Kota Tebing Tinggi Disorot, Kelulusan S1 Tak Muncul di PDDikti

Seba­gian masyarakat merasa bah­wa kebi­jakan pemer­in­tah cen­derung hanya melin­dun­gi sat­wa tan­pa mem­per­tim­bangkan kese­la­matan dan kebu­tuhan hidup war­ga, teruta­ma para petani yang meng­gan­tungkan hidup dari lahan di sek­i­tar kawasan TNBS. Mere­ka menginginkan solusi yang adil, konkret, dan tidak hanya beru­pa larangan atau imbauan sema­ta.

Isu ini mene­gaskan per­lun­ya koor­di­nasi antara pemer­in­tah daer­ah, pen­gelo­la TNBS, ser­ta komu­ni­tas petani dan masyarakat lokal untuk meru­muskan kebi­jakan yang mengede­pankan per­lin­dun­gan manu­sia sekali­gus kon­ser­vasi sat­wa. Kese­im­ban­gan antara hak hidup manu­sia dan pelestar­i­an lingkun­gan men­ja­di hal yang tak bisa ditawar dalam penan­ganan kon­flik semacam ini.

 

Catatan Redak­si:
Kon­flik manu­sia dan sat­wa liar seper­ti ini bukan hanya ter­ja­di di Lam­pung Barat. Di banyak wilayah hutan Indone­sia, kasus seru­pa beru­lang den­gan narasi yang sama keter­batasan ruang hidup sat­wa kare­na pem­bukaan lahan, hing­ga tekanan ekono­mi masyarakat lokal. Diper­lukan langkah sis­temik dan kolab­o­ratif agar kon­flik ini tidak beru­jung pada kehi­lan­gan nyawa, baik manu­sia maupun hewan yang dilin­dun­gi.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *