Barito Utara, SniperNew.id — Suasana penuh sukacita dan semangat kebersamaan terasa di halaman Gereja Imanuel, Jalan Pendreh, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara. Selama dua hari, sejak 4 hingga 5 September 2025, sebanyak 201 remaja dari berbagai majelis resort di Muara Teweh dan Puruk Cahu mengikuti Bible Camp SPRP Gereja Kalimantan Evangelis (GKE).
Kegiatan ini menjadi momentum berharga bagi generasi muda gereja untuk memperdalam iman, menumbuhkan solidaritas, sekaligus memperluas wawasan hidup bermasyarakat.
Sejak hari pertama, antusiasme peserta sudah terlihat jelas. Ratusan remaja datang dengan penuh semangat, mengenakan atribut kelompok mereka masing-masing. Mereka terbagi ke dalam sepuluh kelompok yang menggunakan nama para rasul, yakni Simon, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Tomas, Matius, Petrus, dan Tadeus.
Setiap kelompok memiliki yel-yel dan simbol kebersamaan, menambah warna dalam jalannya kegiatan. Riuh semangat yel-yel terdengar bersahut-sahutan, menciptakan suasana hangat dan penuh energi positif.
Ketua Panitia, Velo Febrianto, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur mendalam atas terselenggaranya acara tersebut. Ia menekankan bahwa dukungan dari berbagai pihak, baik donatur maupun panitia, menjadi kunci utama keberhasilan Bible Camp tahun ini.
“Puji syukur kepada Tuhan Yesus, karena dana yang terkumpul bahkan melebihi anggaran. Terima kasih untuk semangat peserta dan kerja keras 17 pembina yang mendampingi 201 remaja dari berbagai majelis. Semangat adik-adik SPRP membuat acara ini semakin hidup,” ujarnya penuh haru.
Menurutnya, persiapan kegiatan sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu dengan melibatkan seluruh panitia. Hasilnya, kegiatan tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang terlibat.
Acara pembukaan Bible Camp dilakukan oleh Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Resort GKE Muara Teweh, Pdt. Edianto, S.Th. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rohani, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan kebersamaan.
“Kegiatan ini sangat positif, melatih kerja sama, memperkuat kekompakan, serta menjadi ajang silaturahmi dan bertukar pemikiran antarremaja gereja. Harapannya, pengalaman ini bisa diaplikasikan di tengah masyarakat luas,” ungkapnya.
Pesan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Banyak remaja yang mengaku terinspirasi untuk lebih aktif dalam kegiatan pelayanan gereja maupun aktivitas sosial di lingkungan tempat tinggal mereka.
Selama dua hari, peserta tidak hanya mendapat pembinaan iman melalui renungan, doa bersama, dan diskusi Alkitab, tetapi juga pembekalan wawasan yang relevan dengan kehidupan remaja.
Polres Barito Utara turut hadir sebagai narasumber dengan menyampaikan materi mengenai disiplin berlalu lintas, bahaya narkoba, serta kesehatan reproduksi. Penyampaian materi ini dilakukan secara interaktif sehingga peserta bisa lebih mudah memahami.
“Materi dari Polres sangat bermanfaat. Saya jadi lebih mengerti tentang bahaya narkoba dan pentingnya menjaga diri sejak muda,” ungkap Melisa, salah seorang peserta dari Majelis Resort Puruk Cahu.
Selain itu, ada pula sesi konseling rohani yang memberikan ruang bagi remaja untuk berbagi pengalaman dan pergumulan hidup mereka. Kehadiran pembina membuat suasana semakin akrab dan penuh kehangatan.
Salah satu momen paling ditunggu adalah acara penyalaan api unggun pada malam kedua. Halaman Gereja Imanuel dipenuhi ratusan remaja yang duduk melingkar sambil menyanyikan lagu rohani dan yel-yel kebersamaan.
Api unggun yang menyala menjadi simbol kobaran semangat iman dan persaudaraan. Suasana haru sekaligus penuh kegembiraan tercipta ketika setiap kelompok menampilkan kreativitas melalui drama singkat, lagu, dan tarian.
“Api unggun malam ini mengingatkan kita bahwa iman harus terus menyala, sama seperti api yang tidak boleh padam. Inilah kebersamaan yang harus kita jaga,” tutur salah seorang pembina, Yohana.
Bible Camp kali ini dinilai berhasil memberikan pengalaman berharga bagi para peserta. Selain mengasah iman, kegiatan ini juga melatih kemandirian, disiplin, serta kemampuan bekerja sama dalam kelompok.
Menurut salah seorang pembina, tantangan generasi muda saat ini tidak hanya soal teknologi dan pergaulan, tetapi juga bagaimana mereka tetap menjaga nilai iman di tengah perubahan zaman. Melalui kegiatan seperti ini, remaja diajak untuk menemukan jati diri dan memperkuat fondasi rohani mereka.
Beberapa peserta mengaku sangat terkesan dengan jalannya Bible Camp.
“Saya senang bisa ikut. Selain mendapat banyak teman baru, saya juga belajar hal-hal penting tentang hidup sehat, tertib lalu lintas, dan bahaya narkoba. Ini pengalaman yang tidak terlupakan,” kata Andi, peserta dari kelompok Yakobus.
Sementara itu, peserta lainnya, Lidia dari kelompok Matius, menuturkan bahwa ia merasa semakin dekat dengan Tuhan. “Saya merasa iman saya bertambah kuat setelah ikut renungan dan doa bersama. Api unggun juga membuat saya merasa benar-benar bersatu dengan teman-teman,” ucapnya dengan senyum lebar.
Kegiatan Bible Camp SPRP GKE Muara Teweh diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang terus dilaksanakan setiap tahun. Panitia juga berharap kegiatan serupa bisa digelar di tempat lain agar semakin banyak remaja yang merasakan manfaatnya.
“Bible Camp ini adalah investasi rohani untuk generasi muda gereja. Dari sinilah lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang beriman teguh dan memiliki kepedulian sosial tinggi,” kata Velo Febrianto.
Dua hari yang penuh sukacita di Gereja Imanuel Muara Teweh berakhir dengan doa penutup dan pelukan kebersamaan. Para peserta pulang membawa pengalaman berharga, iman yang semakin kokoh, serta persaudaraan yang erat.
Api unggun yang sempat menyala kini memang padam, tetapi semangat yang berkobar di hati 201 remaja tersebut diyakini akan terus hidup dan menjadi terang bagi sesama.
Penulis/Editor: (Henryanus)



















