Berita Ekonomi

Beras Aceh Mengalir ke Sumut, Harga di Daerah Sendiri Meroket

229
×

Beras Aceh Mengalir ke Sumut, Harga di Daerah Sendiri Meroket

Sebarkan artikel ini

Aceh, SniperNew.id — Pada 10 Agus­tus 2025, Sebanyak 4.000 ton beras dikir­imkan oleh Perum Bulog Aceh ke Sumat­era Utara untuk mem­perku­at stok pan­gan di wilayah terse­but. Diku­tip Senin (11/08) pada rilis yang di share oleh salah satu anggota grup What­sApp media onlin berna­ma “Kita Satu Pena” den­gan no What­sApp (0823610101XX). Namun, di sisi lain, har­ga beras di Aceh sendiri jus­tru merangkak naik dalam beber­a­pa ming­gu ter­akhir, memicu per­tanyaan pub­lik terkait pri­or­i­tas dis­tribusi pan­gan daer­ah.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumat­era Utara, Budi Cahyan­to, mem­be­narkan adanya pasokan besar terse­but. “Kami men­da­p­atkan 4.000 ton beras yang dikir­im oleh Bulog Aceh,” ujarnya seper­ti diku­tip dari Antara, Ming­gu (10/8/2025). Menu­rut­nya, tam­ba­han stok ini dihara­p­kan mam­pu men­sta­bilkan pasokan beras di Sumat­era Utara, khusus­nya meng­hadapi poten­si lon­jakan kebu­tuhan men­je­lang akhir tahun.

Beras yang dikir­im ini dike­tahui meru­pakan bagian dari cadan­gan pemer­in­tah yang dikelo­la Bulog. Di Sumat­era Utara, stok beras dise­but masih aman, namun tam­ba­han suplai dari Aceh akan mem­perku­at keta­hanan pan­gan daer­ah terse­but dalam jang­ka menen­gah.

Iro­nis­nya, mes­ki mam­pu mema­sok ribuan ton beras ke provin­si tetang­ga, Aceh sendiri sedang meng­hadapi kenaikan har­ga beras dalam satu bulan ter­akhir. Sejum­lah peda­gang dan kon­sumen di pasar tra­di­sion­al men­geluhkan kenaikan har­ga yang dini­lai cukup sig­nifikan.

  Terpal Jadi Alas Rezeki: Kisah Ibu-Ibu Hebat Penjual Bumbu yang Tak Kenal Lelah di Pasar Taji

Berdasarkan pan­tauan di beber­a­pa pasar di Ban­da Aceh, har­ga beras medi­um yang sebelum­nya bera­da di kisaran Rp12.000–Rp13.000 per kilo­gram kini naik men­ja­di Rp13.500–Rp14.000 per kilo­gram. Semen­tara beras pre­mi­um bahkan men­em­bus Rp16.000 per kilo­gram.

Para peda­gang menu­turkan, kenaikan har­ga dipicu oleh ter­batas­nya pasokan dari petani lokal dan meningkat­nya biaya dis­tribusi. Namun, pen­gi­r­i­man ribuan ton beras ke luar daer­ah dise­but-sebut turut mem­per­ke­tat stok di pasar lokal.

Seo­rang peda­gang beras di Pasar Peu­nay­ong, Zulk­i­fli, men­gatakan bah­wa stok beras di gudang-gudang kecil mulai menip­is. “Kami her­an, di Aceh har­ga naik, tapi malah kir­im beras ke luar. Mestinya kebu­tuhan kita dulu yang dipenuhi,” keluh­nya.

Kebi­jakan Bulog Aceh ini men­u­ai beragam respons. Seba­gian pihak mem­per­tanyakan apakah langkah terse­but sudah tepat di ten­gah kon­disi har­ga yang tidak terk­endali.

“Bulog seharus­nya mem­pri­or­i­taskan keterse­di­aan pan­gan untuk daer­ah sendiri sebelum men­gir­imkan ke luar. Apala­gi saat ini har­ga sedang ting­gi, masyarakat ten­tu akan merasa ter­be­bani,” ujar Rasyid, seo­rang pemer­hati ekono­mi pan­gan Aceh.

Ia menam­bahkan, jika pasokan beras di Aceh berku­rang aki­bat pen­gi­r­i­man ke provin­si lain, dikhawatirkan inflasi pan­gan akan semakin mem­be­bani masyarakat. “Kita paham ada ker­ja sama antar­wilayah, tapi jan­gan sam­pai daer­ah sendiri jus­tru keku­ran­gan,” ujarnya.

  Gubernur Sulut Dorong UMKM dan Pariwisata Berkembang Melalui Program Pro Rakyat

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, Bulog Aceh belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait alasan tek­nis di balik pen­gi­r­i­man besar ini. Namun, dalam mekanisme nasion­al, Bulog berper­an mendis­tribusikan beras antar­wilayah sesuai instruk­si pusat, teruta­ma untuk men­ja­ga kese­im­ban­gan stok nasion­al.

Kebi­jakan ini biasanya mem­per­tim­bangkan keterse­di­aan stok di gudang Bulog, kebu­tuhan daer­ah, ser­ta kon­disi har­ga di pasar. Dalam banyak kasus, pen­gi­r­i­man antarprovin­si dilakukan untuk men­gan­tisi­pasi kelangkaan di wilayah ter­ten­tu, meskipun hal itu bisa memicu perde­batan jika daer­ah pen­gir­im sendiri sedang men­gala­mi kenaikan har­ga.

Bagi masyarakat Aceh, kenaikan har­ga beras men­ja­di puku­lan gan­da di ten­gah situ­asi ekono­mi yang belum sepenuh­nya pulih. Seba­gai makanan pokok, beras memi­li­ki por­si besar dalam pen­gelu­aran rumah tang­ga.

Nurhay­ati, ibu rumah tang­ga di Lhok­se­u­mawe, men­gaku ter­pak­sa men­gu­ran­gi pem­be­lian beras pre­mi­um kare­na har­ganya sudah ter­lalu ting­gi. “Dulu kami pakai beras yang bagus, sekarang ter­pak­sa turun ke kual­i­tas sedang. Kalau tidak begi­tu, belan­ja bulanan tidak cukup,” ujarnya.

Kenaikan har­ga beras juga memen­garuhi peda­gang kulin­er. Beber­a­pa warung makan dan pen­jual nasi di Ban­da Aceh men­gaku harus menye­suaikan har­ga jual atau men­gu­ran­gi por­si nasi untuk mengim­ban­gi biaya pro­duk­si.

Penga­mat kebi­jakan pub­lik, Dr. M. Yusuf, meni­lai per­lun­ya eval­u­asi kebi­jakan dis­tribusi pan­gan oleh pemer­in­tah daer­ah dan Bulog. “Pen­gi­r­i­man ke provin­si lain sah-sah saja jika stok daer­ah men­cukupi. Namun jika di lapan­gan har­ga naik dan stok ter­batas, itu artinya ada masalah dalam peren­canaan dis­tribusi,” tegas­nya.

  Waspada Aplikasi Penghasil Uang "KREDIT dan CASHBAC", Apahah Benar Membayar?

Ia men­yarankan pemer­in­tah Aceh segera melakukan koor­di­nasi den­gan Bulog untuk memas­tikan pasokan lokal tetap aman. Selain itu, per­lu ada upaya menekan har­ga, seper­ti operasi pasar murah atau penyalu­ran cadan­gan beras pemer­in­tah lang­sung ke masyarakat.

Masyarakat berharap agar pemer­in­tah daer­ah bersama Bulog segera mengam­bil langkah nya­ta. Operasi pasar men­ja­di salah satu opsi yang dinan­tikan untuk menekan har­ga beras di pasar tra­di­sion­al.

Selain itu, petani lokal di Aceh juga mem­inta adanya dukun­gan agar pro­duk­si mere­ka bisa lebih opti­mal. Den­gan pen­ingkatan pro­duk­si, dihara­p­kan stok beras lokal bisa men­cukupi kebu­tuhan sendiri sekali­gus mem­ban­tu daer­ah lain tan­pa men­gor­bankan kepentin­gan masyarakat Aceh.

Bagi seba­gian war­ga, per­soalan ini bukan sekadar soal dis­tribusi, melainkan soal rasa kead­i­lan. “Kalau memang kita mam­pu kir­im beras kelu­ar, pastikan dulu raky­at Aceh tidak men­jer­it kare­na har­ga mahal. Baru sete­lah itu berba­gi den­gan provin­si lain,” pungkas Rasyid.

Kasus pen­gi­r­i­man 4.000 ton beras dari Aceh ke Sumat­era Utara di ten­gah kenaikan har­ga beras di Aceh menun­jukkan per­lun­ya koor­di­nasi yang lebih matang antara Bulog, pemer­in­tah daer­ah, dan pemangku kebi­jakan pan­gan. Pri­or­i­tas kebu­tuhan lokal harus men­ja­di per­tim­ban­gan uta­ma agar kebi­jakan dis­tribusi tidak menim­bulkan gejo­lak har­ga dan kere­sa­han masyarakat.

Den­gan pen­gelo­laan stok yang lebih terukur, dihara­p­kan Aceh bisa memenuhi kebu­tuhan war­ganya sekali­gus tetap berkon­tribusi pada keta­hanan pan­gan nasion­al tan­pa men­gor­bankan kepentin­gan lokal. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *