Berita Ekonomi

Gramedia Kini Tak Lagi “Toko Buku”: Warganet Soroti Berkurangnya Rak Buku di Berbagai Cabang

554
×

Gramedia Kini Tak Lagi “Toko Buku”: Warganet Soroti Berkurangnya Rak Buku di Berbagai Cabang

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id — Ung­ga­han akun media sosial @riosuperstar di plat­form Threads men­dadak ramai diperbin­cangkan sete­lah meny­oroti peruba­han besar pada salah satu jaringan toko buku terbe­sar di Indone­sia, Gra­me­dia, Ming­gu (09/11/2025).

Dalam ung­ga­han terse­but, ia men­gungkap bah­wa kini hanya sek­i­tar 35 persen dari kap­a­sitas toko Gra­me­dia yang diisi oleh buku, semen­tara sisanya didom­i­nasi oleh alat tulis (sta­tionery) ser­ta barang kon­sinyasi seper­ti alat musik, elek­tron­ik, dan tum­bler.

  Pasar Domestik Disebut “Jorok”, UMKM Tertekan Impor Ilegal

“Udah lama banget ga main ke Gra­me­dia Toko Buku. Baru nyadar bah­wa terny­a­ta sekarang tuh sec­tion buku di Gra­me­dia boleh dibi­lang hanya 35% dari kap­a­sitas tokonya,” tulis @riosuperstar, ser­aya menye­but penga­matan­nya dilakukan di Gra­me­dia Gan­daria City.

Ung­ga­han itu dis­er­tai beber­a­pa foto yang mem­per­li­hatkan suasana dalam toko, dere­tan rak buku yang tam­pak berku­rang, ser­ta area eta­lase berisi pro­duk non-buku.

Ung­ga­han terse­but lang­sung men­u­ai beragam komen­tar dari war­ganet. Seo­rang peng­gu­na den­gan nama @yudhitrilz menulis bah­wa fenom­e­na ini sudah berlang­sung sejak 2018–2019, keti­ka tren belan­ja buku beral­ih ke plat­form dar­ing seper­ti toko hijau dan oranye. “Diper­parah era Covid 2020–2022, beber­a­pa cabang Gra­me­dia banyak yang tut­up,” tulis­nya. Ia menam­bahkan, hanya pro­duk alat tulis yang masih laris kare­na kebu­tuhan mende­sak pem­be­li.

  Dirjen Pajak Tinjau Layanan SPT Tahunan di Sleman

Komen­tar lain datang dari @quirkyjelly yang men­ge­nang masa kejayaan Gra­me­dia Bin­taro Plaza pada tahun 2000-an. “Dulu dua lan­tai, sekarang cuma satu lan­tai dan rak bukun­ya jadi dik­it banget,” tulis­nya dis­er­tai emo­ji sedih.

Semen­tara itu, peng­gu­na @erliana.rusli mem­bagikan pen­gala­man­nya ke Gra­me­dia Gan­daria City. Ia menye­but sudah jarang men­e­mukan buku pela­jaran seko­lah di sana. “Adanya cuma buku kom­pi­lasi pela­jaran seper­ti buku bim­bel,” katanya.

Hal sena­da dis­am­paikan @dion_daniel, yang meny­oroti semakin berku­rangnya kolek­si komik di Gra­me­dia. “Sec­tion komik jum­lah raknya makin sedik­it. Bahkan komik-komik Shou­jo udah ham­pir gak ada, kecuali Miiko. Kebanyakan sekarang shounen semua,” tulis­nya.

  SPPG Rp500 Juta per Hari, 93% Anggaran BGN Mengalir ke Daerah

Di sisi lain, peng­gu­na @ajyto men­gungkap kon­disi Gra­me­dia di Cimahi yang menu­rut­nya “full 100% ATK.” Ia menye­but tan­ta­n­gan Gra­me­dia kini adalah ber­saing den­gan toko alat tulis murah di luar,

Kecuali barang yang gak ada sain­gan kayak art pen dan sejenis­nya,” ujarnya.

Ung­ga­han @riosuperstar yang telah diton­ton lebih dari 14 ribu kali itu menggam­barkan peruba­han sig­nifikan dalam wajah bis­nis ritel buku di Indone­sia.

Banyak war­ganet menyayangkan trans­for­masi terse­but, mengin­gat Gra­me­dia sela­ma puluhan tahun dike­nal seba­gai ikon toko buku terbe­sar dan tem­pat “berbu­ru ilmu” yang penuh kenan­gan.

Fenom­e­na ini men­ja­di cer­mi­nan nya­ta peruba­han per­i­laku kon­sumen dan tan­ta­n­gan toko buku kon­ven­sion­al di era dig­i­tal dan pas­capan­de­mi.

Penulis: (Iskan­dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *