Pekanbaru, SniperNew.id – Unggahan seorang warganet asal Nigeria, Buchi Laba, kembali memantik diskusi luas mengenai praktik perbankan di negaranya. Melalui akun media sosial X (Twitter), ia menyuarakan keresahan terhadap biaya layanan bank yang dinilai memberatkan masyarakat, terutama dalam transaksi pengiriman maupun penerimaan uang, Senin (18/08/2025).
Dalam cuitannya, Buchi menyoroti fenomena yang menurutnya tidak masuk akal: nasabah dikenakan biaya saat mengirim uang, dan penerima juga tetap harus membayar biaya tambahan.
“We Nigerians are just loud and proud for Nothing. We are entitled to what celebrities|influencers do that’s not our Business because how can NIGERIA BANKS be charging us for sending money and receiving Money! HOW!” tulisnya dengan nada geram.
Lebih lanjut, ia mencontohkan situasi sehari-hari. Saat seseorang mengirim uang sebesar 10 ribu naira, penerima dikenakan biaya sekitar 50 naira, sementara pengirim juga dipotong 25 naira. “Bagaimana hal ini bisa masuk akal? Mengapa kita tidak menantang kebijakan seperti ini?” tambahnya.
Buchi juga menegaskan bahwa sektor perbankan di Nigeria menjadi salah satu yang terkaya karena memanfaatkan kondisi tersebut. Menurutnya, bank memperoleh miliaran naira setiap hari dari pungutan yang disebutnya sebagai “false charges”. Ia bahkan menuding bahwa bank sering berlindung di balik aturan bank sentral, padahal praktiknya jelas merugikan masyarakat. “The Banking sector in Nigeria is the richest because we are their confirmed mugus and the most corrupt! This guys can take in Billions of Naira Daily from False charges. They will quote one useless Central bank law like what they’re doing is right!” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menyoroti kesenjangan sosial yang semakin tajam. Di tengah kondisi ekonomi sulit, ketika banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, beban tambahan dari bank menurutnya adalah bentuk ketidakadilan yang nyata.
Unggahan Buchi Laba tersebut langsung menuai beragam tanggapan dari warganet. Banyak di antaranya memberikan dukungan, mengakui bahwa masalah biaya bank telah menjadi keluhan publik sejak lama.
Seorang pengguna bernama Ugolibra menuliskan. “Very annoying set of people. At the end of the month, they still charge you.. they are the real yahoo boys.”
Komentar ini menyiratkan bahwa masyarakat menganggap bank sebagai “pelaku penipuan yang sah”, karena pungutan biaya yang terus-menerus terjadi tanpa kejelasan.
Senada dengan itu, Samuel (@Adesopesam264) menyatakan bahwa masalah ini dapat terus berlangsung karena masyarakat lebih banyak menyalurkan energi pada hal-hal sepele ketimbang masalah mendasar. “Honestly, a lot of things that these institutions get away with is because we are gullible to channel our energies on things that do not concern us. But when we see day light robbery, we passively allow it. Even when we’re the victims. I wonder Nigeria’s fate,” tulisnya.
Ada pula komentar dari akun bernama SAMUEL YNWA yang menekankan bahwa banyak orang justru lebih suka mengkritik hal-hal tidak penting daripada berbicara tentang sistem yang merugikan. “This country is just messed up in so many ways and so many people that are supposed to speak against this system don’t rather they speak against those things that do not give value to the people at all.”
Meski mayoritas komentar mendukung, ada pula tanggapan yang bernuansa kritik terhadap Buchi. Seorang pengguna bernama Terminal mengatakan, “I have never seen you saying a good thing about your roots.” Artinya, sebagian warganet menilai Buchi terlalu sering menyoroti hal-hal negatif tentang negaranya.
Sementara itu, akun lain dengan nama Forza Cimbom menuliskan secara ringan. “I don’t really know the topic, but whatever you say must be right-because we love Osimhen!”
Diskusi panjang ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan di Nigeria. Biaya transfer yang dianggap tidak masuk akal menjadi simbol ketidakpuasan lebih luas terhadap lembaga keuangan.
Pakar ekonomi menilai, biaya layanan perbankan memang dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan operasional, namun jika tarif terlalu tinggi tanpa transparansi, publik akan melihatnya sebagai bentuk perampasan. Kondisi ini juga dapat memicu meningkatnya penggunaan jalur keuangan informal yang justru berisiko bagi stabilitas sistem keuangan.
Bagi masyarakat yang hidup dalam tekanan ekonomi, potongan kecil sekalipun terasa berat. Ketika setiap transaksi dikenakan biaya ganda-baik untuk pengirim maupun penerima -dampaknya semakin signifikan.
Dari rangkaian komentar, jelas terlihat bahwa warga Nigeria menginginkan transparansi dan keadilan lebih besar dalam sistem perbankan. Sebagian menilai pemerintah dan bank sentral perlu meninjau ulang regulasi agar nasabah tidak merasa dieksploitasi.
Wacana reformasi sektor perbankan bukanlah hal baru. Namun, tekanan publik seperti yang muncul dalam diskusi ini dapat menjadi momentum untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat.
Di akhir perdebatan, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah suara publik akan cukup kuat untuk mengubah sistem yang sudah mengakar?
Kontroversi yang dipicu oleh cuitan Buchi Laba hanyalah satu dari sekian banyak suara ketidakpuasan masyarakat Nigeria terhadap lembaga keuangan. Di tengah kondisi ekonomi sulit, isu biaya transfer bank bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga menyangkut keadilan sosial.
Suara-suara dari warganet memperlihatkan bahwa masyarakat mulai lelah dengan beban biaya yang dinilai tidak wajar. Apabila aspirasi ini terus diperjuangkan, bukan tidak mungkin akan terjadi perubahan kebijakan. Namun, jika tetap dibiarkan, keresahan publik bisa berkembang menjadi ketidakpercayaan yang lebih dalam terhadap sistem perbankan negara tersebut.
Editor: (Ahmad).












