Medan, SniperNew.id –Peristiwa kebakaran melanda kawasan padat penduduk di Belawan II, Kota Medan, Sumatera Utara. Sebuah rumah permanen berlantai dua dilaporkan hangus terbakar setelah insiden tawuran yang pecah pada Sabtu malam. Kejadian ini menimbulkan kepanikan warga, terlebih karena sebagian besar bangunan di kawasan tersebut masih didominasi material kayu yang mudah terbakar, Jumat (22/08/2025).
Menurut informasi yang dihimpun, kebakaran bermula ketika situasi tawuran di sekitar lokasi memanas. Suasana ricuh berujung pada kobaran api yang dengan cepat melahap bangunan. Warga sekitar mendadak panik dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Api yang menjalar semakin besar membuat sejumlah rumah di sekitar lokasi terancam terkena dampak.
Seorang saksi mata menyebutkan, api terlihat membubung tinggi dari bagian tengah rumah dua lantai tersebut. Dalam hitungan menit, kobaran api kian membesar hingga sulit dikendalikan. Karena rumah mayoritas berbahan kayu, api dengan mudah merembet ke bagian lain. Situasi darurat pun tidak terhindarkan.
“Api sangat cepat membesar, kami semua hanya bisa lari keluar rumah. Barang-barang pun tidak sempat dibawa,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah suasana kebakaran yang mencekam, suasana justru kian memprihatinkan. Dalam sebuah rekaman video amatir, terdengar suara-suara yang menyebutkan adanya penjarahan terhadap sejumlah barang berharga milik warga. Situasi panik dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan.
Fenomena penjarahan tersebut menambah duka bagi warga yang sudah kehilangan tempat tinggal. Mereka bukan hanya kehilangan rumah dan harta benda akibat api, tetapi juga harus menanggung kerugian tambahan karena barang berharga dijarah saat suasana ricuh.
“Sungguh sangat menyedihkan, sudah rumah terbakar, barang-barang juga ada yang hilang dijarah,” kata warga lainnya.
Peristiwa kebakaran ini menimbulkan trauma bagi masyarakat sekitar. Banyak keluarga terpaksa mengungsi karena rumah mereka tidak lagi bisa ditinggali. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling terdampak. Selain kehilangan tempat berteduh, mereka juga harus menghadapi rasa takut akibat tawuran dan kebakaran yang tiba-tiba.
Secara sosial, kebakaran ini juga memicu keresahan baru. Warga khawatir peristiwa serupa dapat terulang, mengingat kawasan Belawan kerap menjadi titik rawan konflik antarkelompok. Situasi keamanan pun menjadi sorotan utama masyarakat yang menginginkan jaminan perlindungan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kebakaran. Aparat keamanan bersama pemadam kebakaran turun ke lokasi untuk memadamkan api dan menenangkan warga. Butuh waktu cukup lama bagi petugas untuk mengendalikan kobaran api yang sempat menjalar luas.
Menurut keterangan awal, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Aparat kepolisian juga telah mengamankan lokasi dan berupaya mencari tahu siapa pihak yang diduga melakukan penjarahan di tengah suasana kebakaran.
“Kami fokus pada penanganan kebakaran dan memastikan tidak ada korban jiwa. Setelah itu, kami akan menelusuri lebih jauh terkait dugaan penjarahan serta sumber api yang menimbulkan kebakaran,” ujar seorang petugas di lapangan.
Pasca peristiwa ini, warga terdampak sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Bantuan darurat seperti logistik, pakaian, dan tempat tinggal sementara sangat dibutuhkan. Sebagian warga kini menumpang di rumah kerabat atau di tempat pengungsian sementara yang disiapkan oleh warga lain.
Sejumlah relawan juga mulai berdatangan untuk memberikan bantuan. Namun, kebutuhan utama seperti makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan masih sangat mendesak. Selain itu, dukungan psikologis bagi anak-anak yang trauma juga perlu diperhatikan.
Kebakaran di Belawan II ini kembali menyoroti kerentanan kawasan padat penduduk dengan bangunan semi permanen berbahan kayu. Kondisi ini membuat risiko kebakaran semakin tinggi, terutama ketika terjadi konflik sosial seperti tawuran.
Para pemerhati kota menilai, perlu adanya kebijakan penataan kawasan yang lebih serius dari pemerintah. Pembangunan rumah layak huni dengan material tahan api serta penataan jalur evakuasi darurat dinilai mendesak untuk dilakukan.
“Peristiwa ini seharusnya jadi peringatan keras. Kawasan padat penduduk dengan rumah berbahan kayu sangat rentan terhadap kebakaran. Perlu langkah pencegahan dan penataan ulang agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujar seorang pengamat kebencanaan di Medan.
Dalam jangka pendek, fokus utama pemerintah daerah dan masyarakat adalah pemulihan kondisi warga terdampak. Penyaluran bantuan dan jaminan keamanan menjadi prioritas. Aparat keamanan juga meningkatkan patroli untuk mencegah tawuran susulan yang dikhawatirkan bisa memperparah situasi.
Selain itu, investigasi penyebab kebakaran akan menjadi perhatian khusus. Jika terbukti kebakaran dipicu oleh aksi tawuran, maka pihak berwenang diharapkan dapat menindak tegas pelaku untuk memberikan efek jera.
Kebakaran rumah berlantai dua di kawasan Belawan II, Kota Medan, menjadi peristiwa memilukan bagi warga setempat. Insiden yang dipicu tawuran ini tidak hanya memunculkan kerugian materi besar, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat. Ditambah lagi dengan adanya laporan penjarahan yang terjadi saat kebakaran, membuat suasana semakin kompleks.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi nyata berupa bantuan darurat, jaminan keamanan, serta langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari. Bagi masyarakat luas, tragedi ini menjadi pelajaran penting tentang betapa rapuhnya kehidupan ketika konflik sosial tidak dapat diredam sejak awal.
Editor: (Ahmad)



















