Pelatih asal Austria, Oliver Glasner, kembali menjadi sorotan dunia sepak bola setelah berhasil mempersembahkan dua trofi untuk Crystal Palace hanya dalam waktu singkat. Keberhasilan ini menambah rekam jejak prestasi Glasner yang sebelumnya membawa Eintracht Frankfurt meraih gelar juara Liga Europa.
Dalam sebuah unggahan di media sosial X (sebelumnya Twitter), akun sepak bola ternama menyebutkan bahwa Glasner kembali membuktikan kualitasnya sebagai pelatih top. “Oliver Glasner delivering once again, after the Europa League trophy at Eintracht Frankfurt. Excellent coach,” tulis unggahan tersebut, disertai dua foto Glasner. Foto pertama menunjukkan sang pelatih memegang trofi bersama Crystal Palace, sementara foto kedua memperlihatkan momen ketika ia mengangkat trofi Liga Europa bersama Frankfurt.
Unggahan tersebut mendapat respons besar dari publik, dengan ratusan ribu tayangan dan ribuan interaksi. Hingga pukul 23.18 WIB, tercatat 1.834 kali posting ulang, 280 kutipan, dan 20 ribu suka. Jumlah penanda (bookmark) mencapai 192 kali.
Meskipun banyak yang memuji pencapaian Glasner, ada pula warganet yang memberikan catatan. Akun terverifikasi @micoliser menulis, “Good manager but community shield doesn’t count,” menilai bahwa salah satu dari dua trofi yang diraih tidak masuk kategori gelar mayor, karena dianggap hanya laga pembuka musim.
Namun, komentar tersebut tidak mengurangi apresiasi publik terhadap Glasner. Justru, sebagian besar komentar membandingkan pencapaian pelatih berusia 49 tahun itu dengan manajer klub besar lainnya, khususnya Mikel Arteta dari Arsenal.
Akun @Xperience, yang juga terverifikasi, menulis kritik pedas terhadap kinerja Arteta:
“Yet Arsenal fans keep making excuses for Mikel Arteta and his failures for 7 years now. Arteta have spent €900m and won the Emirate cup in 6 years, Glasner have spent less than €40m and won two significant trophies for Crystal Palace in 8 months. They’ll tell you Arteta is a…”
Komentar ini langsung memicu diskusi di kolom balasan, terutama di kalangan pendukung Arsenal dan netral yang membandingkan efisiensi Glasner dengan investasi besar yang dikeluarkan Arteta.
Komentar bernada sindiran juga datang dari akun @BeardedPriest:
“Crystal Palace: 2 trophies in 6 months. Arsenal: 0000000.”
Ungkapan tersebut jelas menyoroti fakta bahwa dalam kurun waktu singkat, Glasner telah membawa Palace meraih kesuksesan, sementara Arsenal masih kesulitan menambah koleksi trofi dalam periode yang sama.
Keberhasilan Glasner di Crystal Palace sendiri tergolong istimewa, mengingat klub tersebut tidak termasuk dalam jajaran elite Liga Inggris yang rutin mengoleksi gelar. Trofi yang diraih menjadi bukti strategi dan pendekatan kepelatihannya mampu mengangkat performa tim, bahkan di tengah persaingan sengit Premier League.
Trofi pertama Glasner bersama Palace disebut-sebut adalah Piala FA, yang menjadi pencapaian bersejarah bagi klub. Sementara trofi kedua yang dimaksud dalam perbincangan warganet kemungkinan adalah Community Shield, meskipun sebagian fans menilai gelar tersebut memiliki prestise yang lebih rendah dibanding kompetisi liga atau piala domestik utama.
Sebelum menangani Crystal Palace, Glasner dikenal sukses membawa Eintracht Frankfurt meraih gelar Liga Europa pada musim 2021/2022. Keberhasilan itu menjadi salah satu momen paling bersejarah bagi klub asal Jerman tersebut dan mempertegas reputasi Glasner sebagai pelatih yang mampu membangun tim kompetitif dengan anggaran terbatas.
Sejak tiba di Selhurst Park, Glasner mampu mengubah gaya permainan Crystal Palace menjadi lebih efektif dan disiplin. Dalam waktu kurang dari setahun, ia berhasil memanfaatkan potensi pemain yang ada dan memaksimalkan strategi di berbagai ajang.
Perbandingan dengan Mikel Arteta mencuat bukan tanpa alasan. Arsenal, yang merupakan salah satu klub terkaya di Inggris, telah menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan pemain bintang dalam beberapa musim terakhir. Namun, hasil yang diraih belum sesuai ekspektasi sebagian pendukungnya. Kritik yang diarahkan kepada Arteta sering kali berbanding terbalik dengan pujian yang dilayangkan kepada Glasner, terutama dalam hal efektivitas penggunaan anggaran transfer.
Selain itu, keberhasilan Glasner juga memicu diskusi tentang pentingnya pelatih dengan visi taktis yang jelas dan kemampuan memotivasi tim, dibanding sekadar mengandalkan kekuatan finansial klub. Banyak pengamat berpendapat bahwa pencapaian Crystal Palace di bawah Glasner menjadi bukti bahwa klub dengan sumber daya terbatas pun bisa bersaing di papan atas jika dikelola dengan tepat.
Meski begitu, perdebatan tentang nilai suatu trofi tetap menjadi topik panas di kalangan suporter. Sebagian menganggap bahwa hanya kompetisi utama seperti Premier League, Liga Champions, atau Piala FA yang layak disebut sebagai gelar prestisius. Namun, bagi pendukung Palace, setiap trofi yang diraih tetap menjadi kebanggaan tersendiri, mengingat sejarah klub yang jarang mencicipi kesuksesan di tingkat nasional.
Oliver Glasner sendiri belum memberikan komentar panjang terkait respons publik atas pencapaiannya. Namun, gestur dan ekspresi dalam foto-foto yang beredar menunjukkan rasa puas dan bangganya. Dengan modal dua gelar awal, Glasner kini dihadapkan pada tantangan mempertahankan performa tim di musim penuh, di tengah ekspektasi yang semakin tinggi dari para pendukung.
Bagi banyak penggemar sepak bola, kisah Glasner di Crystal Palace menjadi inspirasi bahwa kerja keras, strategi cerdas, dan kepemimpinan efektif dapat menghasilkan prestasi besar, bahkan untuk klub yang tidak selalu menjadi favorit juara. Sementara itu, perbandingan dengan klub besar seperti Arsenal akan terus menjadi bahan diskusi, setidaknya sampai akhir musim ini.
Editor: (Ahmad)













