Dunia Musik

Rebellion Rose Turun Panggung di Pestapora 2025, Nyanyikan “Buruh Tani” Bersama Massa

275
×

Rebellion Rose Turun Panggung di Pestapora 2025, Nyanyikan “Buruh Tani” Bersama Massa

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Rebel­lion Rose, salah satu band yang dijad­walkan tampil di Pestapo­ra 2025, mem­bu­at kepu­tu­san tak ter­duga. Berdasarkan ung­ga­han akun media sosial jakut_update di Threads, Sab­tu (6/9/2025), band terse­but memil­ih untuk tidak naik ke pang­gung uta­ma. Seba­gai gan­ti­nya, mere­ka turun ke ten­gah keru­mu­nan penon­ton dan bersama-sama melan­tunkan lagu “Buruh Tani”.

Dalam ung­ga­han terse­but ter­tulis. “Rebel­lion Rose batal naik pang­gung di Pestapo­ra 2025. Mere­ka memil­ih datang untuk nyanyi ‘Buruh Tani’ bukan dari pang­gung, tapi di bawah bersama penon­ton yang sudah datang.”

Tin­dakan itu segera men­ja­di sorotan pub­lik, teruta­ma kare­na lagu “Buruh Tani” ker­ap dikaitkan den­gan seman­gat per­juan­gan raky­at kecil, buruh, dan petani. Video yang diung­gah mem­per­li­hatkan suasana mas­sa yang penuh antu­si­asme, den­gan penon­ton ikut bernyanyi dan men­gangkat tan­gan mengiku­ti alu­nan musik.

Tangka­pan layar dalam ung­ga­han mem­per­li­hatkan keteran­gan singkat. “Rebel­lion Rose Turun Pang­gung, Nyanyikan ‘Buruh Tani’.”

Kepu­tu­san band terse­but lang­sung memicu beragam reak­si, baik di lokasi maupun di jagat maya.

Ung­ga­han yang dil­i­hat lebih dari 52 ribu kali itu ramai dipenuhi komen­tar war­ganet. Beber­a­pa komen­tar menun­jukkan dukun­gan penuh, semen­tara seba­gian lain mem­berikan pan­dan­gan kri­tis atau sekadar mengek­spre­sikan perasaan prib­a­di.

Komen­tar yang terekam dalam ung­ga­han di Threads antara lain:

alexs.bay (3 jam lalu):
“Saat ini belum ada par­tai yang mewak­ili buruh tani, peda­gang dan buruh-buruh dari bidang infor­mal, adanya par­tai dari buruh indus­tri­al yang isinya lebih banyak berpiki­ran kap­i­tal­is diband­ing sosialis.”

sismiati34 (3 jam lalu):
“Kaw­al sampe tun­tu­tan kita ter­penuhi guysss, kpn Indone­sia ini merde­ka, muak aq sama negeri one piece.”

bany­olankome­di (4 jam lalu):
“Rak kenal.”

kar­tikaa­gus­rat­nasari (3 jam lalu):
“Maju terus pejuang 2 Refor­masi, kami doakan agar anda kuat, sehat wal’afiat dan aman, aami­in ya Rabbal’aalamin.”

Semen­tara itu, ada juga komen­tar berna­da ringan atau humoris, seper­ti:

pan­tangken­tang (4 jam lalu):
“Mar­ji­nal nggak minta roy­alti kan?”

raka_benningthon (2 jam lalu):
“Merind­ing dengernya.”

f1215co.__ (1 jam lalu):
“Sela­mat indie guys haha­ha­ha.”

itsme_meity (58 menit lalu):
“Cin­taaaaa bgt sama band inii.… 💕💚”

asmaul8311 (1 jam lalu):
“Man­tappp.”

ardisalam.0_0 (2 jam lalu):
“Man­taps.”

Komen­tar-komen­tar itu mencer­minkan keber­aga­man sudut pan­dang. Seba­gian besar menun­jukkan apre­si­asi atas sikap band yang memil­ih “turun ke mas­sa”, semen­tara seba­gian lain meny­ing­gung isu sosial-poli­tik yang lebih luas.

Rebel­lion Rose, sebuah band musik yang dijad­walkan tampil di Pestapo­ra 2025. Mere­ka dike­nal den­gan lagu-lagu bernu­ansa per­lawanan dan kri­tik sosial.

Band ini batal naik pang­gung dalam gelaran musik Pestapo­ra 2025. Seba­gai gan­ti­nya, mere­ka menyanyikan lagu “Buruh Tani” di ten­gah penon­ton yang sudah menung­gu.

Keja­di­an ini berlang­sung pada gelaran Pestapo­ra 2025. Ung­ga­han yang beredar di media sosial jakut_update ter­catat lima jam sebelum beri­ta ini ditu­runk­an, yakni pada Sab­tu, 6 Sep­tem­ber 2025.

Lokasi keja­di­an di fes­ti­val musik Pestapo­ra 2025. Video mem­per­li­hatkan suasana di area ter­bu­ka den­gan keru­mu­nan penon­ton yang ramai.

Alasan uta­ma tidak dije­laskan secara rin­ci oleh band. Namun, tin­dakan memil­ih turun ke bawah diang­gap seba­gai ben­tuk sol­i­dar­i­tas den­gan penon­ton dan sim­bol per­juan­gan bersama. Pemil­i­han lagu “Buruh Tani” juga mene­gaskan pesan sosial yang ingin mere­ka sam­paikan.

Rebel­lion Rose datang ke lokasi acara, tetapi alih-alih tampil di atas pang­gung, mere­ka berbaur den­gan penon­ton. Den­gan pengeras suara seder­hana, mere­ka menyanyikan “Buruh Tani” bersama-sama. Aksi terse­but direkam, dise­barkan ke media sosial, dan viral hing­ga memicu diskusi luas.

Lagu “Buruh Tani” bukan sekadar lagu pop­uler, melainkan sim­bol per­lawanan dan per­juan­gan kelom­pok peker­ja. Dalam sejarah­nya, lagu ini ser­ing digu­nakan dalam aksi-aksi demon­strasi buruh, maha­siswa, dan petani seba­gai seru­an sol­i­dar­i­tas.

Tin­dakan Rebel­lion Rose mem­bawakan lagu terse­but bukan di atas pang­gung, melainkan di ten­gah penon­ton, menam­bah nilai sim­bo­lis. Hal itu menggam­barkan posisi band yang ingin seja­jar den­gan raky­at, bukan bera­da di atas atau ter­pisah dari mas­sa.

Dalam poton­gan video yang diung­gah jakut_update, ter­li­hat sejum­lah orang men­gangkat tan­gan, bernyanyi, dan merekam den­gan pon­sel. Wajah penon­ton tam­pak antu­sias, seba­gian bahkan men­ge­nakan atribut sim­bol per­lawanan.

Ungka­pan “merind­ing dengernya” dari salah satu komen­tar war­ganet menggam­barkan beta­pa kuat­nya ener­gi yang dit­u­larkan dalam momen itu.

Dukun­gan datang dari berba­gai kalan­gan. Banyak war­ganet yang menye­but aksi ini seba­gai keberan­ian sekali­gus ben­tuk keju­ju­ran band indie ter­hadap per­juan­gan raky­at. Namun, ada juga yang menyikapinya den­gan nada skep­tis, men­gang­gap aksi terse­but lebih bernu­ansa sim­bo­lik ketim­bang peruba­han nya­ta.

Mes­ki begi­tu, baik dukun­gan maupun kri­tik sama-sama mem­buk­tikan bah­wa tin­dakan Rebel­lion Rose berhasil meman­tik diskusi lebih luas ten­tang buruh, petani, dan keti­dakadi­lan sosial.

Kepu­tu­san Rebel­lion Rose untuk turun ke mas­sa di Pestapo­ra 2025 bukan hanya soal musik. Aksi ini berpoten­si mem­perku­at cit­ra mere­ka seba­gai band yang berpi­hak pada raky­at kecil. Lebih jauh lagi, tin­dakan itu bisa men­ja­di pemicu seman­gat sol­i­dar­i­tas di ten­gah kon­disi buruh dan petani yang masih berjuang men­da­p­atkan hak-haknya.

Wacana ten­tang rep­re­sen­tasi poli­tik buruh tani yang diangkat salah satu komen­tar war­ganet juga mem­per­li­hatkan bah­wa pub­lik haus akan peruba­han. Momen seder­hana seper­ti nyanyian bersama di fes­ti­val musik bisa bertrans­for­masi men­ja­di ruang per­caka­pan poli­tik yang lebih luas.

Rebel­lion Rose memil­ih jalur berbe­da di Pestapo­ra 2025. Den­gan mem­bat­alk­an penampi­lan di pang­gung uta­ma dan turun lang­sung bernyanyi bersama mas­sa, mere­ka mene­gaskan pesan bah­wa musik bisa men­ja­di alat per­juan­gan, bukan sekadar hibu­ran.

Lagu “Buruh Tani” yang mere­ka nyanyikan mem­perku­at cit­ra itu. Meskipun seder­hana, aksi terse­but men­da­p­at respons luas, dari dukun­gan, kri­tik, hing­ga can­da di media sosial.

Peri­s­ti­wa ini mene­gaskan bah­wa musik, sosial, dan poli­tik tak bisa dip­isahkan. Rebel­lion Rose telah menun­jukkan bagaimana sebuah band indie bisa tetap rel­e­van dan menyuarakan aspi­rasi raky­at di ten­gah fes­ti­val musik mod­ern. (Ahm/abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *