Jakarta, SniperNew.id — Unggahan akun media sosial @riosuperstar di platform Threads mendadak ramai diperbincangkan setelah menyoroti perubahan besar pada salah satu jaringan toko buku terbesar di Indonesia, Gramedia, Minggu (09/11/2025).
Dalam unggahan tersebut, ia mengungkap bahwa kini hanya sekitar 35 persen dari kapasitas toko Gramedia yang diisi oleh buku, sementara sisanya didominasi oleh alat tulis (stationery) serta barang konsinyasi seperti alat musik, elektronik, dan tumbler.
“Udah lama banget ga main ke Gramedia Toko Buku. Baru nyadar bahwa ternyata sekarang tuh section buku di Gramedia boleh dibilang hanya 35% dari kapasitas tokonya,” tulis @riosuperstar, seraya menyebut pengamatannya dilakukan di Gramedia Gandaria City.
Unggahan itu disertai beberapa foto yang memperlihatkan suasana dalam toko, deretan rak buku yang tampak berkurang, serta area etalase berisi produk non-buku.
Unggahan tersebut langsung menuai beragam komentar dari warganet. Seorang pengguna dengan nama @yudhitrilz menulis bahwa fenomena ini sudah berlangsung sejak 2018–2019, ketika tren belanja buku beralih ke platform daring seperti toko hijau dan oranye. “Diperparah era Covid 2020–2022, beberapa cabang Gramedia banyak yang tutup,” tulisnya. Ia menambahkan, hanya produk alat tulis yang masih laris karena kebutuhan mendesak pembeli.
Komentar lain datang dari @quirkyjelly yang mengenang masa kejayaan Gramedia Bintaro Plaza pada tahun 2000-an. “Dulu dua lantai, sekarang cuma satu lantai dan rak bukunya jadi dikit banget,” tulisnya disertai emoji sedih.
Sementara itu, pengguna @erliana.rusli membagikan pengalamannya ke Gramedia Gandaria City. Ia menyebut sudah jarang menemukan buku pelajaran sekolah di sana. “Adanya cuma buku kompilasi pelajaran seperti buku bimbel,” katanya.
Hal senada disampaikan @dion_daniel, yang menyoroti semakin berkurangnya koleksi komik di Gramedia. “Section komik jumlah raknya makin sedikit. Bahkan komik-komik Shoujo udah hampir gak ada, kecuali Miiko. Kebanyakan sekarang shounen semua,” tulisnya.
Di sisi lain, pengguna @ajyto mengungkap kondisi Gramedia di Cimahi yang menurutnya “full 100% ATK.” Ia menyebut tantangan Gramedia kini adalah bersaing dengan toko alat tulis murah di luar,
“Kecuali barang yang gak ada saingan kayak art pen dan sejenisnya,” ujarnya.
Unggahan @riosuperstar yang telah ditonton lebih dari 14 ribu kali itu menggambarkan perubahan signifikan dalam wajah bisnis ritel buku di Indonesia.
Banyak warganet menyayangkan transformasi tersebut, mengingat Gramedia selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon toko buku terbesar dan tempat “berburu ilmu” yang penuh kenangan.
Fenomena ini menjadi cerminan nyata perubahan perilaku konsumen dan tantangan toko buku konvensional di era digital dan pascapandemi.
Penulis: (Iskandar)













