Berita Nasional

Kapolri Sampaikan Duka ke Keluarga Driver Ojol, Publik Minta Usut Tuntas

324
×

Kapolri Sampaikan Duka ke Keluarga Driver Ojol, Publik Minta Usut Tuntas

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Kepala Kepolisian Repub­lik Indone­sia (Kapol­ri) Jen­der­al Listyo Sig­it Prabowo men­e­mui kelu­ar­ga penge­mu­di ojek online (ojol) berna­ma Affan Kur­ni­awan di Rumah Sak­it Cip­to Man­gunkusumo (RSCM), Jakar­ta. Kehadi­ran Kapol­ri terse­but untuk menyam­paikan bela­sungkawa sekali­gus per­mintaan maaf atas peri­s­ti­wa yang menim­pa kor­ban, Jumat (29/08/2025).

Dalam ung­ga­han sebuah akun media sosial, ter­li­hat Kapol­ri memeluk salah seo­rang anggota kelu­ar­ga kor­ban. Pada momen itu, Jen­der­al bin­tang empat Pol­ri terse­but menyam­paikan ungka­pan duka men­dalam. Ter­tulis pula narasi singkat pada video: “Kapol­ri Peluk dan Minta Maaf ke Kelu­ar­ga Ojol”.

Peri­s­ti­wa ini men­u­ai beragam tang­ga­pan dari masyarakat yang menon­ton ung­ga­han terse­but. Banyak neti­zen menyam­paikan pan­dan­gan kri­tis melalui kolom komen­tar. Mere­ka meni­lai bah­wa sekadar per­mintaan maaf belum cukup untuk meng­ha­pus duka kelu­ar­ga kor­ban. Sejum­lah komen­tar bahkan meny­ing­gung per­lun­ya pros­es hukum yang tegas ter­hadap oknum polisi yang diduga ter­li­bat.

Dalam ung­ga­han terse­but, dije­laskan bah­wa Kapol­ri Jen­der­al Listyo Sig­it Prabowo menyam­paikan duka cita secara lang­sung kepa­da kelu­ar­ga Affan Kur­ni­awan, penge­mu­di ojek online yang men­ja­di kor­ban.

“Kapol­ri Jen­der­al Listyo Sig­it Prabowo men­e­mui kelu­ar­ga penge­mu­di ojek online (ojol) Affan Kur­ni­awan di Rumah Sak­it Cip­to Man­gunkusumo (RSCM). Jen­der­al bin­tang 4 Pol­ri itu men­gu­cap­kan duka kepa­da kelu­ar­ga kor­ban,” tulis keteran­gan akun media sosial lahat­terki­ni dalam ung­ga­han yang sudah diton­ton puluhan ribu kali.

Momen terse­but mem­per­li­hatkan Kapol­ri merangkul erat salah seo­rang ker­abat kor­ban den­gan ekspre­si penuh kesedi­han. Sejum­lah kam­era jur­nalis juga merekam suasana terse­but.

Mes­ki Kapol­ri sudah menyam­paikan duka cita, komen­tar war­ganet di media sosial menun­jukkan bah­wa pub­lik masih meny­im­pan kege­lisa­han. Banyak komen­tar yang meny­oroti aspek kead­i­lan hukum, empati, dan kri­tik ter­hadap tin­dakan aparat.

  Resmi: Paul Onuachu Pilih Pulang ke Turki, Tolak Inggris & Belgia!

Seo­rang peng­gu­na berna­ma riezal.amr menuliskan bah­wa berdasarkan video yang beredar, kor­ban bukan hanya “ter­lin­das” secara tidak sen­ga­ja, melainkan “dilin­das” den­gan sen­ga­ja.

“Video mem­buk­tikan itu di lin­das bukan ter­lin­das. Di lin­das itu sen­ga­ja dan sudah masuk pem­bunuhan,” tulis­nya.

Komen­tar terse­but men­da­p­at per­ha­t­ian dari war­ganet lain, kare­na menyi­ratkan adanya dugaan kesen­ga­jaan yang harus diusut secara tun­tas.

Peng­gu­na apriljune.23 menang­gapi den­gan nada keras. Ia menuliskan bah­wa seandainya yang men­ja­di kor­ban adalah anaknya, ia tidak akan berse­dia mener­i­ma pelukan atau salam dari aparat, meskipun banyak kam­era yang meliput.

“Bapak kok masih mau dipeluk sih pak. Kalo itu anak sy, mumpung banyak kam­era sy marahin tu polisi, ga sudi gw sala­man atau peluk-pelukan,” tulis akun terse­but.

Komen­tar itu menun­jukkan ekspre­si keke­ce­waan seba­gian masyarakat ter­hadap sikap aparat yang hanya menun­jukkan empati sim­bo­lis, tan­pa dis­er­tai tin­dakan nya­ta dalam pene­gakan hukum.

Peng­gu­na lain, ahmadzn­labdn, menuliskan bah­wa uca­pan maaf saja tidak akan bisa mengem­ba­likan nyawa sese­o­rang. Ia men­ganalogikan den­gan pir­ing pec­ah yang tak bisa kem­bali seper­ti sem­u­la. “Hanya den­gan kata ‘Maaf’ bisa hidup kem­bali ga itu almarhum? Bagaikan pir­ing pec­ah tidak akan kem­bali seper­ti sem­u­la! Enak banget ya, abis mati­in orang abis itu cuma bilang ‘Maaf kami menye­sali nya’,” tulis­nya.

Pan­dan­gan ini mem­per­li­hatkan kege­lisa­han pub­lik ter­hadap upaya penye­le­sa­ian yang hanya sebatas uca­pan duka, tan­pa langkah konkret yang bisa men­go­b­ati luka kelu­ar­ga kor­ban.

Selain tiga komen­tar terse­but, masih banyak tang­ga­pan lain yang meni­lai langkah Kapol­ri per­lu diirin­gi den­gan pros­es hukum dan tin­dakan nya­ta.

Peng­gu­na kishika_16 menulis. “Pak… Ancem aja sama yang berser­agam itu. Bilang sama mere­ka kita mau maafin kalo negara nya bubarin tuh rap­at-rap­at yang gak berman­faat. Yang udah bikin susah raky­at. Nga­pain minta maaf doang. Enam bulan juga pada lupa tuh sama kelu­ar­ga almarhum.”

  Presiden Jokowi Disambut Gembira Ribuan Masyarakat Bumi Blambangan Banyuwangi

Akun shaa_ishaa0608 berko­men­tar soal penampi­lan Kapol­ri saat melay­at. “Pak Sig­it bisa gak sih pak, gak usah pake baju ser­agam gitu. Pake kaos oblong coba sekali-sekali. Ser­agam lu udah jadi iden­ti­tas apa gimana sih?”

Akun reny_aprilia23 menuliskan den­gan nada sinis. ““Jan­gan mau dipeluk harus­nya, keseringan liat Drakor lama. Kono­hal ni alurnya per­sis Drakor sumpah.”

Peng­gu­na crys­tal­izedf meny­oroti aspek hukum. ““Harus­nyahukum juga yang lin­desnya. Min­i­mal pecat secara tidak ter­hor­mat. Kata maaf doang gak bisa mengem­ba­likan nyawa orang.”

Akun mirza.abdillah83 menam­bahkan. ““Hati-hati­pak, mere­ka jago banget main dra­ma dan memu­tar balikkan fak­ta. Hati-hati banget pak…”

Peng­gu­na pakandirr menyuarakan hal seru­pa. “Minta maaf aja gak cukup buat ngem­bali­in nyawa gak berdosa yang sudah melayang. Usut tun­tas polisi yang lin­des ojol.”

Akun fipratiwi_fitri menekankan pent­ingnya ban­tu­an ekono­mi untuk kelu­ar­ga kor­ban. “Minta maaf aja ga cukup. Tolong kelu­ar­ganya diberikan ban­tu­an ekono­mi. Orang itu mening­gal lagi cari nafkah loh.”

Dari ratu­san komen­tar yang masuk, ter­da­p­at beber­a­pa sorotan uta­ma yang muncul beru­lang kali:

1. Uca­pan Maaf Dini­lai Tidak Cukup
Pub­lik meni­lai kata maaf hanya sebatas sim­bol tan­pa mak­na nya­ta jika tidak diirin­gi tin­dakan hukum yang jelas.

2. Tun­tu­tan Pene­gakan Hukum
Banyak komen­tar menekankan bah­wa kasus ini harus diusut tun­tas. Oknum polisi yang ter­li­bat dim­inta diberi sanksi tegas, bahkan ada yang men­yarankan peme­catan tidak ter­hor­mat.

