Bandung, SniperNew.id - Kabupaten Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang diunggah akun sosial Trends dengan nama pengguna “qoatewallpapers” memperlihatkan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) tengah mengendarai sepeda motor di Jalan Panggilingan. Yang lebih mengejutkan, kedua anak tersebut sempat berhenti di pinggir jalan hanya untuk menyalakan rokok, kemudian melanjutkan perjalanan, Kamis (21/08/2025).
Video tersebut seketika memicu gelombang keprihatinan masyarakat. Banyak warganet yang mengomentari, mulai dari rasa heran, prihatin, hingga kesal. Aksi tersebut bukan hanya berbahaya karena melibatkan anak di bawah umur yang sudah berani mengendarai kendaraan bermotor tanpa kelayakan, tetapi juga karena adanya kebiasaan merokok di usia dini yang jelas berisiko merusak kesehatan dan masa depan mereka.
Fenomena ini pada dasarnya adalah sebuah cermin. Cermin bagi orang tua, sekolah, masyarakat, dan kita semua tentang bagaimana sebuah lingkungan memberi pengaruh besar pada tumbuh kembang seorang anak.
Psikolog anak sering menyebutkan bahwa anak kecil adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di sekelilingnya akan dengan mudah mereka serap tanpa mempertimbangkan benar atau salah. Jika seorang anak terbiasa melihat orang dewasa merokok, bukan hal aneh bila suatu saat ia mencoba hal serupa karena menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.
Dalam kasus ini, terlihat jelas bahwa kedua anak tersebut belum bisa memahami risiko besar yang mereka ambil. Mereka mengendarai sepeda motor tanpa izin resmi, tanpa perlengkapan keselamatan, dan menambah bahaya dengan kebiasaan merokok. Semua itu terjadi bukan karena mereka “nakal” semata, melainkan karena pengawasan dan edukasi yang masih kurang.
Keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap anak. Apa yang mereka pelajari di rumah akan terbawa ke luar rumah. Ketika orang tua gagal memberi contoh yang baik atau abai terhadap perkembangan anaknya, risiko besar menanti.
Video ini seakan menjadi peringatan keras bahwa pengawasan terhadap anak tidak boleh setengah hati. Orang tua perlu lebih hadir dalam kehidupan anak—bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga mendampingi, menasehati, dan menanamkan nilai moral serta kesehatan sejak dini.
Menegur anak agar tidak merokok saja tidak cukup. Orang tua juga perlu menunjukkan teladan nyata, seperti tidak merokok di depan anak, menjelaskan bahaya rokok dengan bahasa yang sederhana, hingga menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan bebas asap rokok.
Tidak bisa dipungkiri, pendidikan formal juga memiliki tanggung jawab besar. Sekolah bukan hanya tempat belajar hitung-hitungan atau membaca buku, tetapi juga tempat pembentukan karakter. Guru dan pihak sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, mengadakan penyuluhan tentang bahaya narkoba, rokok, dan pergaulan bebas sejak dini.
Selain itu, masyarakat sekitar juga seharusnya ikut ambil bagian. Pepatah lama mengatakan, “Butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak.” Artinya, lingkungan sekitar pun punya pengaruh besar dalam membentuk pribadi seorang anak. Jika lingkungan membiarkan anak-anak bebas merokok atau mengendarai motor, maka bukan tidak mungkin mereka akan menganggap hal itu wajar.
Merokok di usia dini bukanlah hal sepele. Berbagai penelitian medis menyebutkan bahwa paparan nikotin sejak kecil bisa menimbulkan kerusakan permanen pada paru-paru, otak, dan jantung. Anak-anak yang terbiasa merokok lebih berisiko mengalami kecanduan di masa remaja hingga dewasa.
Selain itu, kebiasaan merokok dapat menurunkan kualitas konsentrasi belajar, memengaruhi prestasi di sekolah, dan membuka peluang bagi kebiasaan buruk lainnya. Belum lagi risiko kecelakaan lalu lintas yang meningkat karena anak belum cukup matang untuk mengendarai kendaraan bermotor dengan aman.
Meski peristiwa ini menyedihkan, kita bisa mengambil hikmah dan menjadikannya sebagai motivasi. Video dua anak SD yang merokok di jalan ini semestinya menjadi bahan refleksi, bukan sekadar bahan olok-olok atau bahan candaan di media sosial.
Kita perlu mengubah rasa keprihatinan menjadi langkah nyata. Mulai dari orang tua yang lebih memperhatikan anaknya, sekolah yang memperkuat pendidikan moral, masyarakat yang lebih peduli terhadap generasi muda, hingga pemerintah yang menegakkan aturan lebih tegas terkait penjualan rokok pada anak di bawah umur.
Setiap anak adalah aset berharga bangsa. Generasi muda adalah cermin masa depan Indonesia. Jika sejak kecil mereka sudah terjerumus pada kebiasaan buruk, maka masa depan bangsa bisa terancam. Sebaliknya, jika mereka dibimbing dengan baik, diberi teladan yang sehat, dan diarahkan pada hal-hal positif, maka kelak mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kuat, cerdas, dan bermoral.
Peristiwa ini harus membuka mata kita semua bahwa membentuk karakter anak bukan tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama.
Perjalanan dua anak SD di Kabupaten Bandung yang sempat direkam warga saat merokok di jalan bukanlah sekadar berita viral. Ini adalah pesan nyata yang mengetuk hati: bahwa ada anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih, ada generasi yang sedang mencari arah, dan ada lingkungan yang harus lebih peduli.
Kita bisa memulai dari hal sederhana: berhenti merokok di depan anak, memberi waktu untuk mendengarkan cerita mereka, mengajarkan nilai kebaikan, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan positif.
Sebab, anak-anak hari ini adalah pemimpin di masa depan. Mari kita bersama-sama memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang memberi teladan baik, agar tidak terjerumus pada kebiasaan yang merugikan diri sendiri dan bangsa.
Editor: (Ahmad)













