Jombang, SniperNew.id - Di tengah gejolak kenaikan pajak tanah yang mencapai hampir 400 persen, kisah seorang warga Desa Pulolor, Jombang, menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena jumlah kenaikan yang fantastis, tapi juga karena cara unik sekaligus penuh makna dalam membayar pajak tersebut — menggunakan satu galon penuh berisi koin pecahan Rp500, hasil tabungan anaknya sejak masih bersekolah.
Fatah Rohim, nama warga itu, awalnya hanya dikenakan pajak tanah sebesar Rp300–400 ribu per tahun. Namun, tahun ini, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai Rp1,3 juta. Kenaikan yang tajam ini membuat banyak warga terkejut, bahkan tidak sedikit yang merasa keberatan.
Alih-alih mengeluh panjang, Fatah Rohim memilih langkah tegas: membayar pajaknya dengan uang yang ia miliki, meski harus membawa tabungan koin yang selama ini dikumpulkan oleh anaknya.

Dalam video yang diunggah oleh akun @folkkonoha di platform Threads, tampak Fatah Rohim datang ke kantor Bapenda membawa galon air mineral besar, penuh sesak dengan koin pecahan Rp500. Bersama seorang rekannya, ia menuangkan koin-koin tersebut di lantai kantor, untuk kemudian dihitung oleh petugas.
Adegan ini mengundang rasa penasaran dan kagum. Bayangkan, setiap keping koin yang jatuh ke lantai adalah hasil tetesan kesabaran, kedisiplinan, dan ketekunan menabung selama bertahun-tahun. Bukan uang yang didapat instan, melainkan dikumpulkan sedikit demi sedikit, entah dari sisa belanja, uang jajan, atau kembalian kecil yang tidak dianggap berarti oleh banyak orang.
Bagi Fatah Rohim, setiap koin itu punya cerita. Sebagian besar berasal dari tabungan anaknya ketika masih sekolah. Ia tidak mengambil tabungan itu sembarangan; melainkan sebagai bentuk tanggung jawab keluarga terhadap kewajiban membayar pajak, walau kondisinya berat.
Kisah ini langsung mengundang komentar warganet. Ada yang terkejut dengan besarnya kenaikan pajak. “Yang naik 250% saja sampai 50 ribu orang hampir demo. Bagaimana ini yang 400%?” tulis akun @masmas_daeng.
Komentar lainnya datang dari @clara.fransisca yang heran mengapa kasus ini tidak seheboh peristiwa serupa di Pati, Jawa Tengah. Sementara akun @raffi_mii menulis lantang: “Demi Allah, zolim banget pejabat di Indonesia.”

Pro dan kontra pun mengemuka. Sebagian warganet memuji keteguhan Fatah Rohim yang tetap membayar kewajiban, meski caranya unik. Sebagian lain menyoroti kebijakan kenaikan pajak yang dinilai memberatkan rakyat.
Di luar kontroversi, kisah Fatah Rohim menyimpan pesan motivasi yang kuat. Menabung dalam bentuk apapun, sekecil apapun nilainya, ternyata bisa menjadi penolong di saat genting.
Banyak orang meremehkan koin pecahan Rp500. Koin itu sering tercecer, tertinggal di laci, atau bahkan dibiarkan di meja. Namun di tangan orang yang sabar dan tekun, koin tersebut bisa menjadi penyelamat untuk memenuhi kewajiban besar.
Bayangkan, jika satu hari kita menabung hanya Rp5.000 dalam bentuk koin, dalam setahun sudah terkumpul Rp1,8 juta. Nilai itu cukup untuk membayar pajak, biaya sekolah anak, atau bahkan kebutuhan darurat lainnya.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa:
1. Jangan meremehkan nilai kecil — Rp500 mungkin tak terasa saat ini, tapi jika dikumpulkan terus menerus, nilainya akan mengejutkan.
2. Disiplin lebih penting daripada jumlah — menabung sedikit tapi rutin lebih efektif dibanding menunggu punya uang banyak baru mulai menyisihkan.
3. Gunakan tabungan untuk hal yang tepat — seperti yang dilakukan Fatah Rohim, tabungan digunakan untuk melunasi kewajiban penting, bukan untuk kebutuhan konsumtif sesaat.
Kenaikan harga, pajak, dan biaya hidup memang menjadi tantangan berat bagi banyak orang. Namun, justru di saat sulit inilah ketekunan dan kreativitas diuji. Jika kita bisa bersabar menabung, menahan diri dari pengeluaran tidak perlu, dan mengutamakan kewajiban, kita tidak akan mudah terguncang ketika menghadapi situasi tak terduga.
Fatah Rohim telah menunjukkan bahwa sikap pantang menyerah lebih berharga daripada keluhan panjang. Ia tidak datang ke kantor pajak untuk memprotes, tetapi untuk melunasi kewajibannya dengan cara yang sah dan penuh simbol perjuangan.
Bagi anak-anak muda, ini juga bisa menjadi pelajaran berharga. Menabung bukanlah kebiasaan kuno, melainkan skill bertahan hidup. Uang receh yang terkumpul di celengan bisa menjadi modal usaha kecil, biaya ujian, atau bahkan membayar pajak seperti kisah ini.
Tabungan koin anak Fatah Rohim mungkin awalnya dimaksudkan untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. Namun ketika keluarga membutuhkan, tabungan itu menjadi penyelamat. Inilah bukti bahwa menabung bukan hanya soal uang, tapi juga soal solidaritas dan tanggung jawab keluarga.
Kisah galon koin di Jombang ini mengajarkan bahwa di balik angka-angka ekonomi yang sering terasa menekan, ada kisah manusia yang penuh ketekunan, pengorbanan, dan kebersamaan.
Netizen boleh saja berdebat soal kebijakan pemerintah, tapi mari juga mengambil sisi positif dari cerita ini: bahwa menabung, sekecil apapun nilainya, adalah langkah cerdas yang akan menolong kita suatu hari nanti.
Fatah Rohim mungkin hanya seorang warga desa yang membayar pajak dengan koin receh. Namun di mata banyak orang, ia adalah simbol keteguhan hati, bukti nyata bahwa kerja keras dan kesabaran akan selalu menemukan jalannya. (Red).



