3. Kri­tik ter­hadap Sim­bolisme
Seba­gian war­ganet meni­lai ges­tur pelukan dan penampi­lan berser­agam seba­gai sekadar sim­bo­lis, bukan solusi nya­ta bagi kelu­ar­ga kor­ban.

4. Dampak Ekono­mi bagi Kelu­ar­ga
Ada juga komen­tar yang meny­ing­gung bah­wa kor­ban adalah tulang pung­gung kelu­ar­ga. Oleh kare­na itu, negara dim­inta hadir mem­beri jam­i­nan dan ban­tu­an ekono­mi.

  Ketua Umum IAD: Peran IAD Sangat Strategis Dalam Dukung Akselerasi Kejaksaan Wujudkan Penegakan Hukum Modern Menuju Indonesia Emas

5. Kekhawati­ran Manip­u­lasi Fak­ta
Beber­a­pa komen­tar menyuarakan ker­aguan ter­hadap narasi res­mi, den­gan meni­lai aparat bisa saja “memainkan dra­ma” untuk meredam kemara­han pub­lik.

Kasus ini menim­bulkan diskusi serius ten­tang tang­gung jawab aparat pene­gak hukum. Seba­gai pemimpin tert­ing­gi Pol­ri, Kapol­ri memang memi­li­ki kewa­jiban moral untuk menyam­paikan bela­sungkawa. Namun, pub­lik menun­tut lebih dari itu: adanya kead­i­lan hukum dan transparan­si dalam penan­ganan kasus.

Kema­t­ian seo­rang war­ga sip­il, apala­gi saat sedang bek­er­ja men­cari nafkah, ten­tu menim­bulkan luka men­dalam bagi kelu­ar­ga yang dit­ing­galkan. Selain itu, hal ini juga memen­garuhi keper­cayaan masyarakat ter­hadap aparat pene­gak hukum.

Ges­tur empati Kapol­ri, mes­ki pent­ing secara sim­bo­lis, dini­lai belum cukup oleh pub­lik tan­pa diiku­ti langkah nya­ta beru­pa inves­ti­gasi, sanksi, ser­ta dukun­gan bagi kelu­ar­ga kor­ban.

Per­lu digaris­bawahi, infor­masi yang beredar di media sosial ker­ap kali dis­er­tai opi­ni pub­lik yang emo­sion­al. Berba­gai komen­tar war­ganet menun­jukkan respon masyarakat, namun belum ten­tu merep­re­sen­tasikan fak­ta hukum yang sahih. Oleh kare­na itu, seti­ap pihak tetap per­lu menung­gu hasil inves­ti­gasi res­mi dari kepolisian terkait kasus ini.

Dalam kon­teks eti­ka jur­nal­is­tik, pem­ber­i­taan peri­s­ti­wa seper­ti ini harus menguta­makan akurasi, ver­i­fikasi, dan keber­im­ban­gan infor­masi. Pub­lik berhak menge­tahui fak­ta, semen­tara aparat memi­li­ki kewa­jiban mene­gakkan hukum sesuai prose­dur.

Perte­muan Kapol­ri den­gan kelu­ar­ga penge­mu­di ojek online Affan Kur­ni­awan di RSCM men­ja­di sorotan pub­lik. Ungka­pan bela­sungkawa dan per­mintaan maaf Kapol­ri diang­gap seba­gian masyarakat seba­gai ben­tuk tang­gung jawab moral. Namun, gelom­bang komen­tar war­ganet menun­jukkan bah­wa pub­lik masih menun­tut kead­i­lan hukum, sanksi tegas bagi pelaku, dan per­ha­t­ian ter­hadap kese­jahter­aan kelu­ar­ga kor­ban.

Kasus ini mem­per­li­hatkan bah­wa empati sim­bo­lis saja tidak cukup. Kead­i­lan sub­stan­tif, transparan­si, dan keber­pi­hakan pada raky­at kecil men­ja­di tun­tu­tan yang terus dis­uarakan masyarakat. Pada akhirnya, pub­lik menan­ti langkah nya­ta dari insti­tusi kepolisian dalam men­gusut kasus ini secara tun­tas. (Dar­mawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *