SUKABUMI, JAWA BARAT — Kesenian tradisional Debus, warisan budaya Nusantara yang sarat nilai spiritual dan ketangguhan batin, kembali menarik perhatian publik melalui unggahan akun Facebook Kang Farhan Salakageni, yang mendokumentasikan sebuah pertunjukan Debus di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (14/1/2026).
Dalam unggahan tersebut, terlihat seorang pelaku Debus mempertontonkan atraksi cucuk duri pada tubuhnya di hadapan warga yang menyaksikan secara langsung.
Aksi dilakukan di ruang terbuka, dikelilingi masyarakat dan perlengkapan ritual sederhana, dengan suasana yang khidmat dan tertib.
Melalui narasi yang menyertai video, pengunggah menuliskan kutipan sebagai berikut.
“Cucuk duri melambangkan ujian dan rasa sakit kehidupan, sementara tubuh yang tetap tenang dan tidak terluka melambangkan kekuatan batin, keyakinan spiritual, serta disiplin lahir dan batin.”
Ia juga menegaskan bahwa Debus bukanlah pertunjukan untuk pamer kekuatan fisik semata. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam kutipan lain.
“Debus bukan untuk kesombongan, melainkan pengingat bahwa manusia kuat bukan karena tubuhnya, tetapi karena iman, ilmu, dan adabnya.”
Unggahan tersebut dilengkapi dengan tagar #DebusDuri,
#MangBangoShimakaruhun, #sunda, dan #DebusBanten, yang menandakan keterkaitan erat seni Debus dengan tradisi Sunda dan Banten sebagai akar budayanya.
Secara visual, video memperlihatkan praktik Debus sebagai seni pertunjukan yang dijalankan dengan tata cara tertentu, bukan aksi spontan tanpa makna. Para pelaku tampak menjaga sikap, konsentrasi, dan adab selama pertunjukan berlangsung, sementara penonton menyaksikan dengan penuh perhatian.
Debus sendiri dikenal sebagai seni budaya tradisional yang menggabungkan unsur olah tubuh, spiritualitas, dan disiplin batin, yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Hingga kini, Debus masih bertahan di tengah arus modernisasi sebagai simbol keteguhan nilai budaya lokal yang tidak lekang oleh zaman.
Unggahan dokumentasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesenian tradisional bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan nilai kehidupan, tentang kesabaran, keyakinan, dan pengendalian diri.
Penulis: (iskandar).













