Berita Daerah

Boat Terbalik di Mentawai: Satu Tewas, Satu Selamat

149
×

Boat Terbalik di Mentawai: Satu Tewas, Satu Selamat

Sebarkan artikel ini

Mentawai, Sumatera Barat – Tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban kecelakaan laut di perairan Mapadegat, Mentawai, setelah melakukan pencarian intensif selama dua hari. Peristiwa ini melibatkan dua orang korban yang berada di sebuah boat yang terbalik saat melintas di wilayah tersebut. Kejadian tersebut menjadi sorotan warga setempat dan netizen setelah diunggah di media sosial info_lintassumbar.

Menurut laporan dari akun tersebut, korban bernama David Hulu (44) ditemukan telah meninggal dunia oleh tim SAR gabungan, sementara satu korban lainnya, Candra (28), berhasil selamat dan kini mendapatkan perawatan medis di RSUD Mentawai. Foto dan cuplikan video yang beredar memperlihatkan tim penyelamat mengenakan seragam oranye dengan helm pelindung sedang mengevakuasi jasad korban ke atas kapal SAR bertuliskan “BASARNAS”.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, insiden ini terjadi ketika boat yang ditumpangi David Hulu dan Candra terbalik di perairan Mapadegat. Penyebab pasti boat terbalik belum dikonfirmasi secara resmi, tetapi dugaan awal menyebutkan faktor cuaca buruk dan gelombang tinggi sebagai pemicu.

Pencarian korban dimulai segera setelah laporan diterima oleh pihak SAR gabungan. Tim SAR yang terdiri dari Basarnas, aparat kepolisian, dan relawan lokal bekerja sama menyisir perairan menggunakan kapal penyelamat. Pada hari pertama pencarian, seorang pemancing lokal menemukan Candra yang berhasil bertahan hidup dengan berpegangan pada bagian boat yang mengapung. Pemancing tersebut menolongnya menggunakan sampan kecil dan segera melaporkan ke pihak berwenang.

  Kajati Aceh Ajak Insan Adhyaksa Perkuat Semangat Persatuan di Hari Sumpah Pemuda ke-97

Candra kemudian dibawa ke RSUD Mentawai untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, pencarian terhadap David Hulu terus dilakukan hingga akhirnya jasadnya ditemukan pada hari kedua. Temuan ini menutup pencarian yang melibatkan puluhan personel dan dukungan warga sekitar.

Dua orang korban dalam kecelakaan ini adalah: 1. Candra (28) – Selamat. Berhasil diselamatkan oleh seorang pemancing lokal. Saat ini masih dirawat di RSUD Mentawai untuk pemulihan kondisi fisik dan mental.

2. David Hulu (44) – Ditemukan meninggal dunia oleh tim SAR gabungan setelah pencarian selama dua hari.

Keduanya diketahui berasal dari komunitas nelayan lokal dan sering melaut di sekitar Mapadegat.

Evakuasi korban dilakukan dengan prosedur standar operasi penyelamatan. Dalam video yang beredar, terlihat tim SAR gabungan mengenakan peralatan lengkap, termasuk pelampung, helm pelindung, dan sarung tangan, saat mengangkat kantong jenazah korban dari kapal penyelamat. Kesigapan dan kerja sama tim SAR patut diapresiasi karena berhasil menemukan korban meski kondisi laut cukup menantang.

Kepala Basarnas Mentawai (nama belum disebutkan dalam unggahan) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya David Hulu. Ia juga mengingatkan para nelayan dan wisatawan untuk selalu memantau kondisi cuaca sebelum melaut, mengingat perairan Mentawai kerap mengalami gelombang tinggi.

  Wakil Bupati Ikuti Upacara Hari Otonomi Daerah Ke - XXIX Tahun 2025

Warga Mentawai dan warganet yang mengikuti unggahan ini di media sosial menyampaikan ucapan belasungkawa dan apresiasi kepada tim SAR. Banyak komentar menyoroti pentingnya peralatan keselamatan saat melaut. Beberapa warganet juga mengingatkan agar para nelayan menggunakan jaket pelampung dan memberi tahu keluarga sebelum berlayar.

Seorang warga setempat, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa perairan Mapadegat memang sering menjadi jalur favorit para nelayan. Namun, kondisi alam yang cepat berubah sering menimbulkan bahaya. “Gelombang bisa tiba-tiba tinggi, apalagi kalau ada perubahan cuaca mendadak. Nelayan harus lebih waspada,” ujarnya.

Perairan Mentawai dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas maritim yang tinggi, baik oleh nelayan lokal maupun wisatawan selancar. Namun, kondisi cuaca ekstrem dan gelombang besar kerap menimbulkan risiko kecelakaan. Kasus boat terbalik seperti yang dialami David Hulu dan Candra bukan kali pertama terjadi di wilayah ini.

Menurut data Basarnas Sumatera Barat (berdasarkan laporan-laporan sebelumnya), wilayah Mentawai termasuk dalam area rawan kecelakaan laut, terutama pada musim angin barat dan timur. Nelayan diimbau untuk selalu membawa alat komunikasi darurat, pelampung, dan memeriksa prakiraan cuaca sebelum berangkat.

Hingga berita ini ditulis, pihak Basarnas Mentawai belum merilis pernyataan resmi mengenai penyebab pasti boat terbalik. Namun, mereka menegaskan bahwa investigasi internal dan koordinasi dengan kepolisian setempat akan dilakukan. Pemerintah daerah juga diharapkan mengambil langkah-langkah pencegahan lebih lanjut, termasuk memberikan edukasi keselamatan laut bagi masyarakat pesisir.

  Supir Mobil Tangki Akui Diperintah Rajali Purba Kades Silau Padang Buang Limbah Ilegal Diduga Milik PT TSP Ke Lahan Warga

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat pesisir dan komunitas nelayan tentang pentingnya keselamatan di laut. Kejadian tragis ini juga menggugah simpati publik, dengan banyak pihak menyerukan peningkatan kesadaran akan risiko maritim.

Selain itu, insiden ini memunculkan solidaritas sosial. Beberapa komunitas lokal di Mentawai disebutkan telah menggalang bantuan untuk keluarga korban David Hulu. Meski belum ada rincian resmi mengenai dukungan yang diberikan, langkah ini menunjukkan kebersamaan warga dalam menghadapi musibah.

Tragedi boat terbalik di Mentawai ini menjadi pengingat nyata bahwa keselamatan laut harus menjadi prioritas utama. Keberhasilan penyelamatan Candra menunjukkan pentingnya respons cepat masyarakat dan koordinasi tim SAR. Namun, kehilangan David Hulu juga mempertegas bahaya yang dihadapi para nelayan.

Dengan meningkatnya aktivitas di perairan Mentawai, baik untuk kebutuhan ekonomi maupun pariwisata, para pihak terkait diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini, memberikan edukasi, dan memastikan peralatan keselamatan tersedia bagi semua pihak yang beraktivitas di laut. Masyarakat pesisir juga diimbau untuk selalu berhati-hati, memantau prakiraan cuaca, dan membawa peralatan keselamatan untuk menghindari tragedi serupa di masa mendatang. (Ahm/abd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *