Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

Desakan Publik Malaysia Usut Tuntas Kasus Bullying, Netizen Pertanyakan Perbedaan Perlakuan

766
×

Desakan Publik Malaysia Usut Tuntas Kasus Bullying, Netizen Pertanyakan Perbedaan Perlakuan

Sebarkan artikel ini

Kuala Lumpur, SniperNew.id  – Gelom­bang desakan pub­lik Malaysia kem­bali men­guat terkait penan­ganan kasus perun­dun­gan (bul­ly­ing) yang menim­pa seo­rang siswi berna­ma Zara Qai­ri­na, Rabu (20/08/2025).

Kasus ini men­cu­at ke ruang pub­lik sete­lah banyak pihak, ter­ma­suk aktivis media sosial, mem­band­ingkan per­lakuan aparat ter­hadap kasus terse­but den­gan kasus tragis almarhum Nazmie Aiz­zat yang mening­gal dunia aki­bat dibu­li di Kolej Voka­sion­al Lahad Datu pada Maret 2024 lalu.

Salah satu ung­ga­han yang viral di media sosial Threads menuliskan, masyarakat Malaysia ingin meli­hat para pelaku bul­ly­ing ter­hadap Zara Qai­ri­na digir­ing aparat seper­ti hal­nya para pelaku dalam kasus Nazmie Aiz­zat. Penulis ung­ga­han itu, Khairo­laz­far­man­sor, mene­gaskan agar alasan “di bawah umur” tidak dijadikan dal­ih untuk melin­dun­gi para pelaku.

“Jika tidak seper­ti ini den­gan alasan mere­ka bawah umur, JANGAN lupa kes buli adik Nazmie Aiz­zat yang didak­wa ada yang beru­mur 16 dan 17 tahun. Juga di bawah umur,” tulis­nya.

Ung­ga­han terse­but juga menampilkan foto sejum­lah rema­ja berpaka­ian ser­agam lokap (tahanan) berwar­na oranye yang digir­ing oleh polisi, diduga para ter­sang­ka dalam kasus perun­dun­gan sebelum­nya. Foto ini men­ja­di sim­bol tun­tu­tan agar kasus ter­baru tidak diper­lakukan berbe­da.

  Diduga Tertipu Jual Beli Tanah, Warga Desa Ipu Resmi Laporkan Kasus ke Polisi

Perde­batan Pub­lik: Dua Stan­dar Per­lakuan?, Reak­si war­ganet pun bermuncu­lan. Beber­a­pa mem­per­tanyakan apakah kasus ini akan benar-benar dibu­ka secara transparan atau jus­tru dilin­dun­gi kare­na sta­tus sosial para pelaku.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma fer­aber­ry menulis, “Bukan VVIP tau!” seakan meny­ing­gung dugaan adanya perbe­daan per­lakuan hukum bagi anak-anak dari kelu­ar­ga berpen­garuh.

Komen­tar lain dari shafiqa­mustaffa menekankan pent­ingnya menye­barkan kasus ini agar tetap men­ja­di sorotan pub­lik: “Kasih viral guysss.”

Namun seba­gian war­ganet juga meny­oroti adanya keter­batasan hukum yang berlaku. Seo­rang peng­gu­na den­gan nama beau­ti­foolchix men­je­laskan bah­wa sulit untuk meli­hat wajah para pelaku kare­na undang-undang di Malaysia melin­dun­gi iden­ti­tas anak di bawah umur.

“X akan dpt… sbb ni under­age. Kes pela­jar ni ada dua jenis: satu pela­jar seko­lah bawah 18 tahun dan satu lagi pela­jar kolej/universiti atas 18 tahun. Jadi hara­pan nak tgk muka tu susah, sebab negara kita ada akta kanak-kanak yg x sama den­gan negara lain. So kena hadam part tu. Kalau kes ni berlaru­tan sam­pai bertahun, insyaal­lah cukup umur, baru­lah boleh lihat,” tulis­nya.

Diskusi pub­lik semakin ramai keti­ka ada war­ganet yang meny­oroti perbe­daan dasar hukum antara kasus Nazmie Aiz­zat den­gan kasus Zara Qai­ri­na.

Peng­gu­na berna­ma sheenarayy_ menuliskan bah­wa jenis dak­waan memang tidak sama. Kasus Nazmie Aiz­zat masuk ke dalam Seksyen 302 Kanun Kesek­saan yang terkait den­gan pem­bunuhan, semen­tara kasus Zara Qai­ri­na bera­da di bawah Seksyen 507C(1) Kanun Kesek­saan, yakni terkait komu­nikasi men­gan­cam atau menghi­na dalam kasus bul­ly­ing.

