Berita Viral

Viral, Wakil Ketua DPRD Pasangkayu Tersendat Bacakan Teks UUD 1945 saat Upacara Hari Kesaktian Pancasila

880
×

Viral, Wakil Ketua DPRD Pasangkayu Tersendat Bacakan Teks UUD 1945 saat Upacara Hari Kesaktian Pancasila

Sebarkan artikel ini

Pasangkayu, SniperNew.id — Sebuah video yang menampilkan seo­rang peja­bat pub­lik men­gala­mi kesuli­tan saat mem­ba­cakan Teks Pem­bukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dalam upacara Hari Kesak­t­ian Pan­casi­la di Kabu­pat­en Pasangkayu, Sulawe­si Barat, men­ja­di viral di media sosial dan menim­bulkan beragam reak­si dari masyarakat.

Video terse­but per­ta­ma kali diung­gah oleh akun media sosial @info_lintassumbar di plat­form Threads pada Rabu (1/10/2025). Dalam ung­ga­han­nya, akun itu menulis cap­tion berna­da her­an:

“KOK BISA LOLOS MODEL BEGINIAN…?
Viral di media sosial, Wak­il Ket­ua DPRD Pasangkayu, Sulawe­si Barat, tam­pak kesuli­tan saat mem­ba­cakan Teks Pem­bukaan UUD 1945 dalam upacara Hari Kesak­t­ian Pan­casi­la di tingkat kabu­pat­en, Rabu (1/10/2025). Dalam video yang beredar, peja­bat terse­but ter­li­hat beru­lang kali ter­ba­ta-bata saat mem­ba­ca teks di podi­um, mes­ki didampin­gi sejum­lah peja­bat lain.”

Ung­ga­han terse­but kemu­di­an ramai dis­orot war­ganet kare­na menampilkan reka­man seo­rang pria ber­jas hitam den­gan peci hitam berdiri di depan mikro­fon di bawah ten­da mer­ah putih. Di belakangnya tam­pak beber­a­pa peja­bat dan pegawai pemer­in­ta­han, seba­gian di antaranya perem­puan yang men­ge­nakan paka­ian for­mal berwar­na pas­tel.

Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, ter­li­hat peja­bat yang dise­but seba­gai Wak­il Ket­ua DPRD Pasangkayu tam­pak gugup dan beber­a­pa kali berhen­ti seje­nak saat mem­ba­ca teks Pem­bukaan UUD 1945. Suaranya ter­den­gar tersendat dan beber­a­pa kali salah pen­gu­ca­pan, mes­ki ia beru­paya melan­jutkan bacaan hing­ga sele­sai.

Beber­a­pa peser­ta upacara ter­li­hat sal­ing pan­dang, semen­tara beber­a­pa peja­bat di belakangnya tetap berdiri tegap den­gan ekspre­si datar. Situ­asi terse­but kemu­di­an men­ja­di bahan pem­bicaraan pub­lik sete­lah video itu menye­bar luas di berba­gai plat­form media sosial.

Berdasarkan infor­masi yang dihim­pun, keja­di­an itu berlang­sung pada Rabu, 1 Okto­ber 2025, dalam rang­ka peringatan Hari Kesak­t­ian Pan­casi­la yang dilak­sanakan di hala­man kan­tor pemer­in­tah daer­ah Kabu­pat­en Pasangkayu.

  Istri Direbut, Suami Ditantang! Tapi Jawaban Laki-laki Ini Bikin Netizen Bungkam

Acara terse­but dihadiri oleh sejum­lah peja­bat pent­ing, ter­ma­suk unsur Forum Koor­di­nasi Pimp­inan Daer­ah (Forkopim­da), para kepala organ­isasi perangkat daer­ah (OPD), TNI, Pol­ri, pela­jar, dan tokoh masyarakat setem­pat.

Dalam susunan acara res­mi, Wak­il Ket­ua DPRD Pasangkayu ditun­juk untuk mem­ba­cakan Teks Pem­bukaan UUD 1945 seba­gai bagian dari rangka­ian upacara kene­garaan. Namun, keti­ka tiba gili­ran­nya naik ke podi­um, situ­asi ber­jalan tidak seper­ti yang dihara­p­kan.

Menu­rut beber­a­pa sak­si yang hadir, peja­bat terse­but ter­li­hat agak gugup sejak awal naik ke mim­bar. Saat mulai mem­ba­ca teks, ia beber­a­pa kali berhen­ti, ter­ba­ta, dan salah melafalkan beber­a­pa kali­mat. Mes­ki demikian, upacara tetap dilan­jutkan den­gan tert­ib hing­ga sele­sai.

Sete­lah video terse­but beredar, ung­ga­han akun @info_lintassumbar segera men­u­ai per­ha­t­ian pub­lik. Dalam wak­tu singkat, video itu diton­ton puluhan ribu kali dan dibagikan ke berba­gai plat­form lain seper­ti X (Twit­ter), Face­book, dan Tik­Tok.

Banyak war­ganet yang menang­gapi den­gan nada kri­tis. Seba­gian mem­per­tanyakan bagaimana seo­rang peja­bat pub­lik bisa ter­li­hat kesuli­tan mem­ba­ca teks Pem­bukaan UUD 1945 yang semestinya sudah san­gat famil­iar di kalan­gan aparatur pemer­in­ta­han.

“Kalau hal seseder­hana itu saja tidak siap, bagaimana bisa men­jalankan fungsi leg­is­lasi dan pen­gawasan di DPRD?” tulis salah satu komen­tar neti­zen.

Namun, ada pula yang menyam­paikan pem­be­laan dan mem­inta agar pub­lik tidak ser­ta-mer­ta menghu­jat. Menu­rut mere­ka, kesala­han manu­si­awi bisa saja ter­ja­di kare­na fak­tor gugup, kese­hatan, atau kurangnya per­si­a­pan.

“Namanya juga manu­sia, mungkin gro­gi di depan umum. Jan­gan lang­sung dihaki­mi. Lebih baik dijadikan eval­u­asi,” tulis peng­gu­na lain.

Menang­gapi fenom­e­na terse­but, seo­rang akademisi dari Uni­ver­si­tas Sulawe­si Barat (Unsul­bar), Dr. Abdul Karim, meni­lai bah­wa peri­s­ti­wa itu harus dil­i­hat dari dua sisi — sisi eti­ka peja­bat pub­lik dan sisi kemanu­si­aan.

“Seba­gai peja­bat negara, apala­gi yang berdiri di podi­um dalam upacara kene­garaan, kemam­puan berbicara di depan pub­lik dan mema­ha­mi teks dasar negara adalah hal yang fun­da­men­tal. Itu sim­bol peng­hor­matan ter­hadap kon­sti­tusi dan nilai-nilai Pan­casi­la,” ujar Abdul Karim keti­ka dim­intai pen­da­p­at, Kamis (2/10/2025).

  Kepedulian Tanpa Batas Agama: Kisah Kang Dedi Mulyadi Bantu Gereja di Cianjur

Namun, ia juga mene­gaskan pent­ingnya tidak lang­sung meng­haki­mi prib­a­di yang bersangku­tan. “Kalau hanya kare­na gugup atau fak­tor kese­hatan, ten­tu tidak adil jika pub­lik menghu­jat. Tapi lem­ba­ga terkait harus melakukan eval­u­asi agar ke depan peja­bat pub­lik lebih siap secara men­tal dan pro­tokol­er,” tam­bah­nya.

Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, pihak Sekre­tari­at DPRD Kabu­pat­en Pasangkayu belum mem­berikan perny­ataan res­mi terkait insi­d­en terse­but. Namun, menu­rut infor­masi dari salah satu staf sekre­tari­at yang eng­gan dise­butkan namanya, peja­bat yang bersangku­tan memang men­gala­mi kon­disi kurang fit men­je­lang upacara.

“Beli­au sebe­narnya sudah lati­han sebelum­nya, tapi pagi itu katanya agak pus­ing. Jadi mungkin kare­na gugup dan kon­disi badan kurang sehat, jadinya ter­ba­ta-bata,” ujar sum­ber terse­but.

Semen­tara itu, beber­a­pa peja­bat lain yang hadir di lokasi memil­ih tidak berko­men­tar banyak. Mere­ka meni­lai keja­di­an terse­but tidak per­lu dibesar-besarkan kare­na tidak memen­garuhi jalan­nya acara peringatan Hari Kesak­t­ian Pan­casi­la secara keselu­ruhan.

Pakar komu­nikasi pub­lik, Rizal Fajri, menye­but bah­wa keja­di­an seper­ti ini men­ja­di pengin­gat pent­ingnya pelati­han komu­nikasi bagi peja­bat pub­lik di semua tingkatan.

“Banyak peja­bat daer­ah yang mumpuni secara admin­is­tratif, tapi belum ter­biasa den­gan situ­asi komu­nikasi for­mal di depan pub­lik. Pada­hal, kemam­puan berbicara den­gan ten­ang dan jelas di momen res­mi meru­pakan bagian dari cit­ra kelem­ba­gaan,” jelas Rizal.

Menu­rut­nya, keja­di­an terse­but bisa men­ja­di momen­tum bagi pemer­in­tah daer­ah untuk mem­perku­at pro­gram pelati­han kepro­tokolan dan komu­nikasi pub­lik bagi peja­bat di lingkun­gan DPRD maupun instan­si lain­nya.

“Ini bukan sekadar soal mem­ba­ca teks, tapi soal kesi­a­pan men­tal, pen­guasaan emosi, dan pema­haman ter­hadap mak­na teks kene­garaan itu sendiri,” tam­bah­nya.

Dari pan­tauan di lapan­gan, masyarakat Pasangkayu memi­li­ki pan­dan­gan yang beragam. Seba­gian war­ga men­gang­gap peri­s­ti­wa itu seba­gai hal yang memalukan kare­na ter­ja­di pada momen kene­garaan, namun ada pula yang meni­lai pub­lik ter­lalu cepat bereak­si tan­pa meli­hat kon­teks keselu­ruhan.

“Kalau menu­rut saya, tidak usah ter­lalu diper­masalahkan. Yang pent­ing niat­nya baik, dan upacara tetap ber­jalan lan­car,” ujar Rah­man, seo­rang war­ga Kelu­ra­han Pasangkayu.

  Hujan Deras Rendam Lantai Dua Pasar Bitingan Kudus

Berbe­da den­gan itu, war­ga lain­nya, Nurhay­ati, meni­lai keja­di­an terse­but menun­jukkan kurangnya per­si­a­pan. “Harus­nya peja­bat pub­lik itu berlatih dulu. Apala­gi yang diba­cakan adalah teks Pem­bukaan UUD 1945, sim­bol negara yang harus dihor­mati,” ucap­nya.

Dalam kon­teks eti­ka birokrasi, peri­s­ti­wa ini juga menim­bulkan per­tanyaan ten­tang pros­es penu­gasan peja­bat dalam acara res­mi. Biasanya, pem­ba­caan naskah kene­garaan diberikan kepa­da peja­bat yang dini­lai memi­li­ki kemam­puan komu­nikasi yang baik dan ter­biasa den­gan acara pro­tokol­er.

Sejum­lah penga­mat meni­lai, keja­di­an di Pasangkayu dap­at men­ja­di bahan eval­u­asi bagi pani­tia upacara agar lebih selek­tif dalam menen­tukan sia­pa yang bertu­gas di podi­um uta­ma.

“Upacara kene­garaan seper­ti Hari Kesak­t­ian Pan­casi­la adalah momen­tum yang sakral. Kare­na itu, semua petu­gas, ter­ma­suk pem­ba­ca naskah, seharus­nya diper­si­ap­kan matang agar tidak menim­bulkan kesan negatif,” ujar salah satu analis kebi­jakan pub­lik di Sul­bar.

Peri­s­ti­wa viral yang menim­pa Wak­il Ket­ua DPRD Pasangkayu ini seo­lah men­ja­di cer­min kecil ten­tang pent­ingnya kesi­a­pan dan pro­fe­sion­al­i­tas dalam men­jalankan tugas kene­garaan. Di era dig­i­tal, di mana seti­ap momen bisa direkam dan terse­bar luas dalam hitun­gan detik, kesala­han kecil pun bisa men­ja­di kon­sum­si pub­lik.

Namun, di balik viral­nya video ini, ada pesan yang bisa diam­bil: bah­wa men­ja­di peja­bat pub­lik bukan hanya soal jabatan atau posisi, tetapi juga soal kemam­puan, kete­ladanan, dan peng­hor­matan ter­hadap sim­bol-sim­bol negara.

Upacara Hari Kesak­t­ian Pan­casi­la yang sejatinya bertu­juan mem­perku­at nilai-nilai kebangsaan kini jus­tru men­ja­di pengin­gat bagi semua pihak — bah­wa pro­fe­sion­al­i­tas dan kesi­a­pan adalah bagian dari peng­hor­matan ter­hadap Pan­casi­la dan UUD 1945 itu sendiri.

Seba­gaimana diungkap oleh seo­rang tokoh masyarakat Pasangkayu, “Semua orang bisa gugup, tapi seti­ap peri­s­ti­wa juga bisa jadi pela­jaran. Yang pent­ing, ada per­baikan ke depan agar hal seru­pa tidak teru­lang.”

Sum­ber:
Akun Threads @info_lintassumbar, video viral Pasangkayu (1/10/2025), diku­tip, Sab­tu (04/10/2025). (Ahm/abd).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *