Berita Daerah

Lomba Maraton Desa Karang Wuluh Meriah, Hadiah Utama Seekor Kambing

216
×

Lomba Maraton Desa Karang Wuluh Meriah, Hadiah Utama Seekor Kambing

Sebarkan artikel ini

Karang Wuluh, SniperNew.id  - Suasana Desa Karang Wuluh, Keca­matan Surada­di, Kabu­pat­en Tegal, Ming­gu (10/8/2025) pagi, terasa berbe­da dari biasanya. Sejak mata­hari belum ter­lalu ting­gi, ratu­san war­ga sudah berkumpul di jalan uta­ma desa, seba­gian men­ge­nakan paka­ian olahra­ga, seba­gian lain­nya mem­bawa kam­era pon­sel untuk mengabadikan momen. Sorak-sorai ter­den­gar dari berba­gai sudut, menyam­but para pelari yang bersi­ap mengiku­ti lom­ba mara­ton tingkat desa yang dige­lar oleh Pemer­in­tah Desa Karang Wuluh, Selasa (12/08/25).

Kegiatan ini diadakan dalam rang­ka mem­peringati Hari Ulang Tahun (HUT) Repub­lik Indone­sia ke-80. Men­gusung seman­gat keber­samaan dan olahra­ga, lom­ba mara­ton terse­but dip­impin lang­sung oleh Kepala Desa Karang Wuluh, Sul­toni, den­gan dukun­gan penuh perangkat desa ser­ta war­ga.

“Acara ini kami seleng­garakan bukan hanya untuk meme­ri­ahkan HUT RI, tetapi juga untuk mem­per­erat silat­u­rah­mi antar­war­ga dan men­ga­jak masyarakat men­ja­ga kese­hatan melalui olahra­ga,” ujar Sul­toni, di sela-sela kegiatan.

Tak kurang dari ratu­san peser­ta turut ambil bagian, berasal dari berba­gai Rukun Tetang­ga (RT) di Desa Karang Wuluh. Mere­ka ter­diri dari berba­gai kalan­gan usia — mulai dari rema­ja, pemu­da, hing­ga orang dewasa. Seba­gian peser­ta bahkan berlatih jauh-jauh hari demi mem­per­si­ap­kan diri meng­hadapi lom­ba ini.

  Benny Utama Sampaikan Permohonan Maaf dan Janji Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Sumbar

Jalur mara­ton yang ditem­puh men­gi­tari wilayah desa, mele­wati jalan perkam­pun­gan, area per­sawa­han, hing­ga titik fin­ish yang telah diten­tukan. Pani­tia menyi­ap­kan rute yang cukup menan­tang, namun tetap aman bagi selu­ruh peser­ta. Sep­a­n­jang lin­tasan, war­ga berdiri di ping­gir jalan, mem­beri dukun­gan den­gan teri­akan seman­gat dan tepuk tan­gan.

Dari sekian banyak hal menarik di lom­ba mara­ton ini, hadi­ah uta­ma men­ja­di sorotan terbe­sar. Berbe­da den­gan hadi­ah-hadi­ah lom­ba mara­ton pada umum­nya yang biasanya beru­pa uang tunai, piala, atau per­ala­tan olahra­ga, Pemer­in­tah Desa Karang Wuluh memil­ih mem­berikan seekor kamb­ing untuk juara per­ta­ma.

Hadi­ah unik ini suk­ses memanc­ing antu­si­asme peser­ta sekali­gus men­ja­di bahan perbin­can­gan war­ga. “Kalau biasanya lom­ba dap­at piala atau uang, ini hadi­ah­nya kamb­ing. Bisa buat kur­ban, bisa dipeli­hara. Pokoknya berman­faat,” kata salah satu peser­ta sam­bil tersenyum.

Juara ked­ua dan keti­ga juga tidak pulang den­gan tan­gan kosong. Pani­tia menye­di­akan hadi­ah hibu­ran beru­pa paket sem­bako, per­ala­tan rumah tang­ga, dan bingk­isan menarik lain­nya.

Pani­tia lom­ba yang ter­diri dari perangkat desa dan pemu­da Karang Taruna telah mem­per­si­ap­kan acara ini sejak beber­a­pa ming­gu sebelum­nya. Segala kebu­tuhan mulai dari pem­bu­atan rute, penga­manan, penye­di­aan air minum di pos-pos ter­ten­tu, hing­ga hadi­ah, disi­ap­kan den­gan cer­mat.

Dukun­gan war­ga juga san­gat terasa. Beber­a­pa ibu rumah tang­ga ikut menye­di­akan makanan ringan untuk peser­ta, semen­tara bapak-bapak mem­ban­tu men­gatur lalu lin­tas di titik-titik per­sim­pan­gan. Kehadi­ran selu­ruh ele­men masyarakat mem­bu­at acara berlang­sung aman dan tert­ib.

  Sengatan Bau Sampah TPAS Jalupang Dikeluhkan Warga, Pemkab Karawang Cepat Bertindak

“Ini adalah buk­ti bah­wa war­ga Karang Wuluh pun­ya rasa keber­samaan yang ting­gi. Semua bergo­tong roy­ong supaya lom­ba ini ber­jalan lan­car,” kata salah seo­rang pani­tia.

Menu­rut Kepala Desa Sul­toni, per­lom­baan seper­ti ini bukan hanya soal men­cari peme­nang, tetapi men­ja­di ajang mem­ban­gun hubun­gan antar­war­ga yang lebih erat. Dalam momen per­ayaan kemerdekaan, kata dia, war­ga dia­jak untuk kem­bali menghidup­kan seman­gat gotong roy­ong, sol­i­dar­i­tas, dan per­sat­u­an.

“Kami ingin semua war­ga ter­li­bat. Bukan hanya seba­gai peser­ta lom­ba, tapi juga seba­gai pen­dukung dan bagian dari acara. Semoga tahun depan bisa lebih meri­ah lagi,” ujar Sul­toni.

Tak hanya itu, Sul­toni juga berharap kegiatan olahra­ga seper­ti ini dap­at men­ja­di agen­da rutin desa, tidak ter­batas pada per­ayaan HUT RI saja. Ia meni­lai, olahra­ga bersama mam­pu men­dorong gaya hidup sehat di kalan­gan masyarakat pedesaan.

Suasana semakin riuh saat pelari-pelari ter­cepat mulai mendekati garis fin­ish. Sorakan semakin keras, kam­era pon­sel kem­bali diangkat, dan tepuk tan­gan mengge­ma di udara. Juara per­ta­ma dis­am­but bak pahlawan oleh war­ga yang bang­ga den­gan prestasinya.

Saat hadi­ah kamb­ing dis­er­ahkan, suasana men­ja­di penuh tawa dan can­da. Beber­a­pa anak kecil ter­li­hat penasaran meli­hat kamb­ing hadi­ah terse­but, semen­tara war­ga lain­nya berfo­to bersama peme­nang.

  Antisipasi Kerawanan Menjelang  Kampanye Terbuka, 361 Botol Miras Diamankan Polres Pekalongan

Bagi war­ga Karang Wuluh, hadi­ah kamb­ing ini tidak hanya lucu dan unik, tetapi juga sarat mak­na. Kamb­ing diang­gap sim­bol reze­ki, keteku­nan, dan man­faat yang nya­ta bagi kehidu­pan sehari-hari.

Lom­ba mara­ton den­gan hadi­ah seekor kamb­ing ini telah men­ja­di ceri­ta tersendiri bagi masyarakat Desa Karang Wuluh. Kegiatan seder­hana namun penuh keber­samaan ini mem­buk­tikan bah­wa per­ayaan kemerdekaan tidak harus mewah untuk bisa berke­san.

Bagi war­ga, yang ter­pent­ing adalah rasa per­saudaraan yang ter­jalin, seman­gat untuk berg­er­ak dan bero­lahra­ga, ser­ta tawa yang ter­cip­ta dari momen-momen keber­samaan.

Acara pun ditut­up den­gan doa bersama dan uca­pan ter­i­ma kasih dari pani­tia kepa­da selu­ruh peser­ta dan war­ga yang telah men­dukung. Kepala Desa Sul­toni berharap, di tahun-tahun men­datang, Desa Karang Wuluh dap­at terus men­gadakan kegiatan posi­tif seper­ti ini, sekali­gus men­ja­ga tra­disi unik yang men­ja­di kebang­gaan bersama.

“Semoga lom­ba mara­ton ini bisa men­ja­di agen­da tahu­nan desa. Bukan hanya untuk meme­ri­ahkan HUT RI, tapi juga untuk men­ja­ga kekom­pakan war­ga. Hadi­ah­nya bisa saja berbe­da, tapi seman­gat­nya harus tetap sama,” pungkas­nya.

Kalau mau, saya bisa juga mem­bu­at ver­si beri­ta ini yang lebih hidup den­gan tam­ba­han dia­log war­ga, deskrip­si suasana lebih detail, dan sen­tuhan human inter­est supaya pem­ba­canya merasa seper­ti hadir di lokasi lom­ba. Itu akan mem­bu­at 900 kata terasa lebih berwar­na dan men­galir.

Penulis: (Suwat­no)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *