Lampung, SniperNew.id – Sabtu, 12 Juli 2025, Setiap datangnya bulan Muharam, selalu ada kisah menyentuh yang lahir dari hati-hati penuh kepedulian. Seperti yang dilakukan oleh sekelompok ibu-ibu perumahan yang tergabung dalam sebuah komunitas kecil di lingkungan mereka. Sabtu pagi, 12 Juli 2025, suasana hangat menyelimuti sebuah rumah sederhana di sudut perumahan. Terlihat 14 orang ibu-ibu anggun mengenakan busana seragam hitam dengan jilbab abu-abu, tersenyum ceria di balik deretan bingkisan biru yang tertata rapi di atas tikar.
Acara santunan anak yatim ini bukan hal baru bagi mereka. Sudah menjadi agenda tahunan yang rutin digelar setiap bulan Muharam. Tanpa sorotan media, tanpa publikasi besar, namun sarat makna dan cinta yang tulus.
Sebuah unggahan dari akun Facebook bernama Ida Hari menjadi cermin dari suasana kekeluargaan dan kebersamaan itu. Dalam unggahannya, ia menulis:
“Acara tiap tahun di bulan Muharam, santunan anak yatim bersama ibu-ibu perumahan ☺️🕊️ Waktunya disuruh ngumpul tonggo dan konco yo kumpul, waktunya di rumah ya anteng di rumah. Wes gak mayeng-mayeng, wes tuek.”
Tulisan ini sederhana namun penuh makna. Menggambarkan bagaimana jiwa gotong royong masih kuat tertanam di lingkungan mereka. Kata-kata “yo kumpul” mencerminkan kesadaran bersama akan pentingnya solidaritas. Sedangkan “wes gak mayeng-mayeng, wes tuek” menjadi refleksi bahwa kematangan usia membawa kebijaksanaan, menjadikan kegiatan sosial sebagai panggilan nurani.
Tidak hanya sekadar berbagi materi, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi, memperkuat hubungan antarwarga, dan tentu saja memberikan kebahagiaan bagi anak-anak yatim yang disantuni.
Warganet yang melihat unggahan ini pun tak sedikit yang merasa terinspirasi. “Beginilah seharusnya masyarakat, saling peduli tanpa perlu menunggu momentum besar,” tulis salah satu komentar.
Kegiatan seperti ini menjadi oase di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota. Ketika banyak orang sibuk mengejar dunia, para ibu ini justru memilih berhenti sejenak untuk memberi — bukan karena lebih, tapi karena peduli.
Semoga semangat kebaikan yang sederhana namun berdampak ini bisa menjadi contoh bagi komunitas lain. Karena sejatinya, kebahagiaan itu tumbuh dari memberi, bukan memiliki.
Editor: (Ahmad).













