Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Viral

Wapres Razia Tas Siswa SMP, Ramai Jadi Perbincangan Publik

392
×

Wapres Razia Tas Siswa SMP, Ramai Jadi Perbincangan Publik

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Sebuah ung­ga­han di media sosial ramai diperbin­cangkan pub­lik sete­lah menampilkan kegiatan Wak­il Pres­i­den (Wapres) Repub­lik Indone­sia yang melakukan razia tas ter­hadap siswa seko­lah menen­gah per­ta­ma (SMP).

Aksi terse­but menim­bulkan pro dan kon­tra, teruta­ma terkait eti­ka dan tata cara pemerik­saan barang milik siswa yang diang­gap menyangkut hak asasi anak, Kamis (25/09).

Dalam ung­ga­han akun media sosial, ter­li­hat Wapres melakukan pemerik­saan tas milik siswa SMP di dalam ruang kelas. Kegiatan terse­but diduga bertu­juan untuk memas­tikan tidak ada barang-barang yang melang­gar atu­ran seko­lah maupun hukum yang dibawa oleh para siswa.

Namun, aksi itu men­u­ai kri­tik tajam dari seba­gian war­ganet. Mere­ka meni­lai cara razia terse­but tidak tepat dilakukan oleh peja­bat seke­las Wapres. Beber­a­pa pihak juga meni­lai bah­wa kegiatan itu berpoten­si melang­gar hak siswa seba­gai pemi­lik barang prib­a­di, jika tidak dilakukan sesuai prose­dur yang berlaku di lingkun­gan pen­didikan.

Fig­ur uta­ma dalam peri­s­ti­wa ini adalah Wak­il Pres­i­den Repub­lik Indone­sia (RI‑2) yang melakukan pemerik­saan lang­sung ter­hadap tas siswa SMP. Selain itu, pihak seko­lah juga turut ter­li­bat kare­na kegiatan dilakukan di dalam kelas.
Di sisi lain, guru, wali kelas, hing­ga kepala seko­lah dise­but seharus­nya men­ja­di pihak yang lebih berwe­nang dalam melakukan pemerik­saan, bukan peja­bat negara, kecuali dalam kon­teks khusus dan den­gan per­se­tu­juan pihak seko­lah ser­ta orang tua siswa.

  Kritik Publik Soal Program Makan Gratis, Pejabat Dinilai Minim Informasi dan Koordinasi

Ung­ga­han yang mem­per­li­hatkan razia tas oleh Wapres ini diung­gah ke media sosial pada Selasa (tang­gal tidak dise­butkan secara jelas dalam ung­ga­han). Video terse­but kemu­di­an viral, terse­bar di berba­gai plat­form, dan men­ja­di bahan diskusi pub­lik dalam hitun­gan jam sete­lah diung­gah.

Peri­s­ti­wa razia tas berlang­sung di salah satu seko­lah menen­gah per­ta­ma (SMP). Lokasi per­sis seko­lah terse­but tidak dise­butkan secara detail dalam ung­ga­han. Namun, dari tayan­gan video ter­li­hat suasana ruang kelas lengkap den­gan papan tulis, meja, kur­si, ser­ta siswa yang sedang mengiku­ti pela­jaran.

Razia tas siswa oleh Wapres men­ja­di kon­tro­ver­si kare­na menyangkut beber­a­pa aspek pent­ing: Menu­rut atu­ran umum di seko­lah, jika dilakukan razia barang bawaan siswa, maka pihak yang berwe­nang adalah guru, wali kelas, atau guru bimbin­gan kon­sel­ing (BK). Razia pun biasanya harus dilakukan den­gan per­se­tu­juan kepala seko­lah ser­ta dis­ak­sikan pihak terkait agar tidak menim­bulkan kesalah­pa­haman.

Banyak pihak meni­lai bah­wa razia yang dilakukan sem­barangan dap­at diang­gap melang­gar hak anak, teruta­ma terkait pri­vasi. Kri­tik yang muncul di media sosial menye­but bah­wa ada cara yang lebih ele­gan, seper­ti mem­inta siswa menaruh tas di depan kelas lalu dilakukan pemerik­saan secara acak agar tidak mem­permalukan anak.

  Misteri Gangguan Makhluk Halus di Bangunan Kerajaan Putrajaya

Wapres seba­gai peja­bat ting­gi negara dini­lai memi­li­ki tugas kene­garaan yang jauh lebih strate­gis. Oleh kare­na itu, seba­gian war­ganet meni­lai bah­wa razia tas siswa SMP bukan­lah kewe­nan­gan yang sep­a­tut­nya dijalankan oleh peja­bat set­ing­gi itu.

Banyak komen­tar di media sosial yang menye­but aksi Wapres ini seba­gai hal yang tidak tepat. Seba­gian meni­lai tin­dakan terse­but “memalukan” kare­na diang­gap meren­dahkan jabatan negara. Ada pula yang meni­lai aksi itu jus­tru menun­jukkan keti­dak­pa­haman peja­bat men­ge­nai prose­dur pen­didikan.

Dalam ung­ga­han yang ramai dibicarakan, dise­butkan ada cara yang lebih baik untuk melakukan razia. Mis­al­nya, mem­inta siswa menaruh tas di depan kelas, kemu­di­an pemerik­saan dilakukan secara acak agar tidak meny­ing­gung pri­vasi dan marta­bat anak didik.

Kekhawati­ran Akan Pelang­garan HAM
Beber­a­pa pihak meni­lai pemerik­saan lang­sung tan­pa prose­dur jelas bisa diang­gap melang­gar hak anak seba­gai pemi­lik barang prib­a­di. Oleh kare­na itu, pub­lik meni­lai pent­ing adanya reg­u­lasi yang jelas ten­tang tata cara pemerik­saan di seko­lah agar tidak dis­alah­gu­nakan.

Dalam dunia pen­didikan, razia tas siswa memang ser­ing dilakukan untuk mence­gah anak mem­bawa barang-barang yang dila­rang, seper­ti rokok, sen­ja­ta tajam, maupun barang berba­haya lain­nya. Namun, tata cara pemerik­saan seharus­nya dilakukan den­gan mem­per­hatikan aspek ped­a­gogis, hak anak, ser­ta eti­ka.

Guru, wali kelas, hing­ga BK biasanya sudah men­da­p­at ara­han bagaimana melakukan pemerik­saan yang tidak mem­permalukan siswa. Prin­sip dasar yang dijun­jung adalah men­didik den­gan cara yang meng­hor­mati marta­bat anak.

Keter­li­batan peja­bat negara dalam kegiatan semacam ini men­ja­di per­soalan baru. Jika tidak diko­mu­nikasikan den­gan baik, hal ini jus­tru berpoten­si menim­bulkan kon­tro­ver­si kare­na diang­gap kelu­ar dari kewe­nan­gan.

Fenom­e­na ini menun­jukkan bah­wa peng­gu­naan media sosial mem­bu­at segala aktiv­i­tas peja­bat pub­lik mudah dis­orot. Hal-hal yang mungkin dimak­sud­kan seba­gai ben­tuk kepedu­lian ter­hadap pen­didikan jus­tru bisa ditafsirkan berbe­da oleh masyarakat luas.

  Tanggul Cikarang Jebol, Warga Panik di Tengah Malam!

Seba­gian pihak mungkin men­gang­gap tin­dakan Wapres seba­gai upaya sim­bo­lis untuk menun­jukkan per­ha­t­ian ter­hadap dunia pen­didikan dan kedisi­plinan anak. Namun, tan­pa tata cara yang tepat, tin­dakan itu bisa diang­gap melang­gar batas.

Dalam kon­teks pen­didikan mod­ern, pen­dekatan yang lebih huma­n­is, par­tisi­patif, dan meng­hor­mati hak anak san­gat ditekankan. Hal ini sejalan den­gan Undang-Undang Per­lin­dun­gan Anak ser­ta prin­sip pen­didikan karak­ter yang digaungkan pemer­in­tah.

Kasus razia tas siswa SMP oleh Wapres RI yang viral di media sosial menim­bulkan diskusi pub­lik yang luas. Pro kon­tra yang muncul meny­oroti aspek eti­ka, kewe­nan­gan, ser­ta peng­hor­matan ter­hadap hak anak.

Peri­s­ti­wa ini men­ja­di pela­jaran pent­ing bagi dunia pen­didikan dan peja­bat pub­lik bah­wa segala tin­dakan harus dilakukan den­gan mem­per­tim­bangkan prose­dur, atu­ran, ser­ta dampaknya ter­hadap anak didik.

Masyarakat berharap ke depan, seti­ap kegiatan razia di seko­lah dilakukan den­gan cara yang lebih ele­gan, meng­hor­mati pri­vasi siswa, dan sesuai atu­ran yang berlaku. Den­gan demikian, tujuan uta­ma men­ja­ga kedisi­plinan tetap ter­ca­pai tan­pa melang­gar marta­bat anak. (Ahm/ahh).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *