Lampung, SniperNew.id - Pagi ini, suasana Pasar Ambarawa berubah menjadi lautan manusia. Bukan karena promo e‑commerce atau konser dadakan, melainkan karena satu hal sederhana: LAPAK DAGING SERBA 13 RIBUAN!. Sabtu 12 Juli 2025.
Sejak pukul 06.30 WIB, warga dari berbagai penjuru Ambarawa dan sekitarnya sudah memadati dua titik panas: depan pasar Ambarawa dan depan balai desa. Mereka datang demi satu tujuan: memborong aneka olahan daging segar seperti kepala ayam, leher, ceker, ati ampela, hingga ati murni yang dibanderol hanya Rp13.000/kg.
Harga yang sangat jauh dari harga pasar ini sontak membuat warganet geger. Tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di jagat maya. Postingan promosi yang menyebut “perlakuan serba 13 ribuan per kilo” sontak viral, diserbu komentar netizen yang kagum sekaligus curiga. “Ini beneran apa ngimpi? Harganya waras, rasanya sultan!” tulis akun @wargakuliner.
Tak berhenti di daging murah, sang pemilik lapak yang akrab disapa “Bestie” ini juga menyediakan 150 loyang perboluan kue basah khas Jawa dengan tekstur lembut dan rasa manis gurih yang menggoda dijual hanya Rp17.000 per loyang. “Murah banget, biasanya di toko kue udah di atas 25 ribu,” ujar Nurjanah (39), warga Pringapus yang rela datang sejak subuh demi mendapat perboluan favorit anaknya.
Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi konsumsi, tapi juga ekonomi mikro. Di tengah fluktuasi harga bahan pokok, hadirnya lapak murah semacam ini menjadi “napas segar” bagi masyarakat. Inisiatif warga untuk berdagang dengan harga ramah kantong menunjukkan betapa ekonomi kerakyatan masih punya ruang besar untuk tumbuh, bahkan viral.
Menurut pengamat UMKM dari Universitas Negeri Semarang, Dr. Ika Rahayu, fenomena lapak murah ini bisa menjadi model ekonomi gerakan lokal.
“Ada nilai sosial, ada nilai ekonomi. Ini bukan sekadar jualan, tapi menggerakkan ekosistem sekitar: peternak, pengolah makanan, sampai transportasi. Hebatnya, dilakukan dengan pendekatan kekinian: viral dan dekat dengan bahasa anak muda.”
Uniknya, penjual tak segan mencantumkan nomor WhatsApp pribadinya dalam promosi, lengkap dengan gaya bahasa yang akrab dan heboh. “Jam 7 kurang sudah di lokasi ya bestieee aku.….088287781423,” tulisnya. Pendekatan ini membuat pembeli merasa dekat dan percaya, karena komunikasi berlangsung tanpa sekat.
Lapak murah “Bestie” ini membuktikan bahwa di era digital, strategi dagang tak melulu harus lewat marketplace besar. Dengan konten kreatif, harga bersahabat, dan pelayanan laris-manis, UMKM pun bisa jadi bintang utama dalam pemberitaan ekonomi nasional.
Kini, publik menanti kejutan berikutnya dari “Bestie” Ambarawa. Apakah akan ada edisi serba 10 ribuan? Atau malah kolaborasi dengan selebgram kuliner? Yang jelas, satu hal pasti: ekonomi rakyat sedang bergeliat, dan lapak-lapak kecil menjadi denyut nadinya.
Editor: (Adm)













