YOGYAKARTA, SNIPERNEW.id — Seekor kuda penarik andong tumbang di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Kamis, 1 Januari 2026. Akun media sosial @kejadianesia mengunggah peristiwa tersebut melalui platform Threads dan menyampaikan bahwa kuda itu diduga mengalami kelelahan setelah bekerja selama liburan Tahun Baru, Jumat (02/01/2025).
Dalam keterangan unggahannya, akun tersebut menulis, “Kejadian seekor kuda penarik andong di kawasan Malioboro tumbang pada Kamis 1/1/2026 diduga karena kelelahan setelah dipekerjakan selama liburan tahun baru.” Unggahan itu menyertakan video yang memperlihatkan situasi di sekitar lokasi kejadian. Sejumlah orang terlihat mendekati kuda yang terjatuh, sementara lalu lintas di kawasan wisata tersebut tetap ramai oleh pengunjung.
Akun @kejadianesia juga menegaskan tidak terlihat indikasi lain seperti asap kendaraan di sekitar lokasi. Narasi tambahan dalam unggahan menyebutkan kondisi lingkungan yang terbuka dan menekankan fokus pada kondisi fisik hewan penarik andong tersebut.
Video itu dengan cepat menyebar dan menarik perhatian warganet. Hingga beberapa jam setelah diunggah, konten tersebut mencatat puluhan ribu tayangan dan memicu diskusi luas tentang praktik pengoperasian andong di kawasan wisata, khususnya saat masa libur panjang dengan lonjakan wisatawan.
Salah satu komentar yang menonjol datang dari akun @mamanya_excel_millen_1971. Dalam komentarnya, akun tersebut menuliskan ungkapan emosional yang menyoroti empati terhadap hewan pekerja. Ia menulis, “Itulah kenapa saya selalu skip tiap lihat kereta kuda, entah di Malioboro atau kuda-kuda pengangkut lain. Aku nggak mau lihat, apalagi naik.”
Komentar itu berlanjut dengan pernyataan personal yang kuat. “Benaran, gara-gara pernah lihat kuda ngeluarin air mata waktu keretanya dinaikin orang banyak. Dia tidak bisa bicara, tidak bisa protes, atau melawan ketika merasa lelah,” tulis akun tersebut. Ia menekankan bahwa kuda memiliki rasa dan jiwa, lalu menutup komentarnya dengan seruan, “Mereka bukan budak manusia yang bisa dipekerjakan seenak kita.”
Komentar tersebut mendapatkan ratusan tanda suka dan memantik dukungan dari pengguna lain. Sejumlah warganet menyuarakan keprihatinan serupa dan meminta adanya perhatian lebih terhadap kesejahteraan hewan pekerja. Tagar dan ajakan kepedulian terhadap kuda pekerja ikut bermunculan di kolom komentar.
Peristiwa ini kembali membuka diskusi lama mengenai keberadaan andong sebagai ikon budaya dan wisata Yogyakarta. Di satu sisi, andong berperan sebagai bagian dari tradisi dan sumber penghidupan bagi kusir. Di sisi lain, publik menuntut pengelolaan yang lebih ketat agar tidak mengorbankan kondisi fisik hewan, terutama saat jam kerja panjang dan cuaca panas.
Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola kawasan Malioboro maupun instansi terkait mengenai kondisi terbaru kuda tersebut dan langkah penanganannya. Informasi yang beredar masih bersumber dari unggahan media sosial dan respons masyarakat.
Sesuai prinsip Kode Etik Jurnalistik, media menyampaikan informasi ini secara berimbang dan tidak menghakimi pihak mana pun. Dugaan kelelahan yang disebutkan dalam unggahan masih memerlukan klarifikasi dari otoritas berwenang dan pihak terkait, termasuk pengelola andong dan dinas yang membidangi kesejahteraan hewan.
Peristiwa tumbangnya kuda andong di Malioboro ini menunjukkan meningkatnya kepedulian publik terhadap isu kesejahteraan hewan di ruang publik. Masyarakat kini tidak hanya melihat andong sebagai atraksi wisata, tetapi juga menaruh perhatian pada batas kemampuan hewan yang terlibat di dalamnya.
Penulis: (Iskandar).