  Harunya Pertemuan Ayah Tahanan dan Anak di Polsek Medan Tuntungan

“Per­beza­an­nya bergan­tung kepa­da jenis jenayah yang didak­wa dan buk­ti yang ada. Dua-dua tak sama. Buk­ti tak cukup,” ujarnya.

Perny­ataan ini memicu diskusi lebih jauh ten­tang kead­i­lan hukum, kare­na seba­gian masyarakat meni­lai bah­wa meskipun ben­tuk kek­erasan­nya berbe­da, dampak psikol­o­gis maupun fisik ter­hadap kor­ban bul­ly­ing tetap harus dipan­dang serius.

Isu peng­gu­naan Akta Kanak-Kanak juga men­ja­di sorotan. Seo­rang war­ganet berna­ma soozy_och bertanya, “Masa kes ni akta kanak-kanak tak wujud ke? Ke sebab depa anak marhaen anak orang biasa. Akta kanak-kanak ni ter­pakai den­gan syarat ke? Atau anak VVIP saja boleh guna akta kanak-kanak?”

Per­tanyaan itu meny­oroti dugaan adanya per­lakuan berbe­da ter­hadap pelaku bul­ly­ing ter­gan­tung latar belakang kelu­ar­ga mere­ka. Pub­lik khawatir undang-undang hanya dite­gakkan secara tegas bila pelaku berasal dari kalan­gan biasa, sedan­gkan bila pelaku anak dari kalan­gan elite, per­lakuan bisa lebih lunak.

Komen­tar pub­lik lain­nya menun­tut transparan­si pros­es hukum. Seo­rang peng­gu­na berna­ma ermyzal­nazir­ul­musa mem­per­tanyakan perkem­ban­gan hukum ter­hadap para pelaku bul­ly­ing yang menye­babkan mening­gal­nya Nazmie Aiz­zat.

“Apa kesu­da­han pem­bu­li-pem­bu­li arwah Adik Nazmie tu? Sedang dihukum atau belum muk­ta­mad? Atau sepi?” tulis­nya, sam­bil meny­ing­gung per­an lem­ba­ga HAM Malaysia, SUHAKAM, apakah turut melin­dun­gi iden­ti­tas para pelaku.

Ada pula komen­tar dari ab.wahidbinnasir yang meni­lai keter­bukaan pub­lik pent­ing agar kasus seru­pa tidak terus beru­lang. “Apa yang takut san­gat untuk pendeda­han, kalau macam ini isu buli tak akan sudah­nya,” katanya.

Beber­a­pa peng­gu­na bahkan menyindir den­gan nada satir. chafix_akmal menulis, “Depa bukan cucu TYT (Tuan Yang Teruta­ma), memang jan­gan mimpi nak boleh pakai baju lokap ni…” Komen­tar itu mengisyaratkan bah­wa hanya mere­ka dari kalan­gan biasa yang akan merasakan keras­nya pros­es hukum.

  Oknum SPKT Polda Sumut Gelap Mata, Pungli 500 Ribu Rusak Wibawa Polri

Komen­tar lain seper­ti dari atan­pa­pa menye­but, “Ceri­ta antara dua dar­jat…” yang mem­perku­at sen­ti­men pub­lik soal adanya stan­dar gan­da hukum di Malaysia.

Semen­tara akun katak_katak_mimpi menut­up diskusi den­gan kali­mat keras: “Ini namanya undang-undang kayan­gan lain…” yang menggam­barkan keti­dakper­cayaan masyarakat ter­hadap kead­i­lan hukum yang berlaku bagi semua golon­gan.

Kasus perun­dun­gan, baik yang beru­jung pada hilangnya nyawa seper­ti pada almarhum Nazmie Aiz­zat maupun yang masih dalam ben­tuk anca­man dan penghi­naan seper­ti diala­mi Zara Qai­ri­na, kini men­ja­di sorotan luas. Pub­lik berharap aparat pene­gak hukum Malaysia tidak pan­dang bulu dalam menan­gani perkara ini.

Para aktivis juga mengin­gatkan bah­wa per­lin­dun­gan ter­hadap anak memang pent­ing, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk menu­tupi fak­ta atau menghin­dark­an pelaku dari pros­es hukum yang adil. Pene­gakan hukum yang transparan diyaki­ni dap­at mem­berikan efek jera ser­ta mence­gah teru­langnya kasus-kasus bul­ly­ing di lingkun­gan pen­didikan.

Masyarakat kini menung­gu langkah tegas dari pihak berwe­nang. Jika kasus ini ditan­gani secara setara tan­pa meman­dang sta­tus sosial, maka keper­cayaan pub­lik ter­hadap hukum dap­at pulih. Seba­liknya, jika ada kesan per­lin­dun­gan ter­hadap pelaku kare­na latar belakang ter­ten­tu, hal ini akan semakin mem­perku­at angga­pan bah­wa hukum di Malaysia tidak berlaku sama bagi semua orang.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *